Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #6

Aroma Rumah di Tengah Kota Asing

Sejak tinggal di Seoul, kerinduan akan tanah air sering kali menyelinap di hati Nayla. Terutama saat ia melewati jalanan yang dipenuhi papan tulisan berbahasa Korea, atau saat ia merasakan udara dingin yang menusuk tulang, berbeda dengan hangatnya angin di kampung halamannya. Rindu pada masakan ibu, rindu pada suara bahasa ibunya, dan rindu pada kebersamaan dengan sesama orang sebangsa—semua itu sering membuatnya merasa seperti sehelai daun yang terbawa angin di negeri orang.


Suatu pagi, saat sarapan bersama Sari Wijaya, Nayla menghela napas panjang sambil memandangi roti dan selai di piringnya. “Seandainya ada nasi hangat, sayur lodeh, dan tempe goreng yang gurih. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan masakan rumahan.”


Sari tersenyum paham. Ia pun merasakan hal yang sama di awal perantauannya. “Kalau begitu, kita berangkat ke tempat yang bisa menyembuhkan kerinduan itu. Aku sudah lama tidak ke sana, tapi tempatnya masih ada dan suasananya tetap sama.”


“Tempat apa?” tanya Nayla dengan mata berbinar.


“Toko makanan milik Ibu Kartika Dewi. Dia orang Indonesia juga, sudah puluhan tahun tinggal di sini. Di sana kita bisa makan masakan Indonesia asli, bertemu orang-orang sebangsa, dan rasanya seperti pulang sejenak,” jelas Sari antusias.


Mereka berdua segera bersiap. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan kereta bawah tanah, menuju kawasan yang sedikit lebih sepi namun tetap ramai. Saat tiba di depan sebuah bangunan sederhana dengan papan nama bertuliskan “Warung Rasa Nusantara”, aroma rempah yang khas langsung menyambut hidung mereka. Aroma santan, kunyit, lengkuas, dan cabai yang bercampur menciptakan kehangatan yang langsung mengusir rasa dingin.


Begitu melangkah masuk, suara percakapan dalam bahasa Indonesia langsung terdengar. Ruangan itu tidak luas, namun tertata rapi dengan meja dan kursi kayu sederhana. Di dinding tergantung foto-foto pemandangan Indonesia, kain batik, dan peta kepulauan Nusantara. Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah ramah dan senyum yang lebar segera menyambut mereka dari balik meja pesanan.


“Selamat datang! Mau pesan apa hari ini?” sapa wanita itu dengan logat Jawa yang masih kental.


“Selamat pagi, Ibu Kartika. Saya Sari, ini teman saya Nayla. Kami sudah lama ingin berkunjung ke sini,” jawab Sari sopan.


Ibu Kartika Dewi tersenyum makin lebar. “Oalah, Sari! Sudah lama tidak bertemu. Silakan duduk, silakan. Makanan di sini masih sama rasanya seperti di rumah. Mau pesan apa? Ada rendang, sayur asem, soto ayam, atau mungkin nasi goreng?”


Nayla dan Sari memesan nasi lengkap dengan lauk kesukaan mereka. Saat makanan dihidangkan, uap panas mengepul dan aroma yang menggugah selera memenuhi meja. Suapan pertama nasi hangat bersama rendang yang empuk dan bumbu meresap membuat Nayla menutup matanya sejenak. Seolah-olah ia sedang makan di dapur rumahnya sendiri, ditemani orang-orang terkasih.


“Enak sekali, Bu. Rasanya persis seperti buatan ibu saya,” ucap Nayla dengan mata sedikit berkaca-kaca karena terharu.


Ibu Kartika tertawa lembut. “Terima kasih, Nak. Saya berusaha mempertahankan rasa aslinya agar kita semua yang merantau tidak lupa dengan akar kita. Di sini, ini bukan sekadar tempat makan. Ini adalah rumah kedua bagi orang-orang Indonesia yang tinggal di Seoul.”


Saat mereka sedang asyik berbincang, pintu warung terbuka dan masuklah seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun dengan penampilan rapi dan wajah yang dikenali Nayla.


“Dimas?!” seru Nayla terkejut namun senang.


Pria itu menoleh, lalu wajahnya berubah cerah saat melihat Nayla. “Nayla! Ternyata kau ada di sini. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu.”


Dimas Pratama adalah teman lama Nayla sejak mereka masih kuliah di Indonesia. Ia kini bekerja di sebuah perusahaan ekspor-impor dan sering melakukan perjalanan ke Seoul. Mereka saling bersalaman dan berpelukan sebentar, pertanda keakraban yang telah terjalin bertahun-tahun.


“Apa kabar, La? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Aku dengar kau merantau ke sini untuk bekerja dan melanjutkan studi,” tanya Dimas sambil duduk di meja mereka.


“Baik, Mas Dimas. Ya, aku sudah beberapa bulan di sini. Ini Sari, teman sekamarku,” perkenalkan Nayla.


“Senang bertemu denganmu, Sari,” sapa Dimas ramah. “Aku kebetulan ada urusan bisnis selama dua minggu ke depan. Senang sekali bisa bertemu teman lama.”


Mereka pun berbincang panjang, berbagi kabar tentang teman-teman di kampung halaman, tentang pekerjaan, dan tentang kehidupan di Korea. Suasana menjadi sangat akrab dan hangat, membuat Nayla merasa seolah beban kerinduannya berkurang setengahnya. Namun, tanpa disadari, percakapan mereka perlahan beralih pada kehidupan pribadi Nayla.

Lihat selengkapnya