Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #17

Berjalan di jalan masing-masing

Sejak hari keputusan itu disepakati, suasana di antara Nayla dan Ju Ji Hoon berubah. Bukan menjadi dingin atau penuh kebencian, melainkan menjadi tenang—seperti air sungai yang akhirnya menemukan jalannya sendiri, meski tidak lagi mengalir berdampingan menuju muara yang sama. Keputusan untuk tidak melanjutkan hubungan sebagai sepasang kekasih, namun tetap menjaga rasa hormat dan persahabatan, bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, bagi keduanya untuk menyesuaikan hati dan pikiran agar dapat menerima kenyataan dengan lapang dada.

Di apartemen kecil yang ia tinggali bersama Sari Wijaya, Nayla sering menghabiskan waktu di dekat jendela, memandangi hiruk-pikuk kota Seoul yang tak pernah berhenti bergerak. Di luar sana, kehidupan terus berjalan: orang-orang berjalan tergesa-gesa menuju tempat kerja, anak-anak tertawa riang sambil berjalan pulang dari sekolah, lampu-lampu jalan mulai menyala perlahan saat senja tiba. Namun di dalam hatinya, Nayla merasa seolah-olah ia baru saja melewati badai yang dahsyat, dan kini sedang berusaha menenangkan ombak-ombak perasaannya yang masih bergejolak.

Sari Wijaya, yang telah menjadi saksi perjalanan hati sahabatnya itu sejak awal, selalu ada di sampingnya. Ia tidak pernah memaksakan pendapatnya, tidak pernah menyalahkan atau memuji secara berlebihan. Ia hanya mendengarkan, memberikan bahu untuk bersandar, dan sesekali mengucapkan kata-kata yang menenangkan. Malam itu, saat Nayla kembali termenung sambil memegang secangkir teh hangat, Sari mendekat dan duduk di hadapannya.

“Kau masih memikirkannya, ya?” tanya Sari dengan suara lembut.

Nayla mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca namun tidak lagi meneteskan air mata seperti minggu-minggu sebelumnya. “Aku pikir setelah kita memutuskan ini, hatiku akan terasa lebih ringan. Memang benar, beban keraguan itu hilang. Tapi… ada ruang kosong yang terasa begitu besar, Sari. Ji Hoon adalah orang yang baik. Dia mengerti aku, dia menghargai apa yang aku yakini. Tapi pada akhirnya, jalan kita memang berbeda.”

Sari menghela napas pelan, lalu meraih tangan Nayla dan menggenggamnya. “Itu wajar, Nayla. Hati manusia tidak bisa dipaksa untuk berhenti merasa dalam semalam. Kalian berdua telah berbagi cerita, tawa, dan air mata. Kalian telah saling mengisi sebagian hidup satu sama lain. Menghapus begitu saja adalah hal yang mustahil. Tapi ingatlah, keputusan ini diambil bukan karena kalian saling membenci, tapi karena kalian saling menghormati. Itu hal yang jauh lebih mulia daripada memaksakan sesuatu yang tidak mungkin.”

Perkataan sahabatnya itu mengingatkan Nayla pada apa yang pernah dikatakan Rina Amara, penasihat konselingnya. Beberapa hari setelah percakapan terakhirnya dengan Ji Hoon, Nayla sempat datang menemui Rina di kampus. Di ruangan yang tenang dan penuh dengan buku-buku itu, Rina mendengarkan dengan saksama sebelum berbicara.

“Cinta yang sejati bukanlah tentang memiliki atau menguasai, Nayla. Banyak orang mengira jika mereka saling mencintai, maka segala perbedaan dapat dihilangkan. Namun ada hal-hal yang menjadi inti jati diri seseorang—seperti keyakinan—yang tidak bisa diubah tanpa merusak dirinya sendiri. Kalian berdua telah memilih jalan yang sulit namun jujur: memilih untuk tetap menjadi diri sendiri, sambil tetap menghargai keberadaan orang lain. Itu bukan kegagalan. Itu adalah bentuk kedewasaan yang jarang dimiliki banyak orang.”

Kata-kata itu terus terngiang di benak Nayla. Ia sadar, jika ia memaksakan dirinya untuk melanggar prinsip hidupnya, atau meminta Ji Hoon mengubah keyakinannya, maka hubungan itu tidak akan pernah tumbuh dengan damai. Akan selalu ada pertanyaan, ketakutan, dan penyesalan yang mengintai di masa depan. Dan itu bukanlah cinta yang sehat.

Di sisi lain kota, Ju Ji Hoon juga merasakan hal yang sama. Ia kembali ke rutinitasnya, namun ada perubahan yang terasa oleh orang-orang di sekitarnya. Ia tidak lagi sering hadir di kafe milik Lee Eun Hee pada jam-jam tertentu seperti dulu, dan saat di kantor, meski tetap profesional dan bekerja dengan giat, matanya sering kali terlihat sedang memikirkan sesuatu yang dalam.

Kim Soo Jin, tetangga dan sahabatnya sejak lama, adalah orang pertama yang menyadari perubahan itu. Suatu sore, ia mampir ke apartemen Ji Hoon membawa beberapa makanan buatan ibunya. Saat melihat Ji Hoon yang sedang duduk diam di ruang tamu, memandangi foto-foto lama di meja, Soo Jin duduk di sampingnya.

“Kau baik-baik saja, Ji Hoon?” tanyanya lembut.

Ji Hoon tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya mencapai matanya. “Aku baik, Soo Jin. Hanya butuh waktu, mungkin.”

“Kau tidak perlu berpura-pura di depanku. Aku tahu betapa berartinya wanita itu bagimu. Aku melihat bagaimana kau berubah sejak mengenalnya—menjadi lebih terbuka, lebih memahami perbedaan. Tapi aku juga tahu, keputusan yang kalian ambil adalah keputusan yang paling jujur yang bisa diambil.”

Ji Hoon mengangguk perlahan. “Ya, dia wanita yang luar biasa. Teguh pada pendiriannya, lembut namun kuat. Aku tidak pernah menyalahkan dia atas apa yang dia yakini. Aku bahkan menghormatinya karena itu. Tapi aku sadar, ada batas yang tidak bisa kita lewati tanpa salah satu dari kita harus mengorbankan bagian terpenting dari dirinya sendiri. Dan aku tidak ingin dia melakukan itu, begitu pula aku tidak bisa memaksakan diriku untuk berubah.”

“Kau tidak salah,” sahut Soo Jin tegas. “Kalian berdua yatim piatu, kalian sama-sama tahu betapa berharganya pegangan hidup. Baginya, agamanya adalah penopang sejak ia sendirian. Bagimu, nilai-nilai yang kau pegang adalah warisan orang tuamu yang kau jaga sepenuh hati. Memaksakan persatuan hanya akan melukai kalian berdua. Menjadi sahabat yang saling mendukung, itu jauh lebih baik daripada menjadi pasangan yang saling menyakiti karena perbedaan.”

Lihat selengkapnya