Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #5

Teman yang peduli

Sejak hari itu, suasana di apartemen kecil yang ditempati Nayla dan Sari Wijaya terasa sedikit berbeda. Tidak ada perubahan yang terlihat secara kasat mata—dindingnya masih berwarna krem yang sama, perabotan masih tertata rapi seperti biasa, dan aroma kopi instan yang sering mereka seduh masih tercium setiap pagi. Namun, bagi Sari yang telah hidup bersama Nayla selama hampir satu tahun terakhir, ada sesuatu yang berubah dalam diri sahabatnya itu.

Nayla yang biasanya selalu terlihat tenang, teratur, dan fokus pada rutinitasnya—bangun pagi, beribadah, bersiap bekerja, lalu pulang tepat waktu untuk mengerjakan tugas tambahan di kampus—kini sering terlihat melamun. Matanya yang biasanya cerah dan penuh semangat kadang menatap kosong ke luar jendela, memandang gedung-gedung tinggi Seoul yang berdiri megah di kejauhan. Kadang, saat mereka sedang makan malam atau beristirahat di ruang tamu, Nayla akan tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas, lalu segera menyadari dirinya dan mencoba menyembunyikan senyum itu dengan meminum air atau berpura-pura sibuk dengan buku.

Sari, yang juga seorang perantau dari Jawa Tengah, mengerti betapa beratnya hidup jauh dari keluarga dan tanah air. Ia tahu bahwa di negeri asing seperti Korea Selatan, di mana bahasanya sulit dipelajari dan budayanya sangat berbeda, hati seseorang bisa menjadi sangat rapuh dan mudah tergerus oleh rasa kesepian. Itulah sebabnya, sejak pertama kali bertemu dan sepakat menjadi teman sekamar, Sari selalu berusaha menjadi pendengar yang baik dan tempat bercerita bagi Nayla.

Malam itu, setelah keduanya selesai membereskan peralatan makan, Sari menyeduh teh manis hangat dan meletakkannya di meja kecil di antara mereka. Ia duduk bersila di atas karpet, lalu menatap Nayla dengan pandangan yang lembut namun penuh perhatian.

“Nayla,” panggil Sari pelan. “Belakangan ini aku lihat kamu sering melamun. Ada apa? Kalau ada beban di hati, lebih baik dibicarakan saja. Aku di sini, ingat?”

Nayla terkejut, seolah baru tersadar dari dunia khayalannya. Ia menoleh ke arah Sari, lalu tersenyum tipis sambil mengusap pelan kain kerudungnya. “Tidak ada apa-apa, Ri. Hanya sedikit lelah, mungkin. Pekerjaan di kantor dan tugas di kampus akhir-akhir ini terasa sedikit menumpuk.”

Sari menggeleng pelan, tidak percaya sepenuhnya. Ia telah mengenal Nayla cukup lama untuk mengetahui bahwa sahabatnya itu bukan tipe orang yang mudah terlihat lelah hanya karena pekerjaan. “Kita sudah tinggal bersama hampir setahun, Nay. Aku tahu kapan kamu benar-benar lelah dan kapan ada hal lain yang mengganggu pikiranmu. Ini bukan sekadar lelah. Ada sesuatu yang membuatmu bahagia, tapi sekaligus membuatmu terlihat gelisah. Apakah ini ada hubungannya dengan pria yang sering kamu temui di kafe itu? Ju Ji Hoon, kan?”

Nayla terdiam. Wajahnya memerah sedikit, dan ia menunduk memandang cangkir teh di tangannya. Selama beberapa hari terakhir, ia memang sering memikirkan Ji Hoon. Setiap kali mereka bertemu di kafe milik Lee Eun Hee, perbincangan mereka selalu terasa menyenangkan dan membuat waktu terasa berjalan begitu cepat. Namun, di balik rasa nyaman itu, selalu ada suara kecil di hatinya yang mengingatkan pada perbedaan besar yang ada di antara mereka.

“Ya,” jawab Nayla akhirnya, dengan suara pelan namun tegas. “Memang benar. Aku sering bertemu dengannya. Dia orang yang baik, Sari. Sangat baik. Seperti kita, dia juga yatim piatu. Dia mengerti bagaimana rasanya tumbuh tanpa orang tua, harus berjuang sendiri dari nol. Itu yang membuat aku merasa dekat dengannya.”

Sari mendengarkan dengan seksama, tidak memotong pembicaraan. Ia tahu Nayla butuh meluapkan apa yang ada di pikirannya.

“Dia sopan, menghormati ruang pribadiku, dan tidak pernah memaksaku untuk membicarakan hal-hal yang aku tidak mau,” lanjut Nayla. “Setiap kali kami berbicara, dia selalu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dia tidak menertawakan kebiasaan atau pandanganku yang berbeda dengan orang-orang di sini. Tapi… di sisi lain, aku juga sadar, Ri. Ada perbedaan yang sangat besar di antara kami. Perbedaan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.”

“Perbedaan keyakinan?” tebak Sari pelan.

Nayla mengangguk perlahan. “Ya. Itu yang paling mendasar. Aku tumbuh dengan ajaran yang telah menjadi darah dagingku. Iman adalah penopangku selama ini, terutama saat aku merasa sendirian di sini. Bagiku, iman bukan sekadar ritual, tapi cara hidup yang mengatur segala aspek, termasuk bagaimana aku memandang hubungan dengan lawan jenis dan masa depan. Sedangkan dia… dia memiliki pandangan hidup dan nilai yang berbeda, yang juga dipegang teguhnya.”

Sari menghela napas panjang, lalu meraih tangan Nayla dan menggenggamnya dengan lembut. “Aku mengerti maksudmu, Nay. Aku juga tahu betapa beratnya posisimu. Cinta memang sering datang tanpa memandang siapa dan dari mana, tapi kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan. Kamu harus berhati-hati, Sayang. Hati itu mudah terluka, apalagi jika sejak awal kita tahu ada tembok tinggi yang sulit ditembus.”

Pembicaraan mereka berlanjut hingga larut malam. Sari tidak melarang atau memarahi Nayla, ia hanya berusaha memberikan pandangan yang objektif sebagai sahabat yang menginginkan kebaikan. Ia mengingatkan Nayla akan prinsip-prinsip yang selama ini dipegang teguhnya, sekaligus memahami bahwa perasaan tidak bisa diatur seenaknya.

Di tempat lain, tidak jauh dari apartemen Nayla, suasana di kompleks perumahan tempat tinggal Ju Ji Hoon juga tidak kalah menarik. Malam itu, Kim Soo Jin—tetangga sekaligus sahabat dekat Ji Hoon—berkunjung ke rumahnya. Soo Jin telah mengenal Ji Hoon sejak keduanya masih muda, mengetahui seluruh perjuangan hidupnya, kesendiriannya, dan bagaimana ia membangun karirnya dari bawah hingga menjadi seperti sekarang.

Lihat selengkapnya