Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #11

Batas yang mulai terlihat

Hujan gerimis menyelimuti kota Seoul sejak pagi, membuat udara terasa lebih dingin dan jalanan berkilau terkena cahaya lampu. Di sudut kafe kecil milik Lee Eun Hee—tempat yang sudah lama menjadi saksi kehadiran Nayla dan Ju Ji Hoon—suasana terasa lebih hening dari biasanya. Aroma kopi dan teh hangat bercampur lembut, namun tidak mampu menghangatkan ketegangan yang perlahan menyelimuti kedua orang yang duduk berhadapan di meja kayu itu.

Sudah hampir tiga bulan sejak pertemuan pertama mereka. Sejak saat itu, hari-hari Nayla terasa lebih berwarna, lebih berarti. Sebagai anak yatim piatu yang merantau sendirian, ia jarang menemukan seseorang yang bisa memahami perasaannya sedalam itu. Ju Ji Hoon—pria yang juga tumbuh tanpa orang tua, yang tahu betapa beratnya harus berdiri sendiri sejak muda—selalu tahu kapan harus mendengarkan, kapan harus memberikan semangat, dan kapan cukup hadir tanpa banyak bicara.

Namun hari ini, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan mata Ji Hoon tidak lagi selembut biasanya, ada keseriusan yang mendalam di sana. Begitu juga dengan Nayla; jantungnya berdegup lebih kencang, seolah tahu bahwa percakapan yang akan dimulai ini bukan lagi sekadar obrolan ringan tentang pekerjaan, cuaca, atau kenangan masa lalu.

Lee Eun Hee meletakkan dua cangkir minuman di meja mereka dengan senyum yang bijak, seolah mengerti apa yang sedang terjadi. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk pelan sebelum berjalan kembali ke balik meja kasir, memberikan ruang bagi mereka berdua.

Ji Hoon menatap jendela kaca yang basah oleh air hujan sejenak, sebelum akhirnya menoleh ke arah Nayla. “Nayla,” panggilnya pelan namun tegas. “Sudah lama kita saling mengenal. Sudah banyak hal yang kita bagi. Tapi ada satu hal yang selama ini kita hindari, bukan?”

Nayla menelan ludah, merasakan tenggorokannya terasa kering. Ia memegang cangkir tehnya dengan kedua tangan, berusaha mendapatkan sedikit kehangatan. “Apa maksudmu, Ji Hoon?” tanyanya, meski hatinya sudah tahu jawabannya.

“Kita berbicara tentang masa lalu, tentang kesulitan hidup, tentang impian-impian kita. Tapi kita belum pernah benar-benar berbicara tentang apa yang menjadi pegangan hidup kita. Tentang apa yang kita yakini sebagai kebenaran, tentang hal-hal yang tidak bisa kita ubah meski apa pun yang terjadi.” Suara Ji Hoon tenang, namun mengandung beban yang berat. “Aku merasa ini sudah saatnya kita membicarakannya. Sebelum perasaan ini tumbuh lebih dalam lagi dan membuat kita terluka lebih parah.”

Nayla menghela napas panjang. Ia tahu hari ini pasti akan tiba. Sejak pertama kali hatinya mulai condong pada pria ini, ia sudah sadar akan jurang yang terbentang di antara mereka. Ia dibesarkan dengan ajaran agama yang menjadi nafas hidupnya—sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari setiap langkah, setiap keputusan, dan setiap harapannya. Sementara Ji Hoon, meski seorang pria yang baik dan terhormat, memiliki cara pandang dan keyakinan yang berbeda, yang juga telah membentuk dirinya menjadi seperti sekarang.

“Kau benar,” jawab Nayla akhirnya, menatap mata Ji Hoon dengan jujur. “Aku juga sudah lama menunggu saat ini. Aku tidak ingin kita terus berjalan tanpa tahu batas masing-masing. Karena bagiku, kejujuran adalah hal yang paling penting, terutama untuk orang yang kita sayangi.”

Ji Hoon tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan rasa hormat. “Terima kasih. Kalau begitu, bolehkah aku mulai duluan?”

Nayla mengangguk. “Silakan.”

“Aku tumbuh di lingkungan yang mengajarkan nilai-nilai keluarga, rasa hormat kepada orang tua dan leluhur, serta hidup selaras dengan alam dan sesama manusia,” mulai Ji Hoon perlahan, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Sejak kecil, aku sering diajak ke tempat ibadah leluhur, diajarkan untuk mengenang jasa orang tua dan menjaga nama baik keluarga. Bagi sebagian orang, itu adalah bentuk keyakinan agama. Tapi bagiku, itu lebih dari sekadar ritual. Itu adalah cara aku terhubung dengan orang tuaku yang sudah tiada, itu adalah identitas yang membuatku tahu siapa diriku.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Aku percaya pada kebaikan, pada keseimbangan hidup, pada bahwa setiap perbuatan akan membawa dampak. Aku menghormati segala bentuk kepercayaan orang lain, selama itu mengajarkan kebaikan. Tapi ini adalah jalan yang aku kenal, yang telah membantuku bertahan saat aku merasa sendirian di dunia ini.”

Nayla mendengarkan dengan saksama, tidak ada rasa menolak dalam hatinya—hanya pengertian. Ia bisa merasakan ketulusan dalam setiap kata yang diucapkan Ji Hoon. Ia tahu, apa yang dipegang pria ini bukanlah hal yang sembarangan, melainkan bagian dari dirinya yang paling dalam.

“Sekarang giliranmu,” kata Ji Hoon lembut. “Aku ingin tahu apa yang menjadi peganganmu. Tanpa takut menyinggung perasaanku. Aku ingin mendengarnya langsung darimu.”

Nayla menatap cangkir tehnya sejenak, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan hal yang paling mendasar dalam hidupnya. “Seperti yang kau katakan, aku juga kehilangan orang tuaku saat masih muda. Saat itu, aku merasa dunia ini gelap dan tidak ada tempat untukku. Tapi orang tua sempat menanamkan sesuatu padaku—sesuatu yang menjadi pelita saat aku tersesat.”

Ia menoleh, menatap lurus ke mata Ji Hoon. “Aku memegang teguh ajaran agamaku. Bagi aku, ini bukan sekadar kebiasaan atau warisan budaya. Ini adalah cara aku berkomunikasi dengan Sang Pencipta, ini adalah pedoman yang mengatur setiap aspek hidupku—mulai dari cara berpakaian, berbicara, berperilaku, hingga cara aku memandang masa depan dan pernikahan. Ini adalah pegangan yang membuatku merasa tidak pernah benar-benar sendirian, karena aku percaya ada yang selalu menjagaku.”

Nayla berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas, “Ada aturan dan batasan yang tidak bisa aku langgar. Salah satunya adalah tentang ikatan pernikahan. Menurut apa yang aku yakini, pernikahan bukan hanya penyatuan dua hati, tapi juga penyatuan dalam keyakinan yang sama. Ini bukan hal yang bisa aku ubah sesuka hati, Ji Hoon. Ini adalah bagian dari imanku, sesuatu yang aku yakini sebagai kebenaran yang harus aku jaga sampai akhir hayatku.”

Keheningan melingkupi meja mereka. Hanya suara rintik hujan yang mengetuk jendela dan suara orang-orang yang berbicara pelan di sudut lain kafe yang terdengar. Ji Hoon tidak terlihat marah, tidak pula terkejut berlebihan—ia hanya terdiam, memproses setiap kata yang baru saja didengarnya.

“Jadi, apa artinya ini?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah namun tetap tenang. “Apakah ini berarti tidak ada jalan bagi kita?”

Lihat selengkapnya