Langit Seoul pagi itu tampak diselimuti kabut tipis yang perlahan menyapu permukaan gedung-gedung tinggi. Udara terasa sejuk, menyentuh kulit dengan kelembapan khas kota yang baru saja melewati musim hujan. Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin terasa biasa saja, namun bagi Nayla—yang baru saja menginjakkan kakinya di tanah Korea Selatan tiga hari yang lalu—setiap sudut kota ini terasa penuh makna dan ketidakpastian. Di usianya yang ke-29 tahun, ia meninggalkan segala yang ia kenal di Indonesia: kenangan masa kecil, makam kedua orang tuanya, dan kenyamanan rumah yang sederhana namun hangat. Semua ia lakukan demi meraih kesempatan bekerja di sebuah perusahaan internasional yang bergerak di bidang manajemen proyek, sekaligus melanjutkan pendidikan magister yang telah lama ia impikan.
Nayla berdiri di depan jendela apartemen kecil yang akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun ke depan. Di tangannya, ia memegang sebuah foto usang yang menampilkan kedua orang tuanya tersenyum lebar. Sejak usia dua belas tahun, ketika sebuah kecelakaan lalu lintas merenggut mereka berdua, foto itu menjadi salah satu peninggalan paling berharga yang ia miliki. Sebagai anak yatim piatu, ia tumbuh dengan didikan yang teguh: iman adalah benteng, dan prinsip adalah kompas yang tidak boleh disimpangkan, apa pun yang terjadi. Di negeri orang ini, di mana bahasa, budaya, dan cara pandang hidup terasa begitu asing, ia tahu bahwa satu-satunya hal yang tidak akan pernah berubah adalah keyakinan yang telah mengakar kuat di hatinya.
“Masih terjaga sejak pagi buta, La?”
Suara lembut memecah kesunyian. Nayla menoleh dan melihat Sari Wijaya, teman sekamarnya yang juga seorang perantau dari Jawa Tengah, sedang berjalan mendekat sambil membawa dua cangkir teh hangat. Sari berusia dua tahun lebih tua darinya, telah tinggal di Seoul selama empat tahun, dan dengan senang hati bersedia berbagi tempat tinggalnya agar Nayla tidak perlu kesulitan mencari apartemen sendirian. Sejak pertama kali berkenalan, Nayla merasa nyaman dengan Sari. Wanita itu ramah, terbuka, dan selalu memiliki cara untuk menenangkan kegelisahan orang lain.
“Tidak bisa tidur nyenyak, Ri. Terlalu banyak hal yang terasa asing,” jawab Nayla sambil menerima cangkir teh itu. “Rasanya seperti bermimpi, tapi di saat yang sama terasa berat.”
Sari tersenyum sambil duduk di kursi di sampingnya. “Itu wajar. Aku juga merasakannya saat pertama kali tiba. Kota ini indah, tapi dingin—bukan hanya suhunya, tapi juga cara orang-orangnya hidup. Mereka disiplin, teratur, tapi jarang terbuka secepat orang Indonesia. Tapi pelan-pelan kau akan terbiasa. Lagipula, kita tidak sendirian di sini.”
Nayla mengangguk pelan. Ia tahu Sari benar. Selama ini, ia telah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin: belajar bahasa Korea secara otodidak, mempelajari adat istiadat setempat, dan memastikan bahwa ia dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang meski berada jauh dari tanah air. Namun, persiapan di atas kertas ternyata berbeda dengan kenyataan yang dihadapi secara langsung. Ada ketakutan samar yang menyelinap di hatinya—ketakutan akan gagal, ketakutan akan kesepian, dan ketakutan bahwa ia mungkin akan tergoda untuk mengubah sedikit saja prinsipnya demi memudahkan hidup di lingkungan baru ini.
“Kau mulai bekerja besok, kan?” tanya Sari, mengalihkan pikiran Nayla.
“Iya. Di kantor pusat perusahaan itu. Aku harap aku bisa menyesuaikan diri dengan cepat.”
“Tentu bisa. Aku pernah mendengar ada rekan kerja orang Indonesia di sana, namanya Budi Santoso. Orangnya baik, katanya. Mungkin dia bisa membantumu beradaptasi di awal.”
Nayla merasa sedikit lega mendengarnya. Memiliki sesama orang sebangsa di tempat kerja pasti akan sangat membantu. Setelah menghabiskan waktu sejenak berbincang, Nayla memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Ia ingin mengenal jalan-jalan utama dan mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat sekaligus membiasakan diri dengan suasana sekitar. Dengan berpakaian sopan dan kerudung yang rapi menutupi kepalanya, ia melangkah keluar apartemen.
Jalanan masih sepi meski matahari sudah mulai terbit. Beberapa orang terlihat berjalan cepat menuju stasiun kereta bawah tanah, wajah mereka tampak serius dan sibuk. Di sepanjang trotoar, pohon-pohon berbaris rapi, menciptakan bayangan yang teduh. Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, matanya tertuju pada sebuah bangunan kecil yang tampak nyaman di sudut persimpangan jalan. Di depannya tergantung papan nama yang tertulis “Kafe Eun Hee” dengan tulisan yang indah. Aroma harum kopi dan kue yang baru dipanggang tercium hingga ke luar, mengundang siapa saja yang lewat untuk singgah.
Dengan hati-hati, Nayla membuka pintu kafe itu. Bel kecil di atas pintu berbunyi nyaring, dan segera seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah menyambutnya dari balik meja kasir.
“Selamat pagi,” sapa wanita itu dalam bahasa Korea yang sopan.
“Selamat pagi,” jawab Nayla sekuat kemampuannya, lalu menambahkan dalam bahasa Inggris, “Bolehkah saya duduk sebentar?”
“Tentu saja. Silakan pilih tempat yang kosong,” jawab wanita itu—yang kemudian Nayla ketahui bernama Lee Eun Hee, pemilik kafe tersebut.