Langit sore di atas desa masih menyisakan warna jingga yang lembut saat Nayla dan Ji Hoon duduk kembali di taman kecil itu, setelah pertemuan panjang dengan ayahnya dan tokoh agama desa tadi. Angin berhembus pelan, menggerakkan dedaunan pohon jati di sekitar mereka, seolah ikut menahan napas menanti keputusan yang akan diucapkan. Tidak ada suara lain selain aliran sungai kecil di kejauhan dan detak jantung masing-masing yang terasa begitu nyata di keheningan itu.
Nayla menatap lurus ke arah hamparan sawah yang mulai menguning, sebelum akhirnya menoleh perlahan menatap mata Ji Hoon. "Ji Hoon, aku sudah merenungkan setiap kata yang kau ucapkan hari ini. Aku juga sudah berdiskusi panjang dengan ayah dan Pak Ustadz. Bukan aku ragu padamu, tapi aku harus memastikan bahwa apa yang kita jalani nanti tidak akan merusak apa yang kita yakini, dan tidak akan menyakiti hati siapa pun."
Ji Hoon mengangguk pelan, tangannya yang tergenggam erat di pangkuan perlahan terurai. "Aku paham sepenuhnya, Nayla. Aku tidak memintamu untuk memutuskan hari ini juga. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku siap menunggu selama yang kau butuhkan. Dan aku siap memenuhi segala syarat yang kau ajukan, asalkan syarat itu tidak memaksaku untuk mengkhianati jati diriku sendiri."
"Syratku sederhana," ucap Nayla dengan suara tenang namun tegas, matanya tak lepas dari wajah pria di hadapannya. "Pertama, aku tidak akan pernah mengubah keyakinanku. Aku akan tetap menjalankan ibadahku, merayakan hari rayaku, dan mengajarkan nilai-nilai yang aku yakini kepada anak-anak kita kelak. Kau tidak boleh melarangku, tidak boleh mengejeknya, dan tidak boleh memaksaku untuk mengikuti cara hidupmu. Kedua, aku juga tidak akan memintamu mengubah apa pun tentang dirimu. Kau tetap berhak menjalankan tradisi keluargamu, beribadah sesuai caramu, dan menjadi apa pun yang kau inginkan. Aku akan menghormatinya sepenuhnya. Ketiga, rumah kita nanti harus menjadi tempat yang aman bagi kita berdua. Tidak ada pihak yang merasa lebih benar atau lebih tinggi. Kita berjalan setara, bahu membahu."
Ji Hoon tersenyum lembut, sebuah senyum lega yang terlihat jelas di matanya. "Itu syarat yang sangat adil, Nayla. Dan aku menerima semuanya dengan hati terbuka. Aku bahkan ingin menambahkan satu hal lagi: nanti saat kita memiliki anak, biarkan mereka tumbuh dengan mengenal kedua dunia ini. Biarkan mereka belajar dari ajaranmu dan dari nilai-nilai keluargaku. Kelak saat mereka dewasa, biarkan mereka memilih jalan yang menurut mereka paling benar, tanpa kita paksa."
Perkataan itu membuat mata Nayla berkaca-kaca. Selama ini ia takut perbedaan mereka akan menjadi beban bagi anak-anak kelak, namun Ji Hoon justru melihatnya sebagai kekayaan yang bisa dibagikan. "Kau benar-benar memahami aku, ya?" bisiknya pelan.