Di Bawah Dua Puluh Dua Kilometer

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #4

DINDA - HARI KEDUA & KETIGA

Dinda memeriksa ponselnya. Tidak ada sinyal. Layar gawai itu sudah membisu sejak mereka mengenakan baju pelindung pagi ini.

Sinyal dari Mars menuju Bumi hanya bisa bekerja melalui stasiun pangkalan utama—itu pun dengan lebar pita (bandwidth) yang sangat terbatas, waktu tunda (delay) selama tujuh menit, dan proses unggah yang mustahil dilakukan secara seketika (real-time). Semua rekaman video harus dikumpulkan terlebih dahulu dan ditahan sampai mereka kembali ke Bumi nanti.

Dia sudah mengetahui hal ini sebelumnya. Dia bahkan sudah merencanakannya matang-matang. Namun, mengetahui teori dan mengalami langsung realitasnya adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda.

Saat ini, para pengikut (subscriber) di kanal YouTube miliknya barangkali sedang menggulir video terakhir yang dia unggah. Sebuah vlog pendakian luar ruangan di Kilimanjaro tiga bulan lalu.

Komentar-komentar baru berdatangan dengan sangat lambat—tingkat interaksi (engagement) mereka sudah merosot tajam dari titik puncaknya pada enam bulan yang lalu.

Metrik analitik menunjukkan kenyataan yang pahit: usia audiensnya kini bergeser menjadi lebih tua, rasio gender berubah, dan rata-rata durasi tontonan terus menurun.

Algoritma internet tidak lagi berpihak kepadanya.

Dinda memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia mengalihkan fokusnya kembali pada tali pengaman.

Mereka mulai mendaki pada Hari Kedua tepat pukul 08.00. Lereng Olympus Mons terasa begitu landai—Radit berulang kali mengatakan bahwa karakteristik ini adalah sebuah keuntungan, bukan tantangan. Ini bukanlah dinding tebing curam yang menuntut keterampilan memanjat tingkat ekstrem.

Ini hanyalah sebuah perjalanan panjang berjalan kaki ke arah atas, dibantu dengan kondisi gravitasi yang jauh lebih ringan. Mengingat gravitasi Mars hanya 38% dari gravitasi Bumi, hal tersebut berarti—

"Rasanya seperti mengapung," ujar Dinda kepada Irfan yang berjalan tepat di belakangnya. Tubuhnya mulai terasa lebih enteng; setiap langkah kaki terasa mengangkat dirinya sedikit lebih tinggi daripada hasil kalkulasi. Pemberat pada baju pelindungnya memang berfungsi menjaga keseimbangan tubuh, tetapi sensasi yang dirasakannya tetap saja terasa aneh. "Setiap langkah terasa seperti melayang."

Irfan berada di belakangnya dengan kamera yang siaga, mendokumentasikan setiap momen yang tercipta. "Dokumentasinya bagus," komentar Irfan. Itu bukan sebuah pujian yang tulus, melainkan murni sebuah observasi teknis. "Efek dari gravitasi terlihat jelas dalam setiap pergerakanmu."

Dinda langsung menyesuaikan langkah kakinya. Dia mendadak menjadi sangat sadar diri. Setiap gerakan yang dia buat tiba-tiba terasa seperti sebuah 'pertunjukan' hanya karena kamera di depannya terus merekam.

Dia mendapati dirinya sendiri sedang melakukan hal ini—berakting di depan Irfan, berakting untuk calon penontonnya kelak saat dia mengunggah video ini ke Bumi. Namun, bersandiwara seperti ini justru membuat dirinya merasa sedikit lebih nyaman di tengah situasi asing yang mengintimidasi ini.

"Indikator oksigennya bagus?" tanya Dinda kemudian. Dia sebenarnya sudah memeriksa meteran di baju pelindungnya sendiri, tetapi melontarkan pertanyaan kepada Irfan adalah sebuah alasan agar percakapan tetap mengalir. Sebuah trik untuk menjaga pria itu tetap berjalan di dekatnya.

"Hijau," jawab Irfan pendek. Dia menyesuaikan sudut kameranya. "Regulasi suhu nominal. Napasmu terdengar lebih berat, tapi masih dalam rentang normal untuk tingkat upaya fisik seperti itu."

Irfan memahami setiap detail teknis tersebut karena dia sudah berpengalaman menjadi pemandu di banyak ekspedisi. Pemahaman detail yang sama persis seperti pengetahuan geologis atau ketahanan fisik anggota tim. Namun, cara Irfan menyampaikan detail-detail tersebut—datar, penuh observasi, dan sama sekali tidak memberikan semangat—membuat Dinda merasa kerdil.

