Di Bawah Langit yang Retak

Adzikra Cakrawala
Chapter #1

BAB 1


Guncangan itu datang ketika Aya sedang mengayunkan ayakan bambu di tangannya.

Dia berdiri tak bergerak di tengah petakan sawah yang sengaja dibongkar, memegang ayakan bambu dengan kaku. Udang-udang kecil yang bersimbah cairan lumpur melompat-melompat untuk mencoba membebaskan diri dari tangkapannya, tapi Aya tidak memperhatikan. Isi kepalanya terpusat pada denyutan kecil yang terasa di bawah kakinya, tapi kemudian mengernyit ketika denyutan samar itu menghilang secepat kedatangannya. Langit bersih di atas kepala.

Tangannya yang ramping dan bernoda lumpur bergerak menggeser posisi ayakan ke samping sampai doyong, menyebabkan udang-udang yang nyaris putus asa itu berlomba-lomba menjatuhkan diri kembali ke dalam lumpur dengan girang, lalu dia mengintip permukaan air di bawah.

Permukaan air yang kini surut itu tampak tenang, selain riak-riak kecil yang disebabkan oleh pergerakan ikan yang kabur atau orang-orang yang memburunya. Aya memandang sekeliling, kepada kakek yang sibuk mencangkul di pematang, pada bibi dan dua anaknya yang bergembira mengejar ikan-ikan kecil, atau pada nenek yang sedang menanak nasi di saung di bawah pohon jambu tak jauh dari sana.

Tapi mereka kelihatan seperti biasa, riang dan gembira. Aya mengedikkan bahu. Mungkin, hanya perasaanku saja, pikirnya, seraya mengintip sekali lagi pada lumpur pekat yang menyembunyikan kakinya, yang terbalut celana panjang bermotif kotak-kotak yang telah bolong di beberapa bagian, sampai sebatas betisnya. Dia mencoba menggerakkan jari-jari kakinya di bawah lumpur, menebak-nebak apakah denyutan itu berasal dari ikan yang terinjak?

Denyutan tadi telah melahirkan ide liar yang mengerikan di kepalanya, membuatnya ketakutan. Syukurlah semuanya baik-baik saja, batinnya. Aya menghela napas lega.

Sayangnya, semua itu hanya harapannya semata, karena pada detik berikutnya saat dia mulai menjaring ikan dengan gembira, guncangan itu datang lagi.

Hanya beberapa detik, tapi kali ini lebih besar dari sebelumnya, menyebabkan Aya terjungkal ke dalam lumpur. Sebagian tubuhnya tenggelam, dan percikan lumpur menodai wajahnya, membuatnya terlihat seperti udang yang tercebur dalam adonan tepung. Anehnya, tidak ada yang menertawakannya. Mereka semua berdiri membatu di tempat, beradu pandang. Wajah memucat.

Sampai tiba-tiba Kila, putri tertua Bibi berseru ketakutan, “Gempa!”

Serentak mereka bergegas keluar dari lumpur. Aya terlalu terkejut dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba sehingga dia menjadi satu-satunya orang yang tertinggal di belakang. Jadi, tadi itu bukan hanya perasaanku saja?

“Aya, cepat keluar dari sana!” Kakek berseru cemas.

Aya tersentak dari pikirannya, lalu merangkak bangun dengan susah payah. Tepat ketika tangannya menggapai pematang, guncangan lain datang dengan lebih besar dan keras.

Pepohonan di sekeliling bergoyang-goyang. Air sungai di sudut terjauh berkecipak nyaring membentur bebatuan, sementara permukaan tanah di bawah telapak tangannya berdenyut-denyut seperti hidup.

Di hadapannya, daun-daun talas bergoyang dengan cepat seakan-akan seseorang mengguncangkannya dengan keras, menyebabkan matanya sakit dan kepalanya pusing. Aya tengkurap di pematang itu, memeluk tanah yang menonjok perutnya berulang-ulang. Matanya terpejam.

Tangisan dan seruan panik menggema di saung, tempat di mana semua orang berkumpul kecuali Kakek yang kini bersimpuh di ujung pematang, berusaha menolongnya dan memanggil namanya berulang kali dengan parau. Suara kecemasannya terdengar seperti ratapan yang menyakitkan di hati Aya. Di langit, burung-burung terbang acak seperti percikan tinta. Suaranya memekakkan telinga.

Lihat selengkapnya