Malam ke-5 Ramadhan di Pinggir Kali Srengseng terasa berbeda. Dalam dialog penuh kehangatan di Masjid GKM, Ustadz DR Hari Susanto, Lc., M.A. mengajak jamaah merenungi satu persoalan besar: mengapa umat Islam yang jumlahnya besar justru terasa lemah dan mudah dipermainkan?
Beliau mengawali dengan mengingatkan sebuah nubuat Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Muhammad dan tercantum dalam hadis riwayat Abu Dawud. Rasulullah bersabda bahwa akan datang suatu masa ketika bangsa-bangsa memperebutkan umat Islam sebagaimana orang-orang memperebutkan makanan di atas nampan. Para sahabat bertanya, apakah saat itu jumlah kaum Muslimin sedikit? Rasulullah menjawab bahwa jumlahnya justru banyak, tetapi seperti buih di genangan air—banyak namun ringan, tak memiliki daya tekan.
Lebih jauh, Rasulullah menjelaskan bahwa Allah akan mencabut rasa takut musuh terhadap kaum Muslimin, dan menanamkan dalam hati mereka al-wahn. Ketika para sahabat bertanya apa itu al-wahn, beliau menjawab: cinta dunia dan takut mati. Sebuah penyakit hati yang membuat umat kehilangan keberanian, kehilangan visi akhirat, dan akhirnya kehilangan kualitas.
Dari sinilah Ustadz Hari Susanto menegaskan pentingnya fiqih prioritas. Kita hidup dengan waktu yang terbatas, harta yang terbatas, dan kemampuan yang juga memiliki batas. Sementara itu, permasalahan umat begitu banyak dan kompleks. Jika semua ingin diselesaikan sekaligus tanpa skala prioritas, energi akan habis tanpa hasil nyata.
Fiqih prioritas mengajarkan kita untuk mendahulukan yang paling penting, yang paling mendesak, dan yang paling berdampak. Ia menuntut kedewasaan berpikir: memilih kualitas daripada sekadar mengejar kuantitas. Bukan sekadar banyak kegiatan, tetapi kegiatan yang tepat sasaran. Bukan sekadar ramai perdebatan, tetapi kokoh dalam persatuan.
Beliau juga mengingatkan bahwa pendekatan fiqih yang benar adalah yang menyatukan, bukan memecah-belah. Rasulullah ﷺ memberi teladan bagaimana menjaga ukhuwah di tengah perbedaan, bagaimana menimbang maslahat dan mudarat, serta bagaimana memprioritaskan kekuatan umat daripada ego kelompok. Jika fiqih justru dijadikan alat untuk saling menyalahkan dan menceraiberaikan, maka kita telah kehilangan ruhnya.