Pada malam ke-4 Ramadhan, di Pinggir Kali Srengseng, suasana Masjid GKM terasa khidmat. Dalam kultum Tarawih, Ustadz Achmad Muwafi, Lc. menyampaikan sebuah nasihat yang menggugah: pentingnya amar ma’ruf nahi munkar sebagai penopang keselamatan individu dan bangsa.
Beliau memulai dengan sebuah kisah hikmah yang diriwayatkan dalam beberapa atsar. Diceritakan bahwa ketika Allah memerintahkan malaikat untuk menghancurkan sebuah negeri yang telah dipenuhi kemaksiatan, para malaikat mendapati di tengah-tengah penduduknya ada seorang ahli ibadah. Ia dikenal sangat saleh, rajin shalat, tekun berzikir, dan menjaga diri dari dosa.
Melihat hal itu, malaikat pun merasa ragu. Mereka melapor kepada Allah, “Ya Allah, di sana ada fulan, hamba-Mu yang sangat taat dan ahli ibadah.” Seakan-akan malaikat berharap ada pengecualian bagi orang saleh tersebut.
Namun Allah memerintahkan, “Hancurkanlah kota itu beserta orang tersebut terlebih dahulu. Karena wajahnya tidak pernah berubah saat melihat kemaksiatan di hadapannya.” Maksudnya, ia memang tidak ikut bermaksiat, tetapi ia juga tidak menunjukkan kepedulian, tidak ada kemarahan karena Allah, tidak ada upaya menegur atau mencegah sesuai kemampuannya.
Di sinilah letak hikmahnya. Kesalehan pribadi tidak cukup jika tidak diiringi kepedulian sosial. Diam terhadap kemungkaran, padahal mampu bersuara, dapat bernilai sebagai bentuk pembiaran. Dalam batas tertentu, pembiaran itu menyeret seseorang pada akibat yang sama dengan pelaku maksiat.
Ustadz Achmad Muwafi kemudian menegaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban sesuai kadar kemampuan. Ia adalah penopang tegaknya masyarakat yang diridhai Allah. Tanpa itu, kemungkaran akan dianggap biasa, dosa menjadi budaya, dan hati perlahan kehilangan sensitivitasnya.