LEBIH HINA DARI BANGKAI :
Suatu hari Rasulullah ﷺ berjalan melewati pasar di Madinah. Di tengah keramaian jual beli, beliau melihat bangkai anak kambing kecil yang cacat telinganya. Tidak ada yang peduli. Ia tergeletak hina, tak bernilai, bahkan menjijikkan.
Beliau mendekat, memegang telinganya, lalu mengangkatnya di hadapan para sahabat.
“Siapa yang mau membeli ini satu dirham?”
Para sahabat menjawab, “Demi Allah, kami tidak menginginkannya meskipun gratis.”
Maka beliau bersabda:
“Demi Allah, sungguh dunia itu lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di sisi kalian.”
(HR. Imam Muslim)
Kalimat itu seperti petir yang menyambar kesadaran. Dunia yang kita banggakan. Dunia yang membuat kita begadang. Dunia yang membuat kita bertengkar. Ternyata nilainya di sisi Allah lebih rendah daripada bangkai anak kambing itu.
Namun Islam tidak melarang kita bekerja dan meraih dunia. Allah berfirman:
“Carilah pada apa yang Allah karuniakan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash 77)
Boleh mengejar dunia.
Tapi jangan lupakan akhirat.
Karena saat kematian datang, semua yang kita banggakan tertinggal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga perkara yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka dua kembali, satu yang tinggal bersamanya. Yang tinggal adalah amalnya.”
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Bayangkan suasana pemakaman.
Tangisan pecah. Doa dilangitkan. Tanah ditimbun perlahan.