Di Bawah Langit yang Retak

Adzikra Cakrawala
Chapter #2

BAB 2


“Kita pulang sekarang?”

Aya baru saja kembali setelah membersihkan diri seadanya. Pakaian yang membalut tubuhnya dibiarkan basah. Syukurlah cuaca sedang cerah, jadi dia tidak merasa kedinginan. Dan karena tidak membawa pakaian ganti, Aya harus pulang seperti itu.

Dilihatnya semua orang sedang bersiap setelah mereka membersih lumpur seadanya dari kaki dan tangan, tapi mereka tidak membutuhkan waktu selama Aya sehingga dia tertinggal di belakang.

Nenek tidak mungkin berjalan dengan keadaannya yang sekarang, jadi kemungkinan Kakek akan memapahnya atau mungkin menggendongnya bila kepayahan. Sementara Bibi, tentu tidak mungkin menggendong Saka dengan tulang patah. Bocah itu baru tiga tahun. Walaupun sudah lancar berjalan, tapi menempuh jalanan yang menanjak dan agak curam masih terasa sulit baginya, jadi Aya menawarkan bantuan untuk menggendongnya sesekali. Dan akan membiarkannya berjalan sendiri di jalanan datar. Sebagai gantinya, Bibi berinisiatif membawa keranjang bawaan dan botol-botol minum yang dikosongkan dengan segera, sementara Kila membawa satu botol penuh air. Untuk bekal selama di perjalanan.

Aya memandang pepohonan di kejauhan, yang puncaknya terlihat menonjol di ketinggian, lalu berdoa semoga perjalanan mereka dilancarkan. Dia tahu betul menempuh perjalanan cukup jauh antara rumah dan sawah tidak terlalu mereka khawatirkan. Mereka telah terbiasa sejak lama, tapi keadaan sekarang berbeda. Gempa besar baru saja terjadi. Aya tidak tahu akan tampak seperti apa jalanan yang harus mereka tempuh kali ini. Semoga saja tidak ada pohon tumbang atau tanah longsor yang menanti.

“Sebentar,” Kakek berkata sambil bergegas menuju pematang di sebelah Barat saung yang berantakan, lalu terus berjalan sampai hanya punggungnya saja yang kelihatan. Tikungan di depan telah menelannya, tapi Aya tahu apa yang sedang dilakukannya.

Bukan keluarga mereka saja yang sedang berada di sawah. Saat gempa tadi, ada keluarga lain di sebelah. Jarak mereka mungkin berjauhan, tapi meski saungnya tidak kelihatan, seruan-seruan kepanikan dan lolongan ketakutan mereka terdengar begitu gaduh. Kakek pergi untuk memastikan keberadaan dan keselamatan mereka.

Semoga saja tidak ada hal fatal. Aya berdoa.

Bagaimanapun, keluarganya sendiri mengalami betapa mengerikan gempa tadi. Beruntung mereka memiliki Kakek yang begitu tegar sehingga rasa panik yang mereka rasakan dengan cepat mereda. Aya tersenyum bangga ketika memikirkannya. Sebaik dan sepeduli itulah Kakek. Aya tidak pernah merasa cemas dengan keberadaan Kakek di sekitar, meski hanya dengan melihat punggungnya saja.

Lihat selengkapnya