Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #26

Jalan Beriringan Tanpa Berubah Arah

Sinar matahari pagi yang hangat menyelinap masuk lewat celah jendela beralun tipis, menyentuh permukaan meja kayu jati yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu di ruangan tengah rumah itu. Di atasnya tersusun rapi segala hal yang menjadi saksi langkah panjang mereka berdua: salinan janji yang ditulis dengan tinta hitam pekat, doa yang dirangkai dari dua sudut dunia yang berbeda, dan senyum yang tak pernah pudar meski rintangan datang silih berganti selama bertahun-tahun perjalanan mereka.

Hari itu bukanlah hari di mana salah satu dari mereka harus meninggalkan apa yang diyakininya sejak lahir. Bukan pula hari di mana satu harus menunduk mengikuti jalan yang ditempuh yang lain. Hari itu adalah hari di mana keduanya akhirnya mengukuhkan satu hal paling mendasar yang sudah mereka pelajari dari ribuan percakapan, ribuan air mata, dan ribuan detik yang dilewati berdampingan: bahwa mencintai seseorang bukan berarti memintanya berubah menjadi orang lain demi menyamakan diri, melainkan mendampinginya tetap menjadi dirinya yang paling tulus, teguh pada apa yang diyakini, dan tumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih baik.

Nayla berdiri di dekat jendela, memandang ke halaman depan yang kini penuh dengan hiasan sederhana namun bermakna. Bunga melati putih yang ia tanam sendiri sejak tiga bulan lalu kini sedang mekar penuh, mengeluarkan wangi lembut yang mengingatkannya pada halaman belakang panti asuhan tempat ia dibesarkan dulu. Hatinya bergetar pelan, bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur yang begitu meluap hingga nyaris tak tertampung lagi di dadanya.

Dulu, saat masih duduk sendirian di sudut kamar panti asuhan di tengah malam yang sepi, memeluk lutut sendiri karena merindukan sosok ayah dan ibu yang tak pernah sempat dikenalnya, ia pernah berpikir bahwa kisah hidupnya akan berakhir sepi, bahwa mimpi untuk memiliki tempat berpijak yang damai dan seseorang yang tulus menyayangi sepenuh hati selamanya hanya akan menjadi bisikan angin yang hilang ditelan waktu. Lebih lagi, saat ia menyadari bahwa hati ini jatuh kepada seseorang yang berjalan di jalan keyakinan yang berbeda, saat mendengar begitu banyak pendapat, pertanyaan, pandangan yang meragukan, bahkan menasihati untuk menghentikan semuanya, ia sempat yakin sepenuhnya bahwa kisah ini ditakdirkan berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan.

Namun Ju Ji Hoon tak pernah sekalipun membiarkan Nayla berjalan sendirian dalam keraguannya. Ia tidak datang membawa janji manis yang tak terbukti, melainkan datang dengan sikap, tindakan, kesabaran yang tak bertepi, dan penghormatan yang begitu dalam terhadap apa yang menjadi bagian paling penting dari kehidupan Nayla.

Langkah kaki yang lembut namun mantap terdengar mendekat dari belakang, lalu sepasang tangan hangat berhenti beberapa jengkal dari bahunya, sepenuhnya menghormati batas yang selalu Nayla pegang teguh.

"Kau sedang memikirkan apa, Sayang?" tanya suara berat yang sudah sangat ia kenal, suara yang selalu mampu meredakan badai apa pun yang berkecamuk di dalam dirinya.

Nayla membalikkan badannya perlahan, menatap sepasang mata yang sama persis seperti hari pertama mereka berpapasan di kedai teh itu: penuh ketulusan, lembut, dan tak ada satu pun bayangan niat untuk memaksa atau mengubahnya. "Aku hanya tidak percaya semuanya nyata, Ji Hoon. Dulu banyak orang bilang, bahkan aku sendiri sempat percaya, bahwa kita tidak akan pernah sampai di titik ini. Dulu semua orang bilang bahwa perbedaan ini akan membuat kita perlahan retak, hancur, dan berpisah."

Ji Hoon tersenyum lembut, lalu mengusap pelan sisa air mata yang menggenang di sudut matanya dengan ujung jari yang halus. "Memang banyak kisah yang berakhir begitu, Nayla. Bukan karena perbedaannya yang salah, melainkan karena kebanyakan orang mengira menyatukan dua hati berarti harus meleburkan segala hal hingga tak ada lagi sisa diri masing-masing. Sejak awal aku sadar, dan kau pun demikian: imanmu adalah cahaya yang menuntun setiap langkah hidupmu, hal yang menjaga hatimu tetap lurus. Imanku adalah arah yang selalu aku ikuti. Kita tidak akan saling merebut cahaya itu, Nayla. Kita akan menyandingkannya, sehingga terang yang kita miliki menjadi lebih luas, lebih terang, untuk kita melangkah bersama-sama. Tak ada yang kehilangan cahayanya, keduanya justru saling memperkuat."

