"Kau bisa membawa koper berisi cek kosong itu keluar dari kedai ini sekarang juga, atau aku akan menyeduhnya bersama sisa ampas kopi dan memaksamu meneguknya sampai tetes terakhir."
Suara Alya terdengar jernih dan teguh, membelah deru badai yang sedang menghantam dinding kaca kedai itu — di jantung Roma. Ia berdiri tegak di balik meja bar dari kayu jati tua, sehelai kain lap bersih di tangan kanannya terhenti di atas permukaan mesin espresso. Dagunya terangkat, menantang tanpa sedikit pun goyah.
Di seberang meja, Demetrio Rossi — pria bertubuh raksasa dalam setelan jas mahal yang kini basah kuyup — menggertakkan gigi hingga terdengar bunyi berderit. Ia menatap wanita di hadapannya tak percaya. Demetrio adalah tangan kanan orang paling berkuasa di kota ini. Orang-orang biasanya gemetar, menangis, bahkan berlutut hanya melihat lambang 'R' emas yang tersemat di kerah jasnya. Namun wanita ini? Pemilik kedai kecil yang terjepit di antara gedung pencakar langit ini justru... mengancamnya dengan ampas kopi.
"Kau benar-benar tak tahu cara menghargai kemurahan hati, Nona Alya," geram Demetrio.
Suaranya serak, menahan amarah yang nyaris meledak. Ia mencondongkan tubuh besarnya ke depan, kedua telapak tangan kekar mendarat berat di permukaan meja.
"Ini bukan sekadar tawaran bisnis. Ini adalah anugerah dari Tuan Rafa. Kau lihat cek di dalam koper itu? Tuliskan angka berapapun yang kau mau. Cukup untuk membeli sepuluh kedai mewah di pusat kota. Cukup agar kau tak perlu bekerja seumur hidup."
Alya tertawa — renyah, dingin, penuh ejekan. Ia melipat tangan di dada, sekilas melirik dua pria berjas hitam yang berjaga di pintu, lalu kembali menatap Demetrio.
"Anugerah? Jangan membuatku tertawa, Demetrio," desisnya, matanya menyala tajam.
"Sejak kapan Sindikat Rafa mengenal kata belas kasih? Kalian memonopoli, kalian menggusur, kalian mencekik bisnis kecil di setiap sudut kota hanya demi membangun pusat perbelanjaan megah itu. Kau pikir aku butuh uang kotor bosmu? Kedai ini adalah warisan keluargaku. Kenangan ayahku tertanam di setiap bata, di setiap serat kayu di sini. Dan hal itu... tak ternilai harganya."
"Segala sesuatu di dunia ini punya harga, Nona!" Demetrio membanting telapak tangannya ke meja.
Gelas-gelas kaca berdering nyaring. Alya tak bergeming. Ia justru memajukan wajahnya, memperpendek jarak di antara mereka — hingga Demetrio bisa melihat kilatan keberanian murni di sepasang mata cokelat terang itu.
"Maka anggaplah aku pengecualian atas aturan duniamu," ucap Alya tenang namun mematikan.
"Bawa kopermu. Dan tinggalkan tempatku. Jika kalian terus menerorku, aku pastikan besok pagi seluruh media independen di kota ini menerima rekaman kamera pengawas malam ini. Mari kita lihat bagaimana wajah para pemegang saham saat tahu Sindikat Rafa yang sedang berusaha tampil bersih dan bermoral... masih menggunakan taktik perampasan kuno untuk merampas tanah rakyat."
Wajah Demetrio memerah padam. Urat lehernya menonjol tegang. Ia ingin menghancurkan ruangan ini, namun perintah bosnya adalah hukum mutlak: Tak boleh ada kekerasan. Tak boleh ada keributan. Proyek ini diawasi langsung pemerintah pusat — tak boleh ada celah sekecil apa pun.
Dengan napas memburu, Demetrio menutup koper kulit itu dengan kasar dan menariknya pergi.
"Kau baru saja menyatakan perang pada iblis, Nona. Tuan Rafa tak pernah menerima penolakan," ancamnya, suara bergetar menahan amarah.
"Kalau begitu suruh iblis itu datang sendiri," tantang Alya tanpa kedip. "Berhenti mengirim pesuruh yang hanya pandai mengotori lantai kedai ini dengan sepatu basah mereka."
Demetrio menatapnya dengan pandangan yang seakan ingin merobeknya hidup-hidup, lalu berbalik tajam.
"Pergi," perintah singkat pada anak buahnya.
Mereka mendorong pintu kaca hingga berdentang dan lenyap di balik tirai hujan deras.
Begitu suara mesin mobil menghilang, bahu Alya yang sedari tadi tegang seketika merosot lemas. Ia bersandar pada meja, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kakinya terasa lemas seperti jeli.
Melawan orang kepercayaan seorang bos mafia — hal yang tak pernah ia bayangkan akan dilakukannya. Tapi ia tak akan membiarkan siapa pun merampas satu-satunya warisan yang tersisa.
**
Jauh di atas sana, di lantai ke-89 Valerius Tower, dunia terasa benar-benar berbeda.
Ruang kerja eksekutif itu membentang luas bak sebuah lapangan. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca antipeluru setinggi langit-langit, menyuguhkan pemandangan ibu kota yang kini terselimuti badai pekat. Ruangan itu didominasi nuansa hitam, abu-abu, dan perak. Begitu steril, begitu sunyi, dan luar biasa dingin.
Di balik meja marmer hitam raksasa, duduklah sang penguasa kota.
Rafa Valerius.
Jika ketakutan memiliki wujud fisik, mungkin ia akan terlihat persis seperti pria ini. Wajahnya pahatan sempurna — rahang persegi tegas, hidung bangir, sepasang alis tebal yang membingkai mata paling kelam yang pernah ada. Namun tak satu pun emosi pernah terlintas di sana. Ia tak pernah tersenyum, tak pernah berteriak marah. Ia hanya diam... dan menaklukkan.
Julukan "Tuan Kulkas" melekat padanya — karena hatinya beku dan sikapnya sedingin es kutub utara. Ia melenyapkan pesaing, menelan perusahaan, dan melumpuhkan musuh lewat jalur hukum serta bisnis dengan ketenangan yang mengerikan.
Pintu ganda kayu ek terbuka. Demetrio melangkah masuk, meninggalkan jejak air di atas karpet Persia yang harganya setara satu mobil mewah. Pria bertubuh raksasa itu menunduk dalam, keringat dingin bercucuran di pelipis, bercampur sisa air hujan.