Di Batas Dua Iman

Maghfira Izani
Chapter #27

Cahaya yang tetap bersinar di ujung jalan


Musim gugur telah kembali menyelimuti kota Seoul untuk kesepuluh kalinya sejak hari itu, hari di mana Nayla dan Ju Ji Hoon saling mengucapkan janji suci di bawah naungan dua keyakinan yang berbeda namun saling melengkapi. Daun-daun ginkgo berwarna keemasan melayang jatuh perlahan, menutupi trotoar tempat mereka berjalan pulang dari tempat ibadah masing-masing setiap minggunya—ia dari masjid sederhana di pinggir kota, dan Ji Hoon dari kuil yang tenang di bukit kecil di seberang lembah. Langkah mereka selalu bertemu di persimpangan jalan yang sama persis, persis seperti saat dua hati itu pertama kali berani mengakui perasaan satu sama lain, tanpa memaksa, tanpa menuntut, hanya saling menerima apa adanya.

Matahari sore memancarkan cahaya lembut keemasan, menyentuh wajah Nayla yang kini tampak lebih tenang, lebih damai, meski bekas-bekas perjuangan masih terasa jelas dalam setiap kenangan yang ia miliki. Ia mengenakan gamis berwarna krem yang nyaman di kulit, jilbab yang menutup sempurna sesuai prinsip yang ia pegang teguh sejak kecil, sejak masa-masa sulitnya tumbuh besar sendirian di panti asuhan tanpa ayah dan ibu di sisinya. Di sampingnya, Ji Hoon berjalan santai mengenakan kemeja katun berwarna cokelat tua, rambut hitamnya yang mulai diselingi beberapa helai uban tipis tertiup angin sore yang sejuk. Wajahnya tetap sama—selalu teduh, selalu menyimpan senyum tulus yang tak pernah berubah sejak hari pertama mereka saling bertatapan di kedai teh sederhana bertahun-tahun silam.

"Kau teringat tidak, Nayla?" ucap Ji Hoon tiba-tiba sambil menunjuk pohon tua besar di sudut jalan itu. "Di sini kau pernah berkata bahwa kita tidak akan sanggup melaluinya bersama. Bahwa batas antara dua iman ini terlalu tinggi untuk kita panjat bersama."

Nayla menghentikan langkahnya sejenak, menatap pohon yang cabangnya kini makin rimbun dan rindang itu. Senyum tipis mengembang di bibirnya, matanya sedikit berkaca-kaca bukan karena sedih, melainkan karena syukur yang meluap-luap memenuhi dadanya. "Aku ingat sekali. Bahkan saat itu aku hampir menyerah sepenuhnya. Aku kira Tuhan tidak akan meridhoi jalan yang kami tempuh ini. Aku kira semua doa yang aku panjatkan setiap sujudku hanya akan menjadi angin lalu yang tak pernah didengar."

"Namun ternyata Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk menjawabnya," sambung Ji Hoon pelan, tangannya meraih jemari Nayla dengan lembut, tidak berlebihan, penuh rasa hormat sebagaimana ia selalu lakukan. "Bukan dengan mengubah salah satu dari kita, melainkan dengan mengubah hati kita berdua agar mampu memahami bahwa kasih sayang sejati tidak bertentangan dengan jalan yang kita percayai."

Kembali melanjutkan langkah perlahan, keduanya menyusuri jalan setapak menuju rumah kecil yang kini telah menjadi tempat pulang paling nyaman bagi mereka berdua. Rumah itu tidak besar, tidak mewah seperti kediaman orang-orang terpandang di kawasan ini, namun setiap sudutnya penuh makna, penuh jejak perjuangan, tawa, air mata, dan kesepakatan yang dibangun perlahan dengan penuh kesabaran. Di teras depan sudah terlihat dua orang anak kecil sedang menanti—seorang putri berusia delapan tahun bernama Aisyah Ji In, dan seorang putra berusia enam tahun bernama Muhammad Jun Seo. Keduanya mewarisi mata jernih Nayla dan senyum hangat Ji Hoon, serta hati yang sejak dini diajarkan untuk menghormati setiap perbedaan yang ada di dunia ini.

"Mama! Ayah!" seru keduanya serempak berlari menyambut kedatangan mereka. Aisyah memeluk kaki ibunya, sedangkan Jun Seo langsung merangkul pinggang ayahnya dengan penuh semangat.