Pagi itu, upacara pengukuhan janji mereka dilaksanakan dengan penuh ketenangan dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap kedua jalan keyakinan yang mereka anut. Di satu sisi, doa-doa dibacakan menurut tata cara yang Nayla pelajari sejak kecil, memohon agar senantiasa diberikan kekuatan untuk tetap lurus pada jalan yang dipercayainya, menjaga prinsip hidupnya, sekaligus kebijaksanaan yang luas untuk senantiasa mendampingi, menghormati, dan menyayangi orang yang kini menjadi pendamping hidupnya. Di sisi lain, permohonan tulus juga diucapkan sesuai dengan apa yang diyakini Ji Hoon, memohon agar ia senantiasa menjadi pendamping yang baik, pelindung, tempat pulang, dan tak pernah lupa menghormati batas, prinsip, serta keyakinan Nayla sepanjang masa hidupnya.

Tak ada paksaan sedikit pun. Tak ada satu bagian pun yang membuat salah satu dari mereka harus melanggar apa yang tertanam di dalam sanubari. Justru perlahan-lahan, setiap orang yang hadir menyadari makna sesungguhnya dari apa yang sedang mereka bangun: bahwa dua pohon besar yang tumbuh dari akar yang berbeda, tetap bisa tumbuh berdampingan, rindang, kuat, meneduhkan siapa pun yang berteduh di bawahnya, tanpa harus mencabut atau mengubah arah tumbuh akar masing-masing demi menyatu.

Siang harinya, saat semua tamu undangan sudah berpamitan dan hanya tersisa sahabat-sahabat terdekat yang sudah ada sejak awal perjalanan mereka, Sari berjalan mendekat lalu memeluk Nayla erat sekali dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku sungguh sangat bangga padamu, La. Lebih dari apa pun. Bukan karena hari ini kau resmi didampingi seseorang, melainkan karena kau tidak pernah sekalipun melepaskan apa yang menjadi pegangan hidupmu demi sebuah hubungan. Dan aku juga sangat bangga pada Ji Hoon, karena dia memahami satu hal yang banyak orang tidak mengerti: bahwa mencintaimu berarti mencintai segala hal yang membentuk dirimu, termasuk iman yang hidup di dalam jiwamu."

Budi yang berdiri tak jauh dari sana ikut tersenyum tulus sambil mengangguk mantap, "Banyak pasangan yang akhirnya hancur tepat di titik ini. Banyak yang akhirnya menyerah, atau memaksa salah satu pihak mengikuti keinginan yang lain. Tapi kalian? Kalian justru menjadikan hal yang dianggap masalah besar itu sebagai pondasi agar kalian terus saling belajar, saling menghormati. Sungguh sesuatu yang sangat langka, dan patut dicontoh."

Hari-hari pertama setelah hari bersejarah itu mengajarkan mereka hal-hal kecil namun sangat berharga yang tak pernah diajarkan oleh siapa pun. Setiap kali waktu tiba untuk Nayla melaksanakan kewajiban ibadahnya, Ji Hoon akan memastikan tempat itu tenang, tertutup, tak ada gangguan sedikit pun, dan ia akan pergi menunggu dengan tenang di ruangan lain atau di halaman luar. Begitu pula saat hari perayaan penting bagi keyakinan Ji Hoon tiba, Nayla akan ikut menemaninya hadir, berdiri di tempat yang pantas, mendengarkan dengan penuh rasa hormat, dan turut mendoakan segala kebaikan untuknya sesuai dengan apa yang diyakininya. Tidak ada yang merasa tersisih, tidak ada yang merasa diasingkan, karena keduanya sadar bahwa menghormati ibadah masing-masing adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata.

Suatu sore saat hujan turun rintik-rintik membasahi halaman rumah, membawa wangi tanah basah yang menenangkan, mereka duduk berdua di beranda sambil meminum teh jahe hangat buatan Nayla. Hening sejenak menyelimuti mereka, hanya terdengar suara butiran air yang jatuh ke daun-daun di sekitar.

"Kau tidak pernah merasa berat, Ji Hoon? Kadang aku masih merasa takut, kalau suatu hari nanti salah satu dari kita akan merasa lelah karena terus-menerus menjaga batas ini, atau mulai meminta perubahan dari yang lain," ujar Nayla pelan memecah kesunyian sore itu, mengeluarkan keraguan yang sesekali masih sempat muncul.

Ji Hoon meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja kecil, lalu menatap lurus ke manik mata Nayla dengan pandangan yang begitu tulus dan tenang. "Kau tahu apa yang membuatku tidak pernah merasa sedikit pun terbebani? Justru karena kau teguh pada pendirianmu, Nayla. Kalau hari ini kau begitu mudah mengubah apa yang kau yakini hanya demi bisa bersamaku, maka besok pun kau bisa saja mengubah hal lain tentang dirimu demi hal apa pun. Keteguhan hatimu pada imanmu itulah yang membuatku yakin sepenuhnya, bahwa ketulusanmu mencintaiku pun tak akan pernah goyah atau berubah. Dan begitupun sebaliknya, aku berharap kau juga bangga melihatku tetap berdiri kokoh pada apa yang aku percayai sebagai jalan kebenaranku."

Waktu terus berjalan berganti minggu, berganti bulan, hingga tak terasa sudah genap satu tahun berlalu sejak hari mereka mengikat janji suci itu. Tentu saja bukan berarti perjalanan mereka selalu mulus tanpa hambatan. Tentu saja ada hari-hari di mana mereka bertengkar, ada kesalahpahaman, ada saat-saat di mana lelah mendatangi. Namun satu hal yang tak pernah berubah: tak pernah sekalipun perdebatan itu berakhir atau bermula dengan kalimat "Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau harus mengikuti apa yang aku yakini."

Lihat selengkapnya