Pagi kedua Nayla di Seoul terasa lebih teratur. Kabut tipis yang menyelimuti kota sehari sebelumnya telah hilang, digantikan oleh sinar matahari yang cerah namun tetap terasa sejuk menyentuh kulit. Dengan hati yang sedikit lebih tenang, Nayla bersiap untuk hari pertamanya bekerja di kantor pusat perusahaan tempat ia diterima. Ia mengenakan pakaian kerja yang sopan dan rapi, memastikan kerudungnya terpasang dengan baik, lalu menyiapkan bekal makanan dan perlengkapan kerjanya.
Sari Wijaya yang sudah siap berangkat lebih dulu menoleh dan tersenyum melihat sahabatnya itu. “Sudah siap? Jangan gugup ya. Kantornya besar, tapi orang-orangnya umumnya profesional. Kalau ada yang bingung, tanya saja Budi Santoso. Aku sudah kirim pesan padanya kemarin, dia sudah tahu kau akan datang hari ini.”
“Terima kasih, Ri. Aku berusaha tenang,” jawab Nayla sambil menarik napas panjang. “Semoga semuanya berjalan lancar.”
Perjalanan menuju kantor memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan kereta bawah tanah. Di dalam gerbong yang cukup padat, Nayla mengamati sekelilingnya—orang-orang dengan wajah yang serius, sebagian besar sibuk dengan ponsel atau buku bacaan. Ada rasa keteraturan yang terasa di mana-mana, namun juga ada jarak emosional yang membuatnya merasa sedikit asing. Ia terus berpegang pada tasnya, berdoa dalam hati agar ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan tetap memegang teguh prinsip hidupnya.
Sesampainya di gedung perkantoran yang megah dan modern, Nayla merasa sedikit tertekan. Lobi yang luas dengan lantai marmer yang mengkilap, lift yang berjalan cepat, dan suasana yang sibuk namun teratur membuatnya sadar betapa besarnya tantangan yang akan ia hadapi. Setelah melapor ke bagian kepegawaian, ia diantar menuju ruang kerjanya.
Di sana, seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan kulit sawo matang dan senyum ramah segera menyambutnya. “Selamat pagi. Kau pasti Nayla, ya? Saya Budi Santoso. Rekan kerja yang disebutkan Sari kemarin.”
Nayla tersenyum lega. “Iya, benar. Senang bertemu dengan Anda, Pak Budi.”
“Panggil saja Budi. Tidak perlu terlalu formal di sini, asalkan tetap profesional. Mari saya tunjukkan tempat kerjamu dan perkenalkan pada rekan-rekan lain.”
Budi Santoso adalah orang yang ramah dan terbuka. Ia telah bekerja di perusahaan itu selama enam tahun, dan dengan sabar menjelaskan tata cara kerja, sistem administrasi, serta lingkungan kantor secara umum. Ia juga memberikan beberapa tips kecil yang berguna: bagaimana berkomunikasi dengan atasan, jam istirahat, dan tempat yang nyaman untuk beribadah atau sekadar beristirahat.
“Banyak orang asing yang bekerja di sini, jadi perbedaan budaya sudah biasa dilihat,” ujar Budi sambil menunjukkan meja kerja Nayla. “Yang penting adalah kinerja dan sikap saling menghormati. Oh, dan jangan kaget jika nanti melihat banyak orang yang bekerja lembur. Di sini, dedikasi kerja sangat dihargai.”
“Terima kasih banyak atas bantuannya, Budi. Saya sangat berterima kasih,” kata Nayla dengan tulus.
Hari pertama berjalan dengan cukup lancar, meski terasa melelahkan karena banyak hal yang harus dipelajari dan diingat. Saat jam istirahat tiba, Nayla memilih untuk beristirahat di ruang istirahat yang agak sepi. Ia mengeluarkan bekalnya dan makan dengan tenang sambil memikirkan tugas-tugas yang harus diselesaikan ke depannya.
Di sisi lain gedung, Ju Ji Hoon baru saja selesai menghadiri rapat penting bersama timnya. Ia berjalan menyusuri koridor yang panjang, pikirannya masih tertuju pada desain proyek pembangunan gedung perkantoran baru yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Di sampingnya berjalan Park Min Woo, rekan kerjanya yang selalu setia mendampingi.
“Proyek ini cukup menantang, Ji Hoon. Apakah kau yakin dengan konsep yang kau usulkan tadi?” tanya Min Woo.
“Ya. Saya yakin itu seimbang antara fungsi, keindahan, dan biaya. Tapi tentu saja kita harus terus memantau perkembangannya,” jawab Ji Hoon tenang.
Mereka berhenti sejenak di dekat ruang istirahat saat mata Ji Hoon menangkap sosok yang terlihat tidak asing. Di sana, duduklah wanita yang ia temui di kafe Lee Eun Hee kemarin pagi. Wanita itu tampak tenang, membaca sebuah buku kecil sambil sesekali meminum air. Ji Hoon berhenti melangkah, tatapannya terhenti sejenak sebelum ia sadar bahwa ia sedang menatap terlalu lama.
Min Woo menyadari perubahan pada sikap temannya itu dan menoleh ke arah yang sama. “Itu staf baru yang masuk hari ini. Orang Indonesia, katanya. Namanya Nayla.”
Ji Hoon mengangguk pelan. “Saya sudah bertemu dengannya kemarin. Di kafe Eun Hee.”
“Benarkah? Dia terlihat pendiam, tapi sopan. Budi yang mengurus orientasinya. Katanya dia lulusan universitas terkemuka di Indonesia dan sangat kompeten,” jelas Min Woo.
Tanpa sadar, kaki Ji Hoon melangkah mendekat. Ia merasa ada dorongan dalam hatinya untuk menyapa, meski ia tahu ia tidak wajib melakukannya. Saat ia berdiri di ambang pintu ruangan, pandangan Nayla terangkat dan bertemu dengannya. Sekali lagi, ada tatapan saling mengenal yang muncul di antara mereka.
“Selamat siang,” sapa Ji Hoon dengan sopan.