Di Bawah Cahaya Masjid

Oleh: Ahmad Wahyudi

Blurb

Masjid itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Ia hanya menunggu siapa yang ingin pulang.

Di setiap Sabtu pagi, ada langkah-langkah kecil yang datang dengan mata setengah terjaga, membawa hati yang kadang penuh beban dunia. Mereka duduk di lantai yang sama, menghadap arah yang sama, tetapi membawa cerita yang berbeda-beda. Ada yang sedang mencari jawaban. Ada yang sedang memperbaiki diri. Ada pula yang hanya ingin merasa tidak sendirian.

Romadhan datang seperti guru yang lembut namun tegas. Ia mendidik tanpa suara keras. Ia mengajarkan sabar lewat lapar, mengajarkan syukur lewat dahaga, dan mengajarkan cinta lewat malam-malam panjang yang penuh doa. Di masjid itu, tarawih bukan sekadar rakaat, tetapi latihan setia. Sahur bukan hanya makan, tetapi panggilan kesadaran. Dan i"tikaf bukan sekadar diam, tetapi dialog sunyi antara hamba dan Tuhannya.

Hari-hari besar Islam menjadi penanda perjalanan. Maulid mengingatkan tentang akhlak. Isra Mi"raj mengingatkan tentang shalat. Tahun Baru Hijriyah mengingatkan tentang perubahan. Setiap momentum adalah undangan untuk memperbarui niat, memperbaiki arah, dan menguatkan ukhuwah.

Buku ini bukan tentang ceramah-ceramah yang sempurna.
Ia adalah kumpulan dakwah yang tumbuh dari lantai masjid, dari suara azan, dari air mata taubat, dan dari senyum persaudaraan.

Di dalamnya, ada Sabtu-Sabtu yang sederhana namun menguatkan.
Ada Romadhan yang mendidik jiwa.
Ada hari-hari besar yang menyadarkan bahwa hidup bukan hanya tentang dunia.

Dan pada akhirnya, semua bermuara pada satu pertanyaan:
Sudahkah kita benar-benar kembali?

Lihat selengkapnya