Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #4

Secangkir Teh dan cerita masa lalu

Seminggu berlalu sejak hari pertama Nayla bekerja di kantor. Rutinitasnya mulai terbentuk: bangun pagi, bersiap, berangkat kerja, berinteraksi dengan rekan-rekan, lalu pulang dan beristirahat. Meskipun masih ada hal-hal yang terasa asing, Nayla mulai merasa lebih nyaman. Budi Santoso tetap menjadi teman yang paling sering ia ajak bicara, sering memberikan penjelasan tentang kebiasaan kerja di Korea yang terkadang berbeda dengan cara di Indonesia.

“Di sini, disiplin waktu sangat dijunjung tinggi, La. Jika rapat dimulai pukul sembilan, berarti pukul sembilan tepat semua orang sudah duduk di tempatnya,” jelas Budi suatu siang saat mereka beristirahat. “Tapi jangan khawatir, selama kau menunjukkan sikap yang tulus dan mau belajar, mereka akan menghargaimu.”

Nayla mengangguk. “Terima kasih, Budi. Aku akan berusaha menyesuaikan diri sebaik mungkin.”

Selama seminggu itu, ia juga sesekali melihat Ju Ji Hoon di kantor. Biasanya Ji Hoon sedang sibuk dengan timnya, berdiskusi dengan Park Min Woo atau rekan lainnya. Jika pandangan mereka bertemu, mereka hanya akan saling mengangguk sopan, tidak lebih. Namun, Nayla tidak bisa menyangkal bahwa ia sering teringat pada percakapan sore itu di kafe—tentang kesamaan nasib mereka sebagai yatim piatu, tentang perjuangan hidup yang sama-sama mereka lalui. Ada rasa nyaman yang tidak bisa dijelaskan, namun ia selalu berusaha menepisnya dan tetap berpegang pada batas yang telah ia tetapkan.

Sore itu, hujan turun rintik-rintik membasahi kota Seoul. Suasana menjadi lebih sejuk dan kelabu. Setelah menyelesaikan tugasnya, Nayla merasa malas untuk langsung pulang. Ia teringat pada kafe Lee Eun Hee yang hangat dan tenang, tempat yang seolah menjadi pelarian kecilnya di tengah kesibukan kota. Ia memutuskan untuk singgah sebentar sebelum pulang.

Saat membuka pintu kafe, suara hujan di luar langsung teredam, digantikan oleh aroma kopi yang harum dan alunan musik lembut. Lee Eun Hee menyambutnya dengan senyum ramah seperti biasa.

“Halo, Nak Nayla. Datang lagi di hari hujan begini?”

“Iya, Ibu. Ingin menghangatkan diri sebentar,” jawab Nayla sambil melepaskan jas tipisnya yang sedikit basah. “Boleh pesan teh jahe panas?”

“Tentu saja. Silakan duduk di tempatmu yang biasa.”

Nayla berjalan menuju meja dekat jendela, tempat yang memberinya pandangan jelas ke jalanan yang basah. Ia baru saja duduk ketika pintu kafe terbuka lagi, dan masuklah Ju Ji Hoon. Rambutnya sedikit basah terkena rintik hujan, dan ia membawa sebuah tas kerja yang terlihat penuh dokumen. Ia melihat sekeliling, dan matanya langsung tertuju pada sosok Nayla. Sesaat ia tampak ragu, lalu berjalan mendekat.

“Bolehkah saya duduk di sini?” tanyanya sopan. “Tempat lain sudah terisi, dan saya tidak ingin mengganggu tamu lain.”

Nayla menoleh dan melihat bahwa memang hampir semua meja sudah ditempati pengunjung yang mencari tempat berteduh dari hujan. “Tentu saja. Silakan.”

Ji Hoon mengucapkan terima kasih dan duduk di seberangnya. Ia memesan kopi hitam dan sepotong kue, lalu terdiam sejenak sambil memandangi tetesan air yang mengalir di kaca jendela. Suasana di antara mereka tidak terasa canggung, melainkan hening yang nyaman—seolah kehadiran satu sama lain sudah cukup tanpa perlu banyak bicara.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Lee Eun Hee meletakkan teh jahe dan kopi di meja, lalu berkata dengan nada lembut, “Hujan sore ini cukup lebat. Mungkin akan berlangsung agak lama. Nikmati minumannya.”

Setelah wanita itu pergi, Ji Hoon menatap cangkir kopinya, lalu menoleh ke arah Nayla. “Bagaimana pekerjaanmu selama seminggu ini? Apakah sudah terasa lebih mudah?”

Nayla tersenyum tipis. “Cukup mudah beradaptasi, meski ada beberapa hal yang masih perlu saya pelajari. Budi Santoso sangat membantu. Dia banyak memberi tahu saya tentang cara kerja di sini.”

“Budi orang yang dapat diandalkan. Dia juga orang yang memiliki prinsip hidup yang kuat, meski dia tidak banyak membicarakannya. Di perusahaan ini, dia dikenal sebagai orang yang adil dan jujur,” ujar Ji Hoon. “Kau beruntung memiliki rekan kerja seperti dia.”

“Ya, saya sangat bersyukur. Dan bagaimana dengan proyek yang sedang Anda kerjakan?” tanya Nayla balik dengan sopan.

Ji Hoon menghela napas panjang, lalu sedikit tersenyum. “Cukup menantang. Kami sedang merancang sebuah gedung komersial di pusat kota. Tantangannya adalah menyeimbangkan antara keindahan desain, fungsi bangunan, dan biaya yang efisien. Terkadang rasanya seperti memecahkan teka-teki yang rumit.”

“Tapi Anda menyukainya, bukan? Saya bisa melihatnya dari cara Anda berbicara,” komentar Nayla.

Ji Hoon menatapnya sejenak, lalu mengangguk perlahan. “Benar. Arsitektur bukan sekadar pekerjaan bagi saya. Ini adalah cara saya mengekspresikan diri, cara saya meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sejak saya masih muda, saya tertarik pada bagaimana sebuah bangunan bisa memberikan perlindungan, tempat berkumpul, dan menjadi bagian dari kehidupan banyak orang.”

Percakapan itu mengalir begitu saja, beralih dari pekerjaan ke hal-hal yang lebih pribadi. Ji Hoon mulai bercerita tentang masa mudanya, tentang bagaimana ia harus bekerja berbagai macam pekerjaan sambil belajar untuk membiayai hidup dan pendidikannya.

“Setelah kakek saya meninggal, saya benar-benar sendirian. Saya bekerja sebagai tukang cuci mobil, pekerja serabutan, sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk belajar desain secara formal. Banyak orang meragukan saya, mengatakan bahwa anak yatim tidak akan bisa mencapai apa-apa. Tapi saya bertekad untuk membuktikan bahwa mereka salah,” ceritanya dengan nada yang tenang namun tegas.

Nayla mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia bisa merasakan perjuangan yang mendalam di balik setiap kata yang diucapkan Ji Hoon. “Saya mengerti perasaan itu. Saya juga sering mendengar hal serupa. Banyak orang berpikir bahwa tanpa orang tua, seseorang akan mudah tergelincir atau tidak memiliki pegangan hidup. Tapi justru karena itulah, saya berusaha lebih keras untuk membuktikan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh siapa orang tuanya, melainkan oleh bagaimana ia menjalani hidupnya.”

Lihat selengkapnya