Kajian Tarhib Ramadhan yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Firmansyah, Lc. mengingatkan bahwa kerinduan terhadap bulan Ramadhan adalah tanda hidupnya iman dalam hati seorang Muslim. Tidak semua orang merindukan Ramadhan, dan tidak setiap hati merasa bergetar ketika bulan mulia itu disebut. Maka ketika hati kita merasakan kegembiraan dan harapan menyambut Ramadhan, itu adalah karunia iman yang patut disyukuri.
Beliau mencontohkan bagaimana para sahabat Rasulullah ﷺ mempersiapkan diri jauh sebelum Ramadhan tiba. Mereka berdoa berbulan-bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan Ramadhan. Kerinduan itu bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi wujud kesadaran bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk mendekat kepada Allah dan memperbaiki diri.
Tidak hanya itu, para sahabat juga berdoa setelah Ramadhan berlalu agar amal ibadah mereka diterima oleh Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan bagi mereka bukan sekadar menjalankan kewajiban, tetapi momentum ibadah yang benar-benar dijaga kualitas dan keikhlasannya. Mereka takut jika amalnya tidak diterima, meskipun telah bersungguh-sungguh.
Kerinduan kepada Ramadhan juga tercermin dalam doa yang diajarkan: memohon keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta dipertemukan dengan Ramadhan. Ini mengajarkan bahwa persiapan menuju Ramadhan dimulai sejak jauh hari, dengan membersihkan hati, memperbaiki niat, dan memperbanyak amal.
Akhirnya, kajian ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita hanya menunggu Ramadhan secara kalender, atau benar-benar menanti dengan hati yang rindu? Jika iman ada dalam dada, maka Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi, tetapi tamu agung yang disambut dengan doa, persiapan, dan harapan akan perubahan diri.