Batu merah. Sejauh mata memandang—tidak ada yang lain. Langit Mars lebih gelap dari ekspektasi, hampir ungu. Sekali Radit bernafas dalam suit, dia rasakan: udara di Mars lebih tipis dari kalkulasi. Tidak dangerous, bukan—still within acceptable parameter—tapi tipis.
Dia notasi itu dalam log. Data.
Base camp sudah setup ketika mereka tiba. Tenda utama berjejer dengan station komunikasi, solar panel yang merentang seperti sayap, battery storage yang besar. Infrastruktur. Pre-positioned supplies dari unmanned drone dua bulan lalu. Semua terlihat solid. Professional.
Radit berdiri di pinggiran camp dan melihat gunung.
Olympus Mons tidak terlihat seperti gunung dari sini. Itu adalah slope yang so gentle, so massive, bahwa horizon-nya kabur jadi geology bukan geografis. Dari sini, puncaknya tidak visible. Dia tahu ini dari data—slope average hanya lima derajat—tapi data dan physical reality adalah dua hal berbeda. Dia lihat slope meluas, meluas, meluas sampai dia tidak bisa distinguish antara tanah dan langit.
Dua puluh dua kilometer. Vertikal. Mereka akan climb itu dalam sebelas hari, dia sudah kalkulasi. Twelve hari max kalau ada delay minor.
"Pemandangannya," suara Budi dari belakang. Radit turn. Budi berdiri di entrance tent, suit masih pada, helm under arm. "Tidak terlihat seperti gunung."
"Itu karena slope-nya," Radit bilang. Automatic response. Data transfer. "Shield volcano. Slope rata-rata lima derajat. Dari elevasi kita sekarang, puncak masih delapan belas kilometer di atas. Terlalu jauh untuk visible dari sini."
Budi diam. Lihat gunung juga, sama seperti Radit.
"Pernah climb apapun yang tidak terlihat seperti gunung?" Budi tanya.
Radit pikir. Denali tidak flat. K2 tidak flat. Everest definitely tidak flat. Bahkan Kilimanjaro—gentle climb, tapi masih terlihat berbentuk gunung.
"Tidak," dia jawab.
"Baik," Budi bilang. Dia turn balik masuk tent. "Mulai dari sini, semuanya berbeda."
Enam bulan sebelumnya—Jakarta, kantor Radit
Delapan orang duduk di ruang meeting. Radit lihat mereka dan think: ini adalah the best team.
Budi di sebelahnya, militer bearing masih kuat meskipun dia already retire. Agung dengan laptop, mulai presentation tentang equipment spec. Sita quiet di sudut, observe semuanya. Kira with notebook, merekam setiap word. Dinda di phone, probably checking her Instagram—tapi Radit know she's focused, just. Different way. Rani dengan folder penelitian. Irfan dengan camera already, documenting even meeting ini.
Mereka semua have seven summits.
Ini adalah point Radit buat ketika announce ekspedisi: "Kita tidak need to prove kita bisa climb. Kita already prove itu. Ini adalah next level. Ini adalah untouched. Ini adalah ultimate."
Budi raise tangan. "Risk assessment?"
"Mars expedition standard protocol," Radit jawab. "Equipment tested dalam condition simulasi. Oksigen consumption calculate dengan margin thirty percent. Descent route sudah model dengan geological data. Contingency plan existing untuk setiap scenario possible."
"Equipment tested siapa?" Budi tanya.
"Agung's company provide semua apparatus. Aerospace standard. They test untuk extreme environment—"
"Exterior planet yang berbeda dengan simulate," Budi cut him off. Bukan aggressive, just direct. Military habit. "Satu hal climb Denali. Denali punya rescue coordinate. Mars tidak punya."
Radit nod. "Correct. Tapi itu exactly why we're here. Challenge itu bukan problem. Challenge itu adalah point."
Sita dari sudut: "Groupthink risk tinggi. Delapan orang, semua motivated oleh same goal, isolated environment, no external check. Itu dangerous."
"Kita semua profesional," Radit bilang. "Kita tahu warning sign. Kita tahu how to check each other."
"Professional tidak prevent groupthink," Sita bilang. "Banyak disaster professional team terjadi exactly karena overconfidence mereka. Columbia, Challenger—"
"Itu aerospace disaster," Agung bilang. "Bukan climbing expedition."
"Psychology sama," Sita bilang. Dia look at Radit. "Setiap orang di ruangan ini punya obsesi dengan achievement ini. Itu bagus untuk motivation. Tapi obsesi bisa cloud judgment."
Radit feel irritation. Ini adalah psychologist thing—always suspicious, always looking untuk hidden problem. Real world tidak work seperti itu. Real world work dengan data, dengan preparation, dengan confidence.
"Sita," Radit bilang, voice calm. "Ketakutan itu normal. Tapi we have protocol untuk every situation. Data show risk acceptable. Psychology—itu intangible. We can't plan untuk intangible. We plan untuk data."
Sita don't argue. Just nod slow. Tapi Radit lihat di matanya: she don't believe.
Budi also quiet. Tidak argue, tapi juga tidak seem convinced.
Kira write something in notebook. Probably contingency addition.
Radit continue presentation. Oksigen calculations. Route timeline. Equipment manifest. Data, data, data. By end of meeting, Budi nod approval. Sita diam. Agung start design refinement. Kira add seventeen contingency scenario. Dinda already planning content strategy. Rani start literature review tentang Martian geology. Irfan film semua itu, already thinking tentang documentary angle.
Mereka commit.
And Radit think: mereka percaya. Mereka percaya pada me. Mereka percaya pada preparation. Mereka percaya bahwa obsesi ini justified karena data support.
Radit don't think tentang Sita's warning. Or Budi's skepticism. Because data don't support fear. Data support climb.