Setelah percakapan yang jujur dan menenangkan beberapa hari sebelumnya, hubungan Nayla dan Ju Ji Hoon berjalan dengan lebih jernih. Mereka sepakat untuk tetap bertemu sebagai teman, saling berbagi cerita dan pengalaman, namun selalu menjaga batas yang telah disepakati. Tidak ada lagi keraguan yang mengganggu tentang arah hubungan mereka, karena keduanya telah memahami bahwa persatuan dalam ikatan yang lebih serius tidak mungkin terwujud mengingat perbedaan mendasar yang ada. Namun, meski keduanya telah merasa tenang, mereka belum sepenuhnya menghadapi pandangan dan tanggapan dari orang-orang di sekitar mereka—teman, rekan kerja, dan sesama perantau yang memiliki pandangan berbeda tentang hubungan lintas budaya dan keyakinan.
Suatu pagi, Nayla menerima pesan singkat dari Kartika Dewi, pemilik toko makanan Indonesia yang sering ia kunjungi. Dalam pesan itu, Bu Kartika mengundangnya untuk datang ke toko sore itu, karena ada banyak barang kiriman terbaru dari tanah air dan ia ingin Nayla mencicipi beberapa masakan baru yang baru saja ia coba buat. Nayla menyetujuinya dengan senang hati, karena selain rindu akan cita rasa masakan Indonesia, ia juga merasa nyaman dan seperti di rumah sendiri saat berada di toko Bu Kartika. Ia kemudian teringat bahwa Ji Hoon pernah menyatakan keinginannya untuk mencoba makanan asli Indonesia yang dimasak langsung oleh orang Indonesia, bukan yang dijual di restoran komersial yang sering dimodifikasi selera orang Korea. Ia pun memutuskan untuk mengajak Ji Hoon sekaligus.
Saat sampai di toko Bu Kartika, suasana sudah terasa hangat dan akrab. Aroma rempah-rempah yang khas langsung menyambut hidung mereka begitu membuka pintu. Bu Kartika sedang sibuk melayani beberapa pelanggan sesama orang Indonesia, namun segera menyapa mereka dengan senyum lebar begitu melihat kedatangan Nayla dan Ji Hoon.
“Wah, selamat datang! Silakan duduk di sudut sana, saya akan segera menyiapkan makanan untuk kalian,” ucap Bu Kartika ramah.
Belum sempat mereka duduk, seorang pria berusia sekitar 30 tahun yang sedang duduk di meja sebelah menoleh dan berdiri menyapa Nayla. “Nayla? Ternyata benar itu kamu!”
Nayla terkejut sejenak, lalu mengenali wajah itu. “Dimas Pratama? Kamu di sini?”
Dimas adalah teman lama Nayla sejak masa sekolah menengah di Indonesia. Ia juga merantau ke luar negeri, namun selama ini jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing dan perbedaan negara tempat tinggal. Ia tersenyum lebar dan mendekat untuk bersalaman.
“Saya baru saja dipindahkan kantor cabang ke Seoul dua minggu yang lalu. Kebetulan saya mendengar ada toko makanan Indonesia di sini, jadi saya langsung datang,” jelas Dimas. Matanya kemudian beralih ke Ju Ji Hoon yang berdiri di samping Nayla dengan sikap sopan. “Dan ini siapa?”
“Ini Ju Ji Hoon, teman saya di sini,” jawab Nayla dengan tenang. “Ji Hoon, ini Dimas, teman lama saya dari Indonesia.”
Ji Hoon mengangguk sopan dan mengulurkan tangan. “Senang bertemu denganmu.”
Dimas menyambut uluran tangan itu, namun tatapannya terlihat mengamati dengan cermat. Ia merasa penasaran, namun juga waspada. Sebagai teman lama yang mengetahui latar belakang Nayla sebagai anak yatim piatu yang sangat menjaga prinsip hidupnya, Dimas merasa perlu memahami siapa pria yang sering ditemani oleh sahabatnya itu.
Mereka pun duduk bersama di meja yang disediakan Bu Kartika. Tak lama kemudian, hidangan pun disajikan: nasi putih hangat, rendang, sayur lodeh, tempe goreng, dan sambal terasi yang menggugah selera. Ji Hoon menatap makanan itu dengan rasa ingin tahu yang besar, lalu mulai mencicipinya dengan hati-hati. Matanya berbinar begitu merasakan perpaduan rasa gurih, pedas, dan kaya rempah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Ini sangat lezat,” ucap Ji Hoon dengan tulus. “Rasanya unik dan berbeda dari apa pun yang biasa saya makan di sini.”
Bu Kartika tertawa mendengar pujian itu. “Senang kamu suka. Ini adalah masakan asli kampung halaman kami. Banyak orang asing yang menyukainya, meski ada juga yang tidak tahan pedasnya.”
Percakapan berjalan santai di awal. Mereka membicarakan kehidupan di Seoul, tantangan sebagai perantau, dan hal-hal umum lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Dimas yang sejak tadi diam mulai membuka pembicaraan yang lebih serius. Ia menatap Nayla, lalu beralih ke Ji Hoon dengan nada sopan namun tegas.
“Ji Hoon, bolehkah saya bertanya sesuatu?” tanya Dimas.