Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #7

Benih yang Tumbuh Tanpa Diduga

Musim gugur di Seoul datang dengan keindahan yang tak terlukiskan. Pepohonan di sepanjang jalan raya berubah warna menjadi oranye, merah, dan kuning keemasan, menciptakan pemandangan yang seolah terlukis oleh tangan seniman ulung. Angin yang berhembus terasa sedikit lebih dingin, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering yang berguguran. Bagi Nayla, suasana ini terasa sangat berbeda dengan kampung halamannya yang sepanjang tahun hanya mengenal dua musim. Namun, di tengah keindahan kota asing ini, hatinya mulai merasakan sesuatu yang asing namun juga hangat—sesuatu yang tumbuh perlahan, tanpa ia sadari, dan kini mulai menyebar ke seluruh relung jiwanya.

Sudah hampir dua bulan sejak pertemuan pertamanya dengan Ju Ji Hoon di kafe milik Lee Eun Hee. Sejak saat itu, kedekatan mereka tumbuh secara alami, tidak tergesa-gesa, namun terasa semakin erat setiap harinya. Rutinitas Nayla yang awalnya hanya berpusat pada pekerjaan dan belajar bahasa Korea, kini diselingi dengan pertemuan-pertemuan kecil yang selalu ia nantikan. Setiap sore sepulang kerja, ia sering berhenti di kafe itu, dan hampir selalu menemukan Ji Hoon sudah duduk di meja sudut, sedang membaca buku atau bekerja dengan laptopnya.

Hari itu, langit Seoul berwarna keabu-abuan, seolah akan turun hujan. Nayla melangkah masuk ke dalam kafe yang hangat, disambut aroma kopi dan kue yang menggugah selera. Lee Eun Hee menyapanya dengan senyum ramah seperti biasa.

"Dia sudah di dalam," bisik pemilik kafe itu sambil mengedipkan mata, membuat Nayla tersipu malu. Ia tahu Lee Eun Hee sudah menyadari ada sesuatu yang berbeda antara dirinya dan Ji Hoon.

Nayla berjalan menuju meja sudut dan melihat Ji Hoon sedang menatap keluar jendela. Pria itu tampak lebih tenang dari biasanya, dengan rambutnya yang sedikit berantakan terkena hembusan angin dari celah jendela yang terbuka. Ketika mendengar langkah kaki, ia menoleh, dan senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang selalu membuat detak jantung Nayla berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Selamat sore, Nayla," sapa Ji Hoon lembut. "Aku memesan teh jahe untukmu. Aku ingat kamu bilang tidak terlalu suka kopi yang terlalu pahit."

Nayla duduk di hadapannya, merasakan kehangatan yang menjalar bukan hanya dari cangkir teh di depannya, tetapi juga dari perhatian kecil yang selalu ditunjukkan pria itu. "Terima kasih, Ji Hoon. Kamu selalu ingat hal-hal kecil seperti itu."

Ji Hoon mengangkat bahu ringan. "Hal-hal kecil itulah yang seringkali paling berarti, bukan? Terutama ketika kita berada jauh dari orang-orang yang kita cintai."

Kalimat itu mengingatkan Nayla bahwa mereka memiliki kesamaan yang mendasar: keduanya adalah yatim piatu. Tidak ada keluarga dekat yang menunggu mereka pulang, tidak ada tempat yang benar-benar terasa seperti rumah kecuali tempat yang mereka bangun sendiri. Kesamaan latar belakang inilah yang seringkali menjadi jembatan yang menghubungkan hati mereka, membuat mereka saling memahami kesendirian yang pernah mereka rasakan selama ini.

Selama beberapa minggu terakhir, mereka sering berbagi pandangan tentang berbagai hal—tentang seni, alam, perjuangan hidup, hingga pandangan mereka tentang dunia. Mereka menemukan bahwa meskipun dibesarkan dalam budaya yang sangat berbeda, banyak nilai yang mereka pegang ternyata memiliki benang merah yang sama: kejujuran, kerja keras, rasa hormat kepada sesama, dan keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik. Namun, ada satu topik yang selalu mereka hindari secara halus: keyakinan agama dan cara pandang hidup yang menjadi akar dari identitas masing-masing.

