Ditegaskan bahwa bulan Ramadan bukanlah alasan untuk menjadi tidak produktif. Justru sejarah mencatat bahwa banyak peristiwa besar dan monumental terjadi pada bulan yang penuh berkah ini. Ramadan bukan bulan kelemahan, melainkan bulan kekuatan, strategi, dan kemenangan.
Salah satu peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadan adalah Perang Badar. Perang ini terjadi pada tahun kedua Hijriah, di tengah kondisi kaum Muslimin yang sedang berpuasa. Jumlah pasukan Muslim hanya sekitar 313 orang, sedangkan pasukan musuh mencapai kurang lebih 1.000 orang. Secara logika kekuatan, kaum Muslimin jauh lebih sedikit. Namun dengan pertolongan Allah dan keteguhan iman, kemenangan diraih. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa puasa tidak menghalangi perjuangan dan produktivitas.
Selain Perang Badar, sejarah juga mencatat persiapan Perang Khandaq serta Perang Tabuk melawan Romawi yang terjadi di bulan Ramadan. Momentum Ramadan justru menjadi penguat mental dan spiritual pasukan kaum Muslimin. Disiplin, kesabaran, dan ketahanan yang ditempa melalui puasa membentuk karakter tangguh dalam menghadapi ujian besar.
Peristiwa monumental lainnya adalah Fathu Makkah atau pembebasan Kota Makkah. Pada momentum ini, Rasulullah ﷺ dan para sahabat berhasil menaklukkan Makkah tanpa pertumpahan darah besar dan menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Ramadan menjadi saksi kemenangan tauhid atas kemusyrikan.
Bahkan dalam konteks kebangsaan Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 juga terjadi pada bulan Ramadan. Ini menunjukkan bahwa semangat perjuangan dan produktivitas tidak terhenti karena puasa. Ramadan justru menjadi bulan pembentukan karakter, keteguhan, dan keberanian dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.