Dia tidak pernah merasa sekecil ini sebelumnya. Di dunia YouTube, dia adalah pusat perhatian. Dia adalah sosok yang mengendalikan atensi orang banyak.

"Bagus, berarti kita baik-baik saja, kan?" tanya Dinda lagi, mencoba meyakinkan diri. "Tidak ada masalah tekanan udara atau apa pun?"

"Sejauh ini semuanya berada di zona hijau," ucap Irfan. Dia menurunkan kameranya sejenak, lalu menatap Dinda secara saksama. "Kamu gugup?"

"Tidak gugup sama sekali," jawab Dinda cepat. Terlalu cepat. "Aku bersemangat. Ini adalah ladang emas untuk kontenku, Fan. Pemandangannya, sensasinya—semua orang akan menonton ini nanti dan membatin, 'Wow, itu Mars.'"

Irfan terdiam beberapa saat. Cara pria itu mendadak membisu tidak menimbulkan rasa canggung, melainkan terasa seperti sebuah pengamatan yang mendalam. Seolah-olah dia sedang mengalkulasi sesuatu di dalam kepalanya.

"Kamu mencemaskan tentang tingkat interaksi penontonmu," ujar Irfan kemudian. Itu bukan sebuah pertanyaan ragu, melainkan sebuah tebakan yang jitu.

"Apa? Tidak," protes Dinda langsung membela diri. "Aku hanya—ekspedisi ini sangat besar dampaknya untuk merek pribadiku—"

"Jumlah pengikutmu sedang menurun," potong Irfan, menyajikan fakta yang telanjang. "Aku melihat datanya. Kamu barangkali merasa stres tentang relevansi dirimu sekarang. Kini kamu berada di Mars dengan cerita yang paling eksklusif, yang paling sulit untuk diakses oleh siapa pun, dan kamu berpikir hal ini akan mampu memulihkan kembali jalur roda kariermu."

Dinda merasakan sesuatu yang panas menjalar di dalam dadanya. Mungkin rasa amarah. Atau rasa malu. Barangkali campuran dari keduanya.

"Kamu sedang menganalisis psikologiku sekarang?" tanyanya ketus.

"Hanya sebuah observasi," sahut Irfan datar. Dia mengangkat kameranya kembali, lalu melanjutkan langkah kakinya ke depan. "Semua orang di dalam kelompok ini memiliki obsesi masing-masing. Dan kamu memiliki obsesi terhadap sebuah validasi. Itu tidak apa-apa. Hal yang normal terjadi. Hanya saja—sadari bahwa hal itu bisa mengaburkan penilaian objektifmu nanti."

Irfan terus berjalan maju mendahuluinya, meninggalkan Dinda di belakang. Baik secara harfiah maupun secara kiasan. Dinda terpaku berdiri di tengah lanskap Mars yang gersang, merasakan sebuah ironi yang pekat: disorot oleh lensa kamera, namun di saat yang sama, dia merasa keberadaannya sama sekali tidak diperhatikan.

Dua hari lalu—Jakarta, apartment Dinda

Dinda memeriksa data analitik akunnya untuk ketiga kali dalam satu jam terakhir. Tingkat interaksi (engagement rate) berada di angka 2,3%. Angka itu merosot tajam dari posisi 3,1% pada bulan lalu. Jumlah komentar terus menurun. Jumlah video yang dibagikan ulang juga kian merosot. Sementara itu, pertumbuhan performa salurannya sudah mencapai titik jenuh—berada di level yang sama selama tiga bulan berturut-turut tanpa adanya pertumbuhan sedikit pun.

YouTube rupanya sedang mengubah arah algoritma nya untuk lebih berpihak pada konten luar ruangan yang memamerkan keterampilan teknis tingkat tinggi.

Sementara itu, konten milik Dinda selama ini murni bergaya vlog—mengandalkan kekuatan persona, narasi petualangan, serta rekaman visual yang estetis. Formula itu masih sangat mumpuni untuk menjaring penonton pada dua tahun lalu. Namun sekarang—algoritma menuntut sebuah keahlian yang spesifik. Menuntut momen edukasi. Menuntut sebuah otoritas.

Dan Dinda tidak memiliki otoritas profesional semacam itu. Yang Dinda miliki hanyalah energi yang meluap-luap, sudut pengambilan kamera yang ciamik, serta kemampuan untuk mengubah momen-momen biasa menjadi terasa sinematik.

Lihat selengkapnya