Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #1

Prolog

Langit Seoul di penghujung musim gugur tampak membentang luas, berwarna biru kelabu yang perlahan memudar menjadi jingga pucat saat matahari mulai merunduk di balik deretan gedung pencakar langit. Angin dingin berhembus pelan, membawa aroma khas kota besar—campuran bau aspal yang masih hangat, asap kendaraan, dan samar-samar wangi daun gugur yang berjatuhan menutupi trotoar. Bagi sebagian orang, pemandangan ini adalah simbol kemewahan, kesuksesan, dan impian yang terwujud. Namun bagi Nayla, wanita berusia dua puluh sembilan tahun yang sedang berdiri termenung di tepi jendela apartemennya, langit yang sama terasa sekaligus indah dan menyesakkan.

Sejak lima tahun silam, ia meninggalkan tanah kelahirannya di Indonesia, meninggalkan segala kenangan yang tersisa, demi meraih pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik. Sebagai anak yatim piatu yang kehilangan kedua orang tuanya sejak usia dua belas tahun, Nayla telah terbiasa berjalan seorang diri. Ia belajar bahwa dunia tidak selalu ramah, dan satu-satunya pegangan yang tidak pernah goyah adalah iman yang ditanamkan orang tuanya sebelum mereka pergi. Bagi Nayla, iman bukan sekadar serangkaian aturan atau rutinitas ibadah. Ia adalah nafas, kompas hidup, dan benteng pertahanan di tengah badai kesendirian. Di negeri orang ini, di mana budaya, bahasa, dan cara pandang hidup terasa begitu asing, imanlah yang membuatnya tetap merasa memiliki rumah.

“Kau melamun lagi, La?”

Suara lembut itu memecah kesunyian. Nayla menoleh dan melihat Sari Wijaya, teman sekamarnya sekaligus sahabat yang juga seorang perantau, sedang meletakkan dua cangkir teh hangat di meja kecil. Sari mengenalnya dengan baik—ia tahu di balik senyum ramah Nayla sering tersembunyi kerinduan yang mendalam akan tanah air, dan kekhawatiran akan masa depan yang sering kali terasa samar.

“Sedang memandang langit, Ri,” jawab Nayla pelan, kembali menatap ke luar jendela. “Terasa luas, tapi kadang terasa juga ada batas yang tak terlihat.”

Sari duduk di sampingnya, menyerahkan cangkir teh. “Semua tempat punya batas, La. Termasuk hati kita sendiri. Tapi yang penting, kita tahu di mana kita berpijak.”

Kata-kata Sari menggelitik hati Nayla. Ia tahu sahabatnya itu benar. Selama ini, ia berusaha hidup seimbang: bekerja dengan giat di kantor tempat ia bertemu dengan rekan kerja seperti Budi Santoso yang selalu memberikan pandangan objektif, melanjutkan studi di mana ia sering berkonsultasi dengan Ibu Rina Amara, penasihat konseling yang bijaksana, dan sesekali melepas rindu dengan mengunjungi toko makanan milik Ibu Kartika Dewi atau bertemu teman lama seperti Dimas Pratama yang sesekali datang berkunjung. Ia merasa damai, setidaknya sampai saat ini.

Namun takdir sering kali memiliki rencana yang tidak terduga. Di kota sebesar Seoul, di mana jutaan orang berpapasan setiap hari, ada satu pertemuan yang akan mengubah segalanya.

 

Di sisi lain kota, di sebuah kantor yang terletak di distrik bisnis yang sibuk, Ju Ji Hoon sedang duduk di balik meja kerjanya. Jam di dinding menunjukkan pukul enam sore, namun ruangan itu masih terang benderang. Di usianya yang ke-39 tahun, Ji Hoon telah membangun namanya sendiri sebagai arsitek yang disegani. Wajahnya yang tampan namun sering kali terlihat serius menyimpan kisah panjang perjuangan. Sama seperti Nayla, ia juga seorang yatim piatu. Ia kehilangan orang tuanya dalam sebuah kecelakaan ketika ia masih remaja, meninggalkannya untuk berjuang sendirian di dunia yang keras.

Ji Hoon tumbuh dengan nilai-nilai yang diajarkan kakeknya: menghormati orang lain, bekerja keras, dan menerima takdir apa pun yang datang. Ia memiliki pandangan hidup yang terbuka, sering kali merenungkan makna keberadaan, namun ia tidak terikat pada satu aliran keyakinan yang kaku. Baginya, kebaikan hati dan kejujuran adalah hal yang paling utama. Sejak muda, ia belajar untuk tidak menghakimi orang lain hanya karena berbeda cara pandang.

“Masih belum pulang, Ji Hoon?”

Suara Park Min Woo, rekan kerja sekaligus teman dekatnya, terdengar dari ambang pintu. Ji Hoon mengangkat wajah, tersenyum tipis.

“Sebentar lagi, Min Woo. Mau menyelesaikan sketsa ini dulu.”

“Jangan terlalu memaksakan diri. Besok masih ada waktu. Kau juga butuh istirahat,” kata Min Woo sambil berjalan mendekat. “Ngomong-ngomong, kau terlihat berbeda belakangan ini. Seolah ada yang sedang kau pikirkan berat.”

Ji Hoon menghela nafas panjang, meletakkan pensilnya. “Entahlah. Mungkin terlalu banyak pekerjaan. Atau mungkin… terlalu banyak kesunyian.”

Min Woo mengangguk mengerti. Ia tahu masa lalu temannya itu. “Kau tidak harus selalu sendiri, Ji Hoon. Kim Soo Jin sering bertanya kabarmu. Dia khawatir kau terlalu mengurung diri. Atau mungkin kau butuh suasana baru? Kita bisa minum kopi di kafe milik Ibu Lee Eun Hee, tempat yang sering kau kunjungi itu.”

“Sebenarnya aku berencana ke sana sekarang,” jawab Ji Hoon sambil membereskan barang-barangnya. “Suasananya tenang, dan kopinya selalu menenangkan pikiran.”

Mereka berdua keluar dari kantor. Min Woo berpisah di persimpangan jalan, sementara Ji Hoon berjalan kaki menuju kafe kecil yang terletak di sudut jalan yang agak sepi namun nyaman. Tempat itu milik Lee Eun Hee, seorang wanita paruh baya yang ramah dan selalu menyambut setiap pengunjung seperti keluarga sendiri.

Lihat selengkapnya