Di Bawah Langit yang Retak

Adzikra Cakrawala
Chapter #3

BAB 3


Bagi Aya, hal paling mengerikan dalam hidupnya adalah hari ketika ayah dan ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan.


Hari itu masih terukir jelas.


Usianya baru sepuluh tahun.


Dia sedang duduk di kelas, mendengarkan pelajaran dengan saksama, ketika seorang guru mengetuk pintu. Guru itu berbicara pelan dengan wali kelasnya, terlalu pelan untuk didengar—namun cukup lama untuk menumbuhkan kegelisahan.


Lalu, mereka menoleh ke arahnya.


Aya langsung merasa tidak enak.


Ada sesuatu yang salah.


Namun sebagai anak kecil, pikirannya melompat ke arah yang sederhana. Apakah aku melakukan kesalahan?


Dia mengingat-ingat. Tidak menyontek. Tidak berkelahi.


...Oh.


Mainan bergambar yang dia sembunyikan di dalam sepatu.


Jantungnya langsung berdegup kencang.


Saat gurunya menyuruhnya merapikan buku, mengambil tas, lalu berjalan menuju rak sepatu, kecemasan Aya berubah menjadi kepastian.


Dia akan dihukum.


Dan entah kenapa, hukuman ini terasa... berbeda.


Lebih berat.


Lebih menakutkan.


Aya menggigit bibirnya, lalu dengan ragu menarik ujung kemeja sang guru. “Maaf...” Air matanya jatuh begitu saja. “Aya janji tidak akan menyembunyikan gambar lagi... Aya akan berhenti bermain... tapi... tolong jangan bilang Ayah...”


Baginya, Ayah adalah sosok yang menakutkan ketika marah.


Dan Aya tidak ingin melihatnya marah.


Guru itu terdiam.


Wajahnya yang semula tegang perlahan melunak—namun sorot matanya justru semakin sulit dibaca.


Aya mengenali tatapan itu.


Tatapan yang sama seperti milik Ibunya saat mengatakan, “Sabar ya, Nak. Nanti Ibu belikan.”


Tatapan yang terdengar lembut...


...tapi sebenarnya menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.


Aya tidak menyukai tatapan itu.


“Jangan diulangi, ya,” kata guru itu pelan.

Lihat selengkapnya