Penyegelan selesai.
Penyegelan tidak sempurna.
Agung sangat tahu perbedaan antara kedua pernyataan itu. Perbedaannya adalah garis tipis yang memisahkan antara desain yang berfungsi normal, dengan desain yang gagal secara senyap di tengah situasi ekstrem.
Margin keamanan yang dia tanamkan pada katup tekanan segel hanyalah leeway sebesar 0,3 pascal untuk mengantisipasi degradasi minor seiring waktu. Batasan yang sangat bisa diterima dalam skenario pendakian di Bumi. Namun dalam skenario Mars—mungkin tidak. Lingkungan Mars terlampau agresif terhadap material dengan cara yang belum sepenuhnya mereka pahami. Senyawa perklorat di dalam debu Mars mungkin telah merembes masuk secara tak kasatmata. Siklus perubahan suhu ekstrem mungkin telah menekan membran segel. Atau waktu, entah bagaimana, telah meng akumulasikan kerusakan yang melampaui batas margin tersebut.
Agung memeriksa segel itu lagi. Hari Keenam, sore hari. Dia sudah memeriksanya tadi pagi. Memeriksanya lagi saat istirahat makan siang. Dan sekarang, dia memeriksanya sekali lagi.
Kondisi segel itu tetap sama. Tidak akan membaik hanya karena diperiksa berulang kali.
Dinda melintas dengan membawa sabuk pengaman peralatan. Langkahnya terhenti. "Kau memeriksa segel itu lagi?" tanyanya.
"Protokol pemeliharaan," jawab Agung datar. Sebuah respons otomatis.
"Protokol pemeliharaan sebelumnya tidak mengharuskan pemeriksaan sampai empat kali sehari," cetus Dinda. Nada bicaranya tidak menuduh, murni sebuah observasi. Namun observasi itu—terasa teramat akurat.
"Variansi suhu," kilah Agung. "Stres termal memengaruhi integritas segel."
"Stres termal sudah diperhitungkan dalam desain kita," balas Dinda. "Kita sudah mengujinya."
"Uji coba di Bumi," tukas Agung. "Kondisi Mars—berbeda."
Dinda mengamati pria itu. Agung bisa melihat dari sorot matanya—Dinda tahu ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin bukan sesuatu yang pasti, melainkan sebuah jarak yang lebar antara apa yang diucapkan Agung dengan apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam kepalanya.
"Peralatan kita bagus," kata Dinda meyakinkan. "Desain buatanmu sangat bagus."
Agung tidak menjawab. Dia hanya kembali menyesuaikan posisi segel. Berpura-pura bahwa pemeriksaan tersebut membutuhkan fokus total yang tidak bisa diganggu.
Dinda kemudian berbalik dan melanjutkan pergerakannya ke atas.
PAGI—HARI KEENAM
Radit mengumumkan rencana hari ini: mendesak naik untuk mengejar tambahan elevasi empat kilometer lagi. Dinda sebenarnya sudah menyebutkan bahwa konsumsi oksigennya melonjak empat persen kemarin. Margin cadangan oksigen terus menyusut. Namun, semua orang tetap sepakat—perjalanan dilanjutkan.
Di tengah langkah kaki yang berat, Agung teringat pada ayahnya.
Ayahnya adalah seorang pendaki gunung tersohor—wajahnya pernah menghiasi majalah, memimpin berbagai ekspedisi besar, dan namanya sangat disegani di lingkaran pencinta alam. Agung baru berusia dua belas tahun ketika sang ayah memutuskan untuk memimpin sebuah ekspedisi komersial terpadu. Sebuah ekspedisi komersial yang aman, melewati rute yang sudah teruji ratusan kali. Agung masih ingat betul saat ayahnya memamerkan foto puncak dari klien-klien terdahulu yang berhasil dibimbingnya. Menunjukkan peralatan baru yang mutakhir, dan diklaim sangat aman.
Peralatan itu—sang ayah membawanya pergi ke gunung. Dan peralatan itu gagal berfungsi. Tali pengaman putus di satu titik yang tidak pernah jelas alasannya. Muncul banyak teori setelah tragedi itu—cacat material, dampak benturan di titik sebelumnya, hingga kesalahan kalkulasi pada titik jangkar penahan. Namun, penyebab pastinya tidak pernah benar-benar terkonfirmasi.
Ayahnya tidak pernah pulang.
Agung saat itu berusia dua belas tahun. Ibunya langsung mengambil keputusan mutlak: tidak boleh lagi ada gunung. Tidak boleh lagi ada pendakian. Singkirkan semua peralatan peninggalan sang suami. Agung patuh. Setahun kemudian—di usia tiga belas tahun—Ibunya bertanya, "Kau juga ingin mendaki gunung?" Agung menjawab tidak. Dia tidak berbohong. Baginya, itu adalah sebuah penolakan yang teramat jelas.
Sebagai gantinya, Agung memilih jalur teknik. Rekayasa kedirgantaraan. Merancang peralatan untuk lingkungan ekstrem. Untuk penerbangan, untuk luar angkasa, untuk satelit yang mengorbit Mars.
Dia tidak pernah merancangnya untuk pendakian pribadi. Dia merancang peralatan untuk orang lain yang mendaki.
Dan ketika Radit meminta Agung untuk mendesak desain pakaian luar angkasa serta sistem oksigen untuk Mars—Agung berpikir: ini adalah caranya untuk bisa 'bersama' dengan sang ayah, tanpa harus menjadi seperti ayahnya. Merancang peralatan yang mungkin akan digunakan sang ayah jika beliau masih hidup.