Di Bawah Langit yang Berbeda

Maghfira Izani
Chapter #2

Angin Asing dari Negeri Jauh

Pekalongan di penghujung musim kemarau selalu terasa istimewa. Panas matahari memang menyengat di siang hari, namun begitu senja mulai turun, angin sepoi dari laut utara segera datang membawa kesejukan yang menenangkan. Kota kecil yang dikenal sebagai Kota Batik ini seolah tak pernah kehilangan ritmenya; tenang, sederhana, namun hidup dengan warna-warni yang tak pernah pudar. Di setiap sudut jalan, di halaman rumah warga, hingga di sepanjang pinggir sungai, kain-kain batik dengan motif dan warna yang beraneka ragam selalu terlihat menjemur, berkibar lembut ditiup angin seolah sedang menyapa siapa saja yang lewat. Bagi penduduk setempat, pemandangan ini sudah menjadi bagian dari napas kehidupan, sesuatu yang biasa namun begitu berharga.

Sore itu, suasana di kediaman Bapak Budi Santoso terasa sama seperti hari-hari sebelumnya. Rumah yang dibangun dari kayu jati tua itu berdiri kokoh di tengah pekarangan yang cukup luas, dikelilingi pohon-pohon mangga dan jambu yang rindang. Bangunannya sederhana, bergaya rumah tradisional Jawa dengan serambi lebar dan atap yang menjorok ke depan, namun terlihat terawat dengan baik. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat, seirama dengan kesabaran yang menjadi kunci utama dalam menekuni seni membatik.

Larasati Putri Adhisti, atau yang akrab disapa Laras, duduk bersila di atas tikar pandan di ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang kerja keluarga. Di hadapannya terbentang selembar kain mori putih yang masih bersih, polos, dan suci—siap untuk dihiasi dengan goresan-goresan lilin panas yang akan mengubahnya menjadi karya seni bernilai tinggi. Cahaya matahari sore yang berwarna keemasan masuk melewati celah-celah jendela kayu yang terbuka, menimpa rambut hitam panjang Laras yang diikat sederhana, serta wajahnya yang tenang dan damai.

Tangan kanannya menggenggam sebuah canting dengan gagang kayu yang sudah halus tergosok karena sering dipakai. Gerakannya luwes, terlatih, dan penuh ketenangan. Setiap kali ujung canting itu menyentuh permukaan kain, cairan lilin panas yang berwarna kecokelatan mengalir lancar, membentuk garis-garis halus, lengkung yang anggun, dan pola yang rumit namun teratur. Saat ini, Laras sedang mengerjakan motif Kawung Ageng—motif lingkaran-lingkaran besar yang tersusun rapi melambangkan kesucian, kemurnian hati, serta harapan agar hidup selalu dikelilingi kebaikan.

Bagi Laras, membatik bukan sekadar pekerjaan turun-temurun yang harus ia lakukan demi membantu ekonomi keluarga. Lebih dari itu, proses ini adalah cara ia berkomunikasi dengan diri sendiri, dengan Tuhan, dan dengan semesta. Dalam keheningan saat melukis dengan lilin, pikirannya menjadi jernih. Segala kegelisahan, kelelahan, maupun keraguan perlahan luruh, melebur bersama panasnya lilin yang ia gunakan.

“Laras, jangan terlalu tegang memegang canting itu. Biarkan tanganmu bergerak mengikuti naluri dan rasa. Seperti itulah seni lahir, bukan dari paksaan, tapi dari ketulusan,” begitu pesan Ayahnya dulu, saat pertama kali mengajarinya membatik ketika ia masih berusia sepuluh tahun. Dan hingga kini, kalimat itu selalu terngiang jelas di telinganya, menjadi pedoman setiap kali ia bekerja.

“Laras,” panggil sebuah suara lembut memecah keheningan.

Laras mengangkat wajah perlahan, menatap sosok ibunya yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan pisang rebus. Ibu Siti Aminah, wanita paruh baya yang wajahnya masih menyisakan jejak kecantikan masa mudanya, berjalan mendekat lalu meletakkan hidangan itu di meja kecil di samping Laras.

“Ibu,” sapa Laras lembut sambil tersenyum. Ia segera menurunkan peralatan kerjanya sejenak.

