Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #21

Di batas dua iman

Dua tahun telah berlalu sejak Nayla meninggalkan Seoul dan kembali ke tanah airnya. Waktu telah mengubah banyak hal, namun tidak mengubah esensi dari apa yang telah mereka pelajari. Di sebuah desa kecil yang asri di Jawa Tengah, Nayla kini dikenal sebagai wanita yang giat bekerja dan penuh inspirasi. Pusat pelatihan keterampilan yang ia dirikan telah berkembang pesat, menjadi tempat bagi pemuda-pemudi untuk belajar menjahit, mengolah makanan, dan memahami dunia luar tanpa harus meninggalkan akar budaya dan iman mereka.

Setiap sore, setelah kegiatan di pusat pelatihan selesai, Nayla sering duduk di beranda rumahnya sambil memandangi hamparan sawah yang hijau. Di tangannya, ia sering memegang buku catatan kecil yang pernah dikirimnya ke Ju Ji Hoon, salinan yang ia simpan sendiri. Di dalamnya tertulis berbagai pemikiran, dan salah satu kalimat yang paling sering ia baca adalah: “Perbedaan bukanlah tembok, melainkan jendela yang memperluas pandangan.”

Suatu sore, saat angin berhembus lembut membawa aroma bunga melati, Sari Wijaya meneleponnya dari Seoul. Sejak Nayla pulang, mereka tetap berkomunikasi secara rutin.

“Nayla, kabar baik! Aku baru saja bertemu dengan Ji Hoon. Dia sedang dalam perjalanan bisnis singkat ke Indonesia, dan dia menyampaikan salamnya untukmu,” ujar Sari dengan nada antusias.

Nayla tertegun sejenak, lalu tersenyum lembut. “Terima kasih, Sari. Sampaikan juga salamku padanya. Semoga perjalanannya berjalan lancar dan aman.”

“Apakah kau ingin bertemu dengannya?” tanya Sari hati-hati. “Dia tidak memaksakan, hanya ingin memastikan kau nyaman.”

Nayla berpikir sejenak, lalu menjawab dengan tenang. “Jika waktunya memungkinkan dan dia berkenan, aku tidak keberatan. Namun, aku ingin pertemuan ini tetap sederhana dan penuh rasa hormat, seperti hubungan kita selama ini.”

Beberapa hari kemudian, di sebuah kafe kecil yang tenang di kota Pekalongan, pertemuan itu berlangsung. Ketika pintu kafe terbuka dan Ju Ji Hoon masuk, Nayla berdiri dan menyambutnya dengan senyum yang tulus namun sopan. Dua tahun berlalu membuat mereka terlihat sedikit lebih matang, namun sorot mata yang sama—penuh pengertian dan rasa hormat—masih terlihat jelas.

“Selamat datang di tanah airku, Ji Hoon,” sapa Nayla lembut.

“Terima kasih, Nayla. Tempat ini indah dan damai, persis seperti yang kau ceritakan dulu,” jawab Ji Hoon dengan senyum tipis.

Lihat selengkapnya