Sore itu, percakapan mereka mengalir begitu saja. Ji Hoon bercerita tentang proyek terbarunya di kantor, sebuah pembangunan gedung komersial yang menantang namun juga memberikan kepuasan tersendiri. "Kadang aku merasa lelah," akunya sambil menatap jari-jarinya yang terlipat di atas meja. "Sejak muda, aku harus berjuang sendiri. Tidak ada orang tua yang membimbing, tidak ada saudara yang bisa dimintai pendapat. Semua keputusan harus diambil sendiri, dan semua risiko harus ditanggung sendiri."

Nayla mengangguk paham. Ia tahu persis apa yang dirasakan pria itu. "Aku juga merasakan hal yang sama. Ketika orang tuaku meninggal, aku merasa seolah dunia runtuh. Tapi iman yang aku pegang menjadi penopang terbesarku. Ia mengajarkanku bahwa tidak ada kesulitan yang datang tanpa ada jalan keluarnya, dan bahwa aku tidak pernah benar-benar sendirian."

Ji Hoon menatapnya dengan perhatian yang dalam. "Aku sering melihatmu berdoa, atau membaca kitab suci di pagi hari ketika kita bertemu lebih awal. Itu membuatku penasaran. Bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang begitu kuat untuk dipegang, sesuatu yang memberikan arah dalam setiap langkah hidup?"

Pertanyaan itu membuat Nayla terdiam sejenak. Ia tidak terkejut, karena ia tahu bahwa cepat atau lambat hal ini akan terungkap. "Ini bukan sekadar aturan atau kebiasaan semata, Ji Hoon. Ini adalah bagian dari diriku sendiri. Seperti cara kamu menghormati orang tua dan leluhurmu, atau cara kamu memandang alam dan keseimbangan hidup—iman bagiku adalah cara aku memahami dunia, cara aku membedakan mana yang baik dan buruk, dan cara aku menemukan kedamaian ketika segalanya terasa kacau."

Ji Hoon mendengarkan dengan saksama, tanpa menyela. "Aku tumbuh dengan nilai-nilai yang diajarkan orang tuaku sebelum mereka meninggal. Kami menghormati alam, menghargai leluhur, dan percaya bahwa setiap tindakan memiliki dampak. Tapi aku tidak memiliki sistem keyakinan yang terstruktur seperti yang kamu miliki. Bagi banyak orang di sini, pandangan hidup lebih diwariskan sebagai tradisi dan cara hidup, bukan sebagai aturan yang harus diikuti secara ketat."

"Dan aku menghormati itu," jawab Nayla dengan jujur. "Setiap orang memiliki jalan yang berbeda untuk menemukan makna hidupnya. Aku tidak pernah berpikir bahwa jalanku adalah satu-satunya jalan yang benar. Aku hanya tahu bahwa ini adalah jalan yang membuatku merasa utuh."

Percakapan mereka terhenti sejenak, namun bukan dalam ketegangan. Justru terasa seperti pemahaman yang mulai tumbuh, meskipun belum sepenuhnya terungkap. Di meja lain, Han Ji Won—rekan satu tim Ji Hoon—sedang membaca koran sambil sesekali melirik ke arah mereka. Ia telah melihat perubahan pada Ji Hoon dalam beberapa bulan terakhir. Rekannya itu yang dulunya terlihat kaku dan terlalu fokus pada pekerjaan, kini tampak lebih lembut, lebih terbuka, dan seringkali tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas.

Ketika Ji Hoon berjalan ke meja Ji Won untuk mengambil dokumen yang tertinggal, rekan kerjanya itu tersenyum tipis. "Kamu terlihat berbeda akhir-akhir ini, Ji Hoon. Lebih... hidup. Apakah ini ada hubungannya dengan wanita Indonesia yang sering kamu temui itu?"

Ji Hoon tersenyum tipis, tidak menyangkal. "Nayla adalah orang yang baik, Ji Won. Berbakat, cerdas, dan memiliki prinsip yang kuat. Berbicara dengannya membuatku melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda."

Lihat selengkapnya