Di Bawah Dua Puluh Dua Kilometer

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #3

RADIT - HARI PERTAMA

Batu merah. Sejauh mata memandang—tidak ada yang lain. Langit Mars ternyata lebih gelap dari ekspektasi, nyaris sepekat warna ungu. Sekali Radit bernapas di dalam baju pelindungnya, dia langsung merasakan kenyataan itu: udara di Mars jauh lebih tipis daripada hasil kalkulasi. Tidak sampai di tahap berbahaya, bukan—masih dalam batas parameter yang bisa diterima—tetapi terasa sangat tipis.

Dia mencatat temuan itu di dalam log. Sebagai sebuah data.

Pangkalan utama sudah berdiri tegak ketika mereka tiba. Tenda utama berjejer rapi dengan stasiun komunikasi, panel surya yang merentang lebar seperti sepasang sayap, dan unit penyimpanan baterai yang masif. Sebuah infrastruktur yang matang. Semua ini adalah pasokan yang sudah ditempatkan lebih dulu oleh drone tanpa awak dua bulan lalu. Semuanya terlihat kokoh. Profesional.

Radit berdiri di pinggiran kamp, lalu mengarahkan pandangannya menuju gunung itu.

Olympus Mons sama sekali tidak terlihat seperti gunung dari titik ini. Lerengnya begitu landai, begitu masif, hingga garis cakrawalnya kabur dan melebur—berubah menjadi bentang geologi, bukan lagi sekadar geografis. Dari sini, puncaknya tidak kasatmata. Dia tahu hal ini dari data—kemiringan rata-ratanya hanya lima derajat—tetapi data dan realitas fisik adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda. Dia menyaksikan lereng itu meluas, meluas, dan terus meluas hingga dia tidak bisa lagi membedakan mana tanah dan mana langit.

Dua puluh dua kilometer. Vertikal. Mereka akan mendaki rute itu dalam sebelas hari, begitu hasil kalkulasinya. Dua belas hari maksimal jika terjadi penundaan minor.

"Pemandangannya," sebuah suara terdengar dari belakang, itu suara Budi. Radit berbalik. Budi sudah berdiri di pintu masuk tenda, masih mengenakan baju pelindung lengkap, dengan helm yang dijepit di bawah lengan. "Sama sekali tidak terlihat seperti gunung."

"Itu karena karakteristik lerengnya," sahut Radit. Sebuah respons otomatis. Transfer data. "Gunung api perisai. Kemiringan rata-ratanya hanya lima derajat. Dari elevasi kita sekarang, puncaknya masih delapan belas kilometer di atas kepala. Terlalu jauh untuk bisa terlihat dari sini."

Budi terdiam. Dia ikut menatap gunung itu, sama seperti yang dilakukan Radit.

"Pernah mendaki apa pun yang bentuknya tidak terlihat seperti gunung?" tanya Budi kemudian.

Radit berpikir sejenak. Denali tidak sedatar ini. K2 tidak datar. Everest jelas-jelas tidak datar. Bahkan Kilimanjaro—pendakian yang landai—masih terlihat jelas memiliki bentuk sebuah gunung.

"Tidak," jawabnya jujur.

"Baik," ucap Budi. Dia berbalik untuk kembali masuk ke dalam tenda. "Mulai dari titik ini, semuanya akan berbeda."

Enam Bulan Sebelumnya — Kilas Balik Jakarta

Delapan orang duduk mengitari ruang rapat. Radit memandangi mereka satu per satu dan membatin: ini adalah tim terbaik yang pernah ada.

Budi duduk di sebelahnya, pembawaan militernya masih terasa kuat meskipun dia sudah pensiun. Agung sibuk dengan laptopnya, mulai mempresentasikan spesifikasi peralatan. Sita duduk tenang di sudut ruangan, mengobservasi segalanya. Kira memegang buku catatan, merekam setiap kata yang terucap. Dinda menatap layar ponselnya, barangkali sedang memeriksa akun Instagram-nya—tetapi Radit tahu Dinda tetap fokus, hanya saja dengan caranya yang berbeda. Rani memegang folder berisi penelitian. Sementara Irfan sudah siap dengan kameranya, mendokumentasikan bahkan hingga ke rapat ini.

