Pada KSP Spesial Ramadan 1, Ustadz Supriyanto, Lc. mengangkat tema “Ramadhannya Para Sahabat”. Kajian ini mengajak jamaah untuk menengok bagaimana generasi terbaik umat Islam memaknai Ramadan sebagai momentum peningkatan derajat, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Pembahasan diawali dengan kisah mimpi Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu ‘anhu tentang dua sahabat dari suku Qudha’ah. Salah satu gugur syahid lebih dahulu, sementara yang lain wafat setahun kemudian di tempat tidur. Namun dalam mimpi itu, yang wafat belakangan justru masuk surga lebih dulu. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ia hidup lebih lama, sempat bertemu Ramadan berikutnya, berpuasa, dan shalat lebih banyak. Ini menunjukkan betapa berharganya satu Ramadan dalam kehidupan seorang mukmin.
Kesadaran akan nilai Ramadan membuat para sahabat menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Masjid-masjid diterangi, ibadah diperbanyak, dan hati mereka digerakkan untuk berlomba dalam kebaikan. Ramadan bukan hanya bulan menahan lapar, tetapi bulan kebangkitan ruhani.
Salah satu ciri utama Ramadhannya para sahabat adalah kedekatan mereka dengan Al-Qur’an. Diriwayatkan bahwa Jibril ‘alaihis salam setiap Ramadan datang menemui Rasulullah SAW untuk muraja’ah Al-Qur’an. Para sahabat meneladani hal itu dengan memperbanyak tilawah. Imam Malik rahimahullah bahkan menghentikan majelis haditsnya ketika Ramadan dan fokus membaca Al-Qur’an. Bagi mereka, Ramadan adalah bulan kembali sepenuhnya kepada Kalamullah.
Kedekatan itu bukan hanya kuantitas bacaan, tetapi penghayatan. Mereka membaca dengan rasa takut, harap, dan tunduk. Al-Qur’an menjadi cahaya yang membersihkan hati dari dosa dan menguatkan langkah dalam ketaatan. Tidak heran jika Ramadan selalu melahirkan generasi yang lebih kuat iman dan akhlaknya.
Selain tilawah, para sahabat juga dikenal sangat gemar berbagi makanan. Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu misalnya, hampir tidak pernah berbuka puasa sendirian. Jika tidak menemukan orang miskin untuk diajak berbuka, beliau merasa ada yang kurang. Bahkan diriwayatkan, beliau lebih memilih memberikan makanannya kepada orang lain dan berbuka dengan yang tersisa.
Ada pula kisah para sahabat yang ketika berbuka hanya memiliki sedikit makanan, namun tetap membaginya kepada yang lebih membutuhkan. Mereka memahami sabda Rasulullah SAW bahwa memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya. Ramadan bagi mereka adalah bulan kepedulian sosial yang nyata, bukan sekadar teori.