“Sudah hampir sore, Nak. Istirahatlah sebentar, jangan dipaksakan terus,” ucap Ibu Siti sambil duduk di samping putri semata wayangnya itu. Ia menatap wajah Laras penuh kasih sayang, lalu menyelipkan sehelai rambut yang jatuh menutupi dahi putrinya. “Kau ini, kalau sudah bekerja, lupa segalanya. Padahal kesehatan itu yang paling mahal harganya.”

Laras tertawa kecil, tawa yang lembut dan menenangkan. “Ibu ini ada saja. Laras tidak apa-apa kok, justru kalau sedang melukis begini rasanya hati Laras tenang sekali. Tidak terasa waktu berlalu.”

Ibu Siti ikut tersenyum, namun di matanya terselip sedikit kekhawatiran. “Ibu tahu, seni ini sudah mengalir di darahmu. Sama seperti Ayahmu. Tapi Ibu hanya ingin kau tidak terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau masih muda, Laras. Dunia itu luas, jangan sampai seluruh waktumu hanya habis di antara kain dan lilin ini saja.”

Ucapan ibunya membuat senyum di bibir Laras sedikit memudar. Ia menunduk menatap cangkir teh yang mulai mengepulkan uap tipis. “Bagi Laras, dunia yang ada di sini sudah cukup luas, Bu. Di sini ada keluarga, ada seni yang Laras cintai, dan ada doa-doa yang selalu Ibu dan Ayah ajarkan. Laras tidak meminta yang lain. Laras hanya ingin membuat Ibu dan Ayah bangga, ingin melestarikan apa yang telah leluhur kita tinggalkan.”

Ibu Siti menghela napas pelan, lalu mengusap lembut punggung tangan Laras. “Kau memang anak yang penurut dan baik, Nak. Ibu bersyukur sekali memiliki putri sepertimu. Tapi ingatlah, hidupmu masih panjang. Suatu saat nanti, kau akan menemui jalanmu sendiri, mungkin jalan yang berbeda dengan apa yang selama ini kita kenal. Saat hari itu tiba, berjalanlah dengan kepala tegak dan hati yang tulus.”

Kalimat itu terdengar samar dan penuh makna, seolah Ibu Siti sedang memprediksi sesuatu yang belum terjadi. Laras hanya mengangguk pelan, meski di dalam hatinya ia belum sepenuhnya paham maksud perkataan ibunya. Baginya, jalan hidupnya sudah jelas. Ia akan terus menjadi pengrajin batik, tetap tinggal di kota kelahirannya, mendampingi orang tuanya hingga tua, dan kelak menikah dengan pria yang baik, bertakwa, dan sejalan dengan prinsip hidup mereka—sesuai dengan keinginan orang tuanya. Itulah cita-cita sederhana yang ia tanamkan sejak lama.

“Mana Ayah, Bu? Belum pulang dari pasar?” tanya Laras untuk mengalihkan pembicaraan.

“Belum. Katanya tadi mau bertemu dengan rekan sesama pengrajin untuk membicarakan pesanan besar yang datang dari luar kota. Sepertinya akan ada tamu penting yang akan melihat hasil karya kita sebentar lagi,” jawab Ibu Siti.

“Benarkah?” mata Laras berbinar. “Syukurlah kalau begitu. Semoga saja pesanan ini berjalan lancar dan membawa berkah.”

“Amiin. Itu sebabnya Ayahmu meminta agar hasil kerja kita kali ini benar-benar sempurna. Katanya, tamu yang akan datang nanti bukan orang sembarangan,” tambah Ibu Siti.

Sementara itu, sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari kediaman Bapak Budi, seorang pria asing sedang melangkah menyusuri jalanan kecil berbatu yang mengular di antara rumah-rumah warga. Ia berjalan perlahan, menatap ke kiri dan ke kanan dengan rasa penasaran yang bercampur kebingungan.

Ju Ji Hoon menghela napas panjang, mencoba menyesuaikan diri dengan suasana yang sama sekali baru baginya. Udara di sini jauh lebih hangat dan lembap dibandingkan di negaranya, Korea Selatan. Bau yang tercium pun berbeda—ada bau tanah, bau dedaunan, bau masakan yang sedap, dan bau khas lain yang sulit ia gambarkan namun terasa unik. Pakaiannya yang rapi, kemeja lengan panjang berwarna krem yang digulung sebatas siku dan celana bahan yang berpotongan rapi, membuatnya tampak sangat kontras dengan warga sekitar yang kebanyakan berpakaian sederhana dan santai.

Lihat selengkapnya