Mereka semua adalah penakluk Seven Summits.

Inilah poin utama yang ditegaskan Radit ketika mengumumkan ekspedisi ini: "Kita tidak perlu lagi membuktikan bahwa kita bisa mendaki. Kita sudah membuktikannya. Ini adalah level berikutnya. Ini adalah wilayah yang belum tersentuh. Ini adalah pencapaian tertinggi."

Budi mengangkat tangannya. "Bagaimana dengan penilaian risikonya?"

"Protokol standar ekspedisi Mars," jawab Radit taktis. "Peralatan sudah diuji dalam kondisi simulasi. Konsumsi oksigen dikalkulasi dengan margin keamanan tiga puluh persen. Rute penurunan sudah dimodelkan menggunakan data geologis. Rencana darurat sudah disiapkan untuk setiap skenario yang mungkin terjadi."

"Peralatan itu diuji oleh siapa?" tanya Budi memburu.

"Perusahaan Agung yang menyediakan semua aparatusnya. Standar luar angkasa. Mereka mengujinya untuk lingkungan ekstrem—"

"Lingkungan planet luar itu berbeda dengan simulasi," Budi memotong kalimatnya. Tidak dengan nada agresif, hanya lugas. Kebiasaan militer. "Mendaki Denali itu satu hal. Denali punya koordinat penyelamatan. Mars tidak punya."

Radit mengangguk. "Tepat. Tapi justru karena itulah kita berada di sini. Tantangan itu bukan masalah. Tantangan itu adalah poin utamanya."

Sita menyahut dari sudut: "Risiko groupthink (pemikiran kelompok yang bias) sangat tinggi. Delapan orang, semua dimotivasi oleh tujuan yang sama, berada di lingkungan yang terisolasi, tanpa ada pemeriksaan dari pihak luar. Itu berbahaya."

"Kita semua adalah profesional," tegas Radit. "Kita tahu tanda-tanda peringatan. Kita tahu bagaimana cara saling memeriksa satu sama lain."

"Status profesional tidak bisa mencegah groupthink," sanggah Sita. "Banyak bencana yang menimpa tim profesional terjadi justru karena rasa percaya diri mereka yang berlebihan. Kasus Columbia, Challenger—"

"Itu bencana kedirgantaraan," potong Agung. "Bukan ekspedisi pendakian."

"Psikologinya sama saja," kata Sita tegas. Dia menatap langsung ke arah Radit. "Setiap orang di ruangan ini memiliki obsesi terhadap pencapaian ini. Itu bagus untuk motivasi. Tetapi obsesi bisa mengaburkan penilaian objektif."

Radit merasakan sedikit kekesalan. Ini adalah hal klise dari seorang psikolog—selalu curiga, selalu mencari-cari masalah yang tersembunyi. Dunia nyata tidak bekerja seperti itu. Dunia nyata bekerja dengan data, dengan persiapan, dan dengan rasa percaya diri.

"Sita," ujar Radit dengan suara yang diatur tetap tenang. "Ketakutan itu hal yang normal. Tapi kita memiliki protokol untuk setiap situasi. Data menunjukkan bahwa risikonya masih bisa diterima. Psikologi—itu adalah hal yang tidak berwujud. Kita tidak bisa membuat rencana untuk sesuatu yang tidak berwujud. Kita membuat rencana berdasarkan data."

Sita tidak mendebat lagi. Dia hanya mengangguk pelan. Namun, Radit bisa melihat dari sorot matanya: perempuan itu tetap tidak percaya.

Budi juga membisu. Tidak mendebat, tetapi tampaknya juga tidak sepenuhnya yakin.

Kira menuliskan sesuatu di buku catatannya. Kemungkinan besar menambahkan poin rencana darurat.

Lihat selengkapnya