Di Bawah Kekuasaan Kenzie

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Curi Pandang Sang Iblis

Zivana berdiri di depan pintu kamar hotel yang terlihat kumuh. Di sampingnya, Rico Wiyono Pradana—anak buah bosnya yang bertubuh kekar penuh tato—berdiri tegak kaku.

Udara lorong itu pengap, bercampur bau asap rokok, alkohol murah, dan bau lain yang menjijikkan, sesuatu yang tak ingin Zivana beri nama. Tentu saja, jejak dosa manusia‑manusia sampah yang mencari kenikmatan di tempat semacam ini. Lampu remang menggantung di langit‑langit, berayun pelan seolah ikut menikmati ketegangan yang menyesakkan dada.

Mereka terjebak di sini karena dalam perjalanan pulang setelah negosiasi pekerjaan gelap, Kenzie Aditya Tanujaya—pemimpin beraliran Tiongkok—meminta berhenti. Ia ingin “memberi hadiah” pada burung liarnya yang tak tahan lagi diabaikan. Dan seperti biasa, tak ada yang berani menolak.

Sudah enam bulan Zivana terjerumus ke pekerjaan kotor ini, tergiur gaji selangit sebagai sekretaris pribadi si iblis itu. Kalau saja ia bukan gadis yang tak mau hidup miskin, takkan pernah ia mau mengabdi pada Kenzie Aditya Tanujaya—iblis di antara iblis, kejam, membunuh tanpa ragu, dan yang paling mengerikan: melakukannya tanpa sedikit pun emosi.

“Ahh… euh… enghhh…”

“Ya, Tuan… Lebih cepat… Enghhh…”

Suara‑suara panas dari balik pintu membuat tubuh Zivana menegang. Itu pasti suara wanita yang disewa Kenzie. Dinding hotel tipis tak menyembunyikan apa pun, dan wanita itu berteriak kencang—entah demi menaikkan ego Kenzie, atau memang ukuran pria itu benar‑benar luar biasa. Selama bekerja, Zivana tak sengaja berkali‑kali melirik ke bawah dan melihat benda di balik celana mahal itu terlihat mengembang, bahkan saat ia tidur. Bayangan “ular” itu bangun sempurna saja sudah membuatnya bergidik. Kalau ketahuan sering melirik, mungkin ia takkan melihat matahari lagi. Pantas saja wanita‑wanita yang keluar dari kamar Kenzie selalu berjalan dengan gaya aneh.

Kapan rutinitas menjengkelkan ini berakhir? Suara di dalam makin mengganggu, membuat Zivana meremas ujung roknya. Rico menyeringai melihat ketidaknyamanannya. Tatapan itu membuatnya ingin menampar, tapi ia cukup pintar untuk tak mencari masalah di sarang predator.

Zivana mengedikkan bahu malas. “Kalau bukan demi uang, mungkin aku sudah lama mengajukan pengunduran diri.” Itu kalimat pertamanya selama enam puluh menit berdiri bersama Rico, berharap mengurai ketegangan.

Seringai Rico makin melebar. “Tuan Kenzie tak suka mendengar itu, manis. Tak ada yang bisa keluar dari pekerjaan ini atas kemauan sendiri.”

Bukan sekadar peringatan—lebih seperti vonis mati. Zivana sadar posisinya terjepit: Kenzie takkan membiarkannya pergi begitu saja, karena ia tahu hampir seluruh bisnis gelapnya. Pilihan cuma dua: bertahan… atau pergi dengan risiko dienyahkan semudah debu di ujung jari.

Sialan.

Zivana memutar bola mata. “Ya, dan kurasa aku masih butuh uang tuanmu untuk hidup nyaman.”

Rico terkekeh rendah, suara yang sangat menyebalkan. Tak ada obrolan lagi. Sejak awal, Zivana bertekad tak terlalu dekat dengan Kenzie atau anak buahnya—ia tak mau tahu berapa nyawa yang berakhir di tangan mereka.

Hening kembali. Zivana baru sadar suara‑suara tadi sudah hilang. Tanda Kenzie selesai.

Pintu terbuka. Seorang wanita keluar—penampilannya berantakan, baju kusut, bercak merah di leher. Wanita itu mendengus melihat Zivana, tapi mengedip genit pada Rico, lalu mengelus dada pria itu sebelum pergi membawa tumpukan uang kotor.

Benar‑benar jalang, umpat hati Zivana. Tapi ada bisikan kecil: setidaknya wanita itu bisa pergi. Bagaimana dengannya? Belum tentu, kalau tak mau kehilangan kepala.

Pintu terbuka lagi. Kali ini Kenzie keluar—penampilannya masih rapi, hanya ritsleting celana terbuka. Tak mau repot. Rahang mengeras, alis menekuk tajam. Jelas ia tak puas. Akhir‑akhir ini seolah kena karma, kenikmatannya hilang. Meski makin sering melakukannya, tak ada yang bisa memuaskannya.

Tanpa menoleh sedikit pun, Kenzie menggeram dingin, “Kita pulang!”

Ia melangkah pergi. Zivana buru‑buru mengikuti, hati berteriak senang—akhirnya bisa pulang dan melepaskan beban di bawah Kenzie.

Di halaman hotel, tiga mobil hitam sudah menunggu, anak buah berjejer membungkuk hormat. Kenzie langsung masuk ke kursi penumpang depan saat pintu dibuka. Zivana duduk di sebelahnya—sebagai sekretaris, ia harus selalu siap di dekatnya.

Mobil melaju di jalanan sepi. Kenzie bersandar, mata terpejam, rahang masih tegang. Zivana bersyukur: meski jahat, ia tak pernah berbuat aneh padanya—hanya sekadar atasan dan bawahan.

“Besok ada urusan pribadi. Hapus semua jadwalku. Dan kamu… ambil cuti beberapa hari,” ucap Kenzie tanpa membuka mata.

“Baik, Tuan.”

Lihat selengkapnya