Buku catatan Kira sudah penuh. Halaman satu sampai empat puluh tujuh. Skenario kontingensi satu sampai delapan puluh tujuh. Protokol penurunan—mulai dari varian orisinal, modifikasi, darurat, hingga katastrofe. Permutasi kegagalan fungsi alat. Lini masa penipisan oksigen—model optimis, realistis, dan pesimis. Indikator gangguan psikologis. Skenario fragmentasi kelompok.
Semuanya sudah tertulis. Semuanya sudah dikalkulasi. Semuanya sudah dipersiapkan.
Dan semuanya kini menjadi tidak relevan.
Sore hari kelima. Ketinggian 12.200 meter. Cadangan oksigen dalam kalkulasi awal: 72 jam untuk turun dari ketinggian berapa pun. Cadangan oksigen sekarang: mungkin tinggal 60 jam. Atau 55 jam. Matematikanya mengacau.
Kira memeriksa ulang data. Deviasi pola konsumsi:
Hari 1: Oksigen Nominal
Hari 2: Konsumsi +2%
Hari 3: Konsumsi +3%
Hari 4: Konsumsi +2%
Hari 5: Konsumsi +4%
Trennya tidak linear. Ini adalah akselerasi tren. Jika pola ini berlanjut—Hari ke-6 mungkin melonjak +5%, Hari ke-7 menjadi +6%, Hari ke-8 menyentuh +7%.
Matematika yang sederhana, dengan hasil yang buruk.
Kira menutup buku catatannya. Membukanya kembali. Menatap tren itu lagi. Angkanya tetap sama. Tidak akan berubah meski dia melototinya sampai matanya berdarah.
Sita menemukannya di dalam tenda. "Menatap buku itu terus-menerus tidak akan mengubah angkanya, Kira," cetus Sita.
"Bisa dicoba," sahut Kira. Dia tidak sedang melucu, itu murni sebuah observasi ilmiah.
Sita duduk. Dia tidak merebut buku catatan itu, hanya duduk di sana. Kehadirannya saja sudah cukup menjadi gangguan.
"Rencana kontingensiku," ujar Kira, "sudah mengasumsikan skenario terburuk. Mengasumsikan ketinggian maksimal 15 kilometer. Mengasumsikan deviasi oksigen 10 persen sebagai batas paling fatal. Mengasumsikan waktu turun kelompok minimal 72 jam. Semua itu sudah tertanam dalam modelku."
"Lalu?" tanya Sita.
"Tapi skenario terburuk itu adalah variabel tunggal," kata Kira. "Model buatanku tidak memperhitungkan variabel ganda yang terjadi simultan. Deviasi oksigen 10 persen itu bukan masalah jika waktu turun kita tepat 72 jam. Tapi deviasi oksigen 10 persen ditambah waktu turun yang molor akibat kerusakan alat, ditambah guncangan psikologis yang memperlambat ritme jalan—itu adalah efek kaskade. Modelku terlalu rapuh untuk menangani itu."
"Kaskade itu akan dimulai kapan?" tanya Sita lagi.
Kira terdiam, melakukan kalkulasi cepat di kepalanya. "Hari kedelapan.
Mungkin hari kesembilan. Saat cadangan oksigen habis, semua orang kelelahan, ketinggian berada di titik ekstrem, dan konsumsi oksigen menjadi tidak keruan."
"Radit tahu?"
"Radit tahu. Dia yang membagikan semua data pemantauan ke kami. Dia sudah tahu tren ini. Dan dia memilih untuk terus naik."
"Memilih berdasarkan apa?" tanya Sita, menuntut jawaban.
"Berdasarkan fakta bahwa kita sudah berjalan setengah jalan. Berdasarkan fakta bahwa puncak sedekat jalan pulang.
Berdasarkan fakta bahwa berbalik arah sekarang akan membuat semua risiko yang sudah kita ambil menjadi sia-sia," kata Kira. "Dalam kalkulasi data Radit, probabilitas sukses masih lebih tinggi daripada probabilitas gagal. Tapi margin itu... kini menipis sehalus rambut."
HARI KELIMA, MALAM: EVALUASI KELOMPOK
Radit memaparkan pembaruan data. Tingkat oksigen terkini. Tren laju konsumsi. Kemajuan elevasi. Suhu terpantau stabil. Status peralatan berada di zona hijau.
"Status protokol kontingensi penurunan," potong Kira. "Sudah direvisi berdasarkan data tren saat ini. Cadangan waktu turun sekarang minimal enam puluh jam, dengan asumsi kecepatan tim stabil dan tidak ada deviasi mayor. Perencanaan skenario untuk kegagalan fatal pada peralatan—degradasi baterai, kebocoran segel katup, hingga malafungsi sistem pemanas—sudah didokumentasikan. Respons kaskade dibuat sekuensial. Pohon keputusan untuk setiap skenario juga telah dipetakan."
"Cadangan waktu turun enam puluh jam dibandingkan rencana awal yang tujuh puluh dua jam—artinya ada selisih dua belas jam," respons Radit. "Kita masih memiliki margin yang cukup untuk keselamatan."
"Margin yang cukup," Kira mengulang kalimat itu. Dia tidak mendebat. Hanya mengulangnya seperti mesin perekam. "Margin adalah cadangan jika tidak ada hal lain yang mengacau. Tapi saat ini, sesuatu sudah mulai mengacau—tren konsumsi oksigen terus melonjak naik. Degradasi peralatan terjadi secara perlahan. Dan kondisi psikologis—" Kira menjeda kalimatnya. Matanya melirik ke arah Sita. "Kondisi psikologis tim tidak sestabil laporan resmi tadi. Ada kecemasan emosional yang tak kasatmata."
"Kecemasan bisa dikelola," potong Radit cepat. "Kecemasan adalah hal normal di ketinggian ekstrem. Kecemasan justru memicu fokus kita terhadap keselamatan."
"Atau kecemasan itu justru memicu penyangkalan," balas Kira datar. "Kecemasan mendorong kelompok ini untuk terus bergerak naik, karena opsi untuk turun kembali sudah terasa terlalu menakutkan untuk dipikirkan."