Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #12

Pandangan dari Berbagai Sisi

Seminggu telah berlalu sejak percakapan jujur di kafe milik Lee Eun Hee. Meskipun tidak ada lagi ketegangan yang menggantung di antara Nayla dan Ju Ji Hoon, suasana di sekitar mereka terasa sedikit berubah—bukan menjadi dingin atau menjauh, melainkan lebih tenang, seolah keduanya telah menemukan titik keseimbangan baru. Namun, keputusan yang mereka ambil tidak hanya berdampak pada diri mereka sendiri; lambat laun, kabar tentang kedekatan dan perbedaan prinsip itu mulai tersebar, memancing berbagai pandangan dari orang-orang di sekitar mereka, baik yang mendukung, mengingatkan, maupun mempertanyakan.


Di kantor tempat Nayla bekerja, hari itu berjalan seperti biasa. Bunyi ketikan keyboard, percakapan singkat antar rekan kerja, dan aroma kopi yang menyebar dari ruang istirahat menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, saat jam istirahat tiba, Budi Santoso mendekati meja Nayla dengan membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan satu di hadapan Nayla, lalu duduk di kursi kosong di sebelahnya.


“Bagaimana kabarmu belakangan ini?” tanya Budi dengan nada lembut namun penuh perhatian. Sebagai rekan kerja yang telah lama tinggal di Korea dan memahami baik budaya Indonesia maupun Korea, ia menjadi salah satu orang yang paling bisa memberikan pandangan objektif.


Nayla tersenyum tipis, menerima cangkir teh itu. “Lebih baik, terima kasih. Kami sudah membicarakan semuanya dengan terbuka.”


Budi mengangguk paham. “Aku mendengar sedikit dari Sari. Kalian memutuskan untuk tetap berteman dan saling menghormati jalan masing-masing. Itu keputusan yang tidak mudah diambil, tapi aku bisa melihat bahwa kalian memikirkannya dengan matang.”


“Aku tahu banyak orang mungkin berpikir kami melepaskan sesuatu yang berharga,” kata Nayla pelan, matanya menatap cangkir di tangannya. “Tapi aku juga sadar, memaksakan sesuatu yang tidak sejalan dengan apa yang kami yakini hanya akan membawa penderitaan di kemudian hari.”


“Kau benar,” jawab Budi dengan tegas. “Cinta memang penting, tapi ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa nilai dan prinsip yang menjadi pondasi hidup. Aku telah melihat banyak hubungan lintas budaya dan keyakinan. Ada yang berhasil menemukan jalan damai, tapi tidak sedikit pula yang akhirnya hancur karena salah satu pihak merasa harus mengorbankan jati dirinya demi yang lain. Itu bukan bentuk kebahagiaan yang sejati.”


Budi berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Ji Hoon adalah pria yang terhormat, itu terlihat dari caranya bersikap. Tapi perbedaan mendasar seperti keyakinan bukanlah hal yang bisa ditutup-tutupi selamanya. Suatu hari nanti, hal itu akan muncul kembali dalam bentuk cara mendidik anak, cara merayakan hari penting, hingga cara memandang kematian dan kehidupan setelahnya. Kalau sudah sampai di titik itu, akan jauh lebih sulit untuk mundur.”


Kata-kata Budi membuat Nayla merenung. Ia sadar, apa yang dikatakan rekan kerjanya itu benar adanya. Perbedaan iman bukan sekadar soal tempat ibadah, melainkan cara pandang menyeluruh terhadap kehidupan.


Sementara itu, di tempat lain, di kantor tempat Ju Ji Hoon bekerja, percakapan yang serupa juga terjadi. Saat jam makan siang, Park Min Woo dan Choi Seung Hyun mengajak Ji Hoon makan bersama di restoran dekat gedung perkantoran. Suasana di meja makan terasa santai, namun Park Min Woo segera menyentuh topik yang menjadi perhatiannya.


“Ji Hoon, aku melihat kau terlihat lebih tenang belakangan ini, meski terlihat juga ada beban yang tersisa,” kata Park Min Woo sambil mengaduk sup di hadapannya. “Aku mendengar ada perbincangan serius antara kau dan wanita Indonesia itu.”


Ji Hoon mengangguk pelan. “Kami sudah membicarakan semuanya. Kami sadar bahwa ada batas yang tidak bisa kami lewati tanpa mengorbankan apa yang kami yakini. Jadi, kami sepakat untuk tetap menjadi teman yang saling menghormati.”


Choi Seung Hyun, yang dikenal sebagai pria pragmatis dan selalu memikirkan masa depan dengan matang, menghela napas sebelum berbicara. “Sebagai rekan bisnismu, aku selalu melihat segala sesuatu dengan akal sehat. Aku tidak menilai mana yang benar atau salah dalam hal keyakinan, tapi aku melihat risikonya. Jika dua orang memiliki dasar hidup yang berbeda, maka jalan ke depannya akan penuh dengan tantangan.”


Ia menatap Ji Hoon dengan tatapan serius namun penuh perhatian. “Kau adalah pria yang sudah matang, Ji Hoon. Kau tahu apa yang kau butuhkan untuk hidup tenang. Jika memulai sebuah hubungan, terutama menuju pernikahan, maka harus ada kesepahaman yang utuh. Jika sejak awal sudah ada hal yang tidak bisa disamakan, maka perselisihan itu akan terus ada. Aku menghargai keputusanmu untuk tidak memaksakan keadaan, karena itu justru menunjukkan kedewasaanmu.”


Ji Hoon mendengarkan dengan saksama. “Aku tahu maksud kalian. Aku juga sempat berpikir bahwa mungkin ada jalan lain, tapi semakin aku memikirkannya, semakin aku sadar bahwa iman dan nilai yang dipegang Nayla bukanlah hal yang bisa dikompromikan, begitu juga dengan nilai yang telah membentuk diriku selama ini. Aku tidak ingin memintanya berubah, sama seperti aku tidak bisa begitu saja meninggalkan warisan nilai yang diajarkan orang tuaku.”


Park Min Woo menepuk bahu Ji Hoon pelan. “Kau tidak salah. Menghormati orang lain berarti menghormati apa yang membuatnya menjadi dirinya sendiri. Jika kau memintanya melepaskan imannya, maka kau mencintai bayangan dirimu sendiri, bukan dirinya yang sebenarnya.”


Di sore harinya, Nayla memutuskan untuk berjalan kaki menuju toko makanan milik Kartika Dewi. Ia merasa butuh suasana yang hangat dan sedikit masakan yang mengingatkannya pada tanah air. Sesampainya di sana, toko itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang Indonesia yang sedang menikmati makan siang. Kartika Dewi segera menyambutnya dengan senyum lebar.


“Nak Nayla, datanglah. Mau pesan apa hari ini?” tanya Kartika sambil menyeka tangannya di celemek.


“Boleh saya duduk sebentar saja, Bu? Mungkin pesan secangkir teh manis hangat,” jawab Nayla sopan.


Lihat selengkapnya