"Kalian sudah menanti lama sekali?" tanya Nayla sambil mengusap lembut kepala putrinya, lalu mencium kening putranya.

"Belum lama kok Ma. Tadi kami baru selesai membaca buku cerita yang Mama janjikan," jawab Aisyah sambil menunjuk ke arah ruang tengah. Di sana terlihat jelas dua rak buku yang berdiri berdampingan: satu berisi kitab-kitab suci, riwayat hidup para nabi, dan tulisan-tulisan ulama besar yang dianut Nayla; di sebelahnya berdiri rapi ajaran-ajaran kebajikan, naskah sejarah leluhur, dan karya-karya filsuf yang diyakini Ji Hoon. Tidak ada yang dilarang, tidak ada yang disembunyikan. Sejak kecil anak-anak itu diajarkan bahwa di rumah ini, kebenaran tidak hanya datang dari satu sudut saja, melainkan bisa ditemukan di mana pun ada ketulusan hati.

Saat duduk bersama di ruang tamu yang hangat, Aisyah mengangkat tangannya pelan, menatap bergantian ke arah ibunya dan ayahnya. "Mama, Ayah... guru di sekolah kemarin bertanya padaku, apakah aku bingung memiliki dua jalan yang berbeda di rumah kami? Apakah aku merasa berat harus mempelajari keduanya?"

Nayla merasakan detak jantungnya berdegup agak kencang sejenak. Ia ingat betul bagaimana dulu ia takut hal seperti ini akan menjadi beban berat bagi buah hatinya kelak. Namun sebelum sempat ia menjawab, Ji Hoon sudah meletakkan tangannya di bahu putrinya dengan lembut.

"Lalu apa jawabanmu, Nak?" tanyanya tenang.

"Aku bilang, tidak berat Ayah. Justru aku merasa beruntung. Karena dari Mama aku belajar arti ketulusan, kesabaran, dan memohon pertolongan hanya kepada Sang Maha Esa. Dan dari Ayah aku belajar menghargai alam, berbakti kepada orang tua, dan selalu berbuat baik kepada sesama tanpa memandang siapa mereka. Bukankah itu hal yang sama tujuannya? Yaitu agar kita menjadi manusia yang lebih baik?"

Mendengar kalimat polos namun begitu dalam itu, air mata bahagia tak sanggup lagi ditahan oleh Nayla. Ternyata semua yang mereka tanamkan perlahan, perlahan, hari demi hari, malam demi malam tanpa henti—benar-benar berakar kuat di hati anak-anak mereka. Ji Hoon mendekap bahu istrinya, matanya pun berkaca-kaca bangga. "Itu jawaban yang sangat indah, Sayang. Lebih indah dari apa pun yang pernah bisa dikatakan orang dewasa sekalipun."

Malam semakin larut setelah makan malam bersama sederhana yang penuh canda tawa. Setelah anak-anak tertidur pulas, Nayla duduk sendirian sejenak di sudut teras sambil memandangi bulan purnama yang bersinar terang benderang di langit malam Seoul. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa-masa awalnya. Ia teringat hari-hari saat masih berada di panti asuhan, saat ia sering duduk sendirian persis seperti ini, bertanya-tanya apakah kelak ia akan memiliki tempat yang benar-benar menjadi miliknya sendiri, apakah kelak ia akan mendapatkan seseorang yang menerima dirinya apa adanya, termasuk keyakinan yang ia junjung tinggi. Ia teringat betapa seringnya ia menangis diam-diam, merasa takdirnya terlalu berat dibandingkan anak-anak lain yang memiliki keluarga lengkap.

Lalu bayangan Sari Wijaya melintas jelas di benaknya—sahabat terbaiknya yang setia menemani sejak hari pertama ia tiba di negeri asing ini, yang tidak pernah pergi walau banyak orang memalingkan muka. Kini Sari sudah menetap kembali di kampung halamannya, menikah dengan pria yang baik hati, namun komunikasi mereka tak pernah terputus, jarak tak pernah membuat persahabatan itu memudar. Begitu pula dengan Budi Santoso, Rina Amara, Dimas Pratama, serta seluruh sahabat dan kenalan lama yang pernah mendukung maupun menguji keteguhan hatinya. Semua pertemuan itu ternyata ada maknanya, semuanya adalah bagian dari perjalanan panjang yang membentuk dirinya menjadi Nayla yang seperti sekarang ini.

Lihat selengkapnya