Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #19

Pertemuan di Masa Depan

Waktu berjalan terus tanpa terasa, membawa perubahan musim di kota Seoul yang empat kali berubah dalam setahun. Daun-daun gugur yang pernah menghiasi jalanan telah lama berganti dengan salju, lalu mekarnya bunga sakura, hingga kini kembali ke musim panas yang cerah. Satu tahun telah berlalu sejak Nayla dan Ju Ji Hoon memutuskan untuk berjalan di jalan masing-masing.

Selama setahun itu, kehidupan keduanya berjalan dengan tenang dan teratur. Nayla telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam pekerjaannya. Berkat ketekunan dan wawasan yang semakin luas, ia mendapatkan promosi jabatan menjadi kepala bagian administrasi internasional—sesuatu yang jarang dicapai oleh tenaga kerja asing dalam waktu singkat. Kabar itu membuatnya sangat bahagia, apalagi ia tahu bahwa pencapaiannya ini tidak lepas dari pelajaran hidup yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih matang dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Di apartemennya bersama Sari Wijaya, malam itu mereka merayakan pencapaian itu dengan makanan sederhana buatan sendiri. Sari, yang juga telah mendapatkan kontrak kerja yang lebih baik, tersenyum lebar melihat sahabatnya.

“Aku bangga padamu, Nayla. Siapa sangka setahun yang lalu kau sempat merasa hancur dan bingung, sekarang kau bisa berdiri tegak dengan prestasi yang membanggakan,” ucap Sari sambil menuangkan teh hangat.

Nayla tertawa kecil, matanya berbinar. “Aku juga tidak menyangka, Sari. Rasanya seperti baru kemarin aku tiba di sini dengan segala ketakutan. Tapi semua pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, membawaku ke titik ini. Dan aku berterima kasih untuk itu.”

“Ngomong-ngomong, apa rencanamu setelah ini? Kau pernah bilang ingin pulang sebentar ke Indonesia, kan?” tanya Sari.

“Ya, tepatnya dua minggu lagi aku akan cuti panjang. Aku ingin berkunjung ke makam orang tuaku, dan juga mempertimbangkan apakah akan melanjutkan karir di sini atau pulang dan membuka usaha kecil yang bisa membantu warga desa,” jawab Nayla dengan pandangan yang jauh.

Di sisi lain kota, Ju Ji Hoon juga mengalami kemajuan yang signifikan. Proyek pengembangan properti yang ia rintis bersama Choi Seung Hyun berjalan sangat lancar dan mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Keberhasilannya itu tidak hanya karena kecerdasan bisnisnya, tetapi juga karena pendekatannya yang lebih terbuka dan mampu memahami kebutuhan berbagai kalangan masyarakat—sesuatu yang mulai ia pelajari sejak mengenal Nayla.

Suatu sore, saat rapat evaluasi proyek selesai, Park Min Woo menepuk bahu Ji Hoon dengan senyum kagum. “Selamat, Ji Hoon. Proyek ini sukses besar. Cara kau menangani masalah dengan warga setempat minggu lalu sangat bijaksana. Kau tidak memaksakan kehendak, tapi mencari jalan tengah yang menguntungkan semua pihak.”

Ji Hoon tersenyum tipis. “Terima kasih, Min Woo. Aku belajar bahwa mendengar lebih penting daripada berbicara. Setiap orang memiliki alasan dan nilai yang mereka junjung tinggi, dan itu layak dihormati.”

Choi Seung Hyun yang mendengar percakapan itu ikut menambahkan, “Aku akui, cara pandangmu telah berubah. Dulu kau terlalu tegas dan berpegang pada aturan. Sekarang kau lebih manusiawi. Itu yang membuat bisnismu semakin dipercaya.”

Kim Soo Jin, yang sering bertemu Ji Hoon di akhir pekan, juga melihat perubahan itu. Ia tidak lagi melihat Ji Hoon sebagai pria yang pendiam dan tertutup, melainkan seseorang yang damai dengan dirinya sendiri.

“Kau bahagia, Ji Hoon?” tanya Soo Jin suatu hari saat mereka berjalan-jalan di taman kota.

“Ya, aku bahagia. Aku merasa hidupku memiliki arah yang jelas. Aku telah menerima apa yang ada dan mensyukuri setiap pelajaran yang datang,” jawab Ji Hoon jujur.

Di tengah kesibukan masing-masing, hubungan mereka tetap terjalin sebagai sahabat yang sopan. Kadang-kadang mereka saling mengirim pesan singkat di hari raya atau saat mendengar kabar baik, tanpa memaksakan diri untuk sering bertemu. Mereka memahami bahwa jarak yang wajar justru membuat rasa hormat itu tetap terjaga dengan baik.

Namun, takdir terkadang memiliki cara sendiri untuk mempertemukan kembali dua orang yang telah memberikan arti penting dalam hidup satu sama lain.

Siang itu, cuaca di Seoul sangat cerah. Nayla memutuskan untuk berjalan-jalan santai sebelum mulai membereskan barang-barang untuk persiapan pulang kampung. Tanpa sadar, langkah kakinya membawanya menuju sebuah tempat yang sangat ia kenal—kafe milik Lee Eun Hee. Ia ragu sejenak, lalu memutuskan untuk masuk sekadar mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi.

Lihat selengkapnya