Kampung Dahui bukan satu-satunya permukiman terpencil di wilayah Desa Sari Mekar. Namun, letaknya yang paling berdekatan dengan hamparan sawah dan ladang menjadikannya tempat tinggal pilihan utama bagi para petani.
Rumah-rumah warga didirikan dengan penuh kesederhanaan: beratap daun nipah, berdinding bilik anyaman, dan bertiangkan kayu hutan atau bambu pilihan.
Di halaman depan, mereka menanam berbagai jenis sayuran seperti cabai dan tomat. Sedangkan di bagian belakang rumah, dibangun kandang sederhana untuk memelihara unggas, kambing, dan kerbau.
Masyarakat di sini tidak hanya menggantungkan hidup dari hasil bumi. Mereka juga giat beternak. Meskipun hasilnya tidak seberapa, namun cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Terlebih di masa-masa sulit ketika harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi.
Bagi warga Kampung Dahui, uang receh sekadar untuk membeli korek api atau jarum jahit pun sudah dianggap harta berharga. Cukup bisa makan kenyang dua kali sehari saja, mereka sudah bersyukur tak terkira.
Satu jalan tanah membelah Kampung Dahui. Jalan ini terbentang dari gerbang masuk hingga sampai ke persimpangan di ujung sana. Dari sini, jalur terbagi menuju kebun, sawah, dan ladang tempat warga bekerja. Belum ada perbaikan menjadi jalan berbatu, sehingga jalur tanah ini menjadi licin dan becek bagai kubangan lumpur setiap kali musim hujan tiba.
Rumah-rumah penduduk berbaris rapi di kiri dan kanan jalan. Meskipun tampak sederhana, setiap bangunan memiliki ciri khasnya masing-masing. Namun ada satu kesamaan yang tak terbantahkan: Tidak ada satu pun rumah yang bertingkat.
Tanah yang datar dan luas menjadikan Kampung Dahui bagaikan taman bermain yang menyenangkan bagi anak-anak. Dahulu mereka gemar berlomba berjalan di atas egrang, namun belakangan ini permainan lompat tali lebih digemari. Tali yang mereka gunakan pun bukan buatan pabrik, melainkan terbuat dari ratusan karet gelang yang dikumpulkan secara bergotong-royong dari rumah ke rumah.
Malam itu, giliran Aya menjaga tali karet. Ia sudah berjanji pada hati kecilnya, besok sepulang sekolah ia akan ikut bermain bersama teman-temannya.
Namun... janji itu tidak akan pernah terealisasi.
Karena saat ini... kampung halaman yang dicintainya telah hancur lebur menjadi puing.
Aya memandang pemandangan di hadapannya dengan mata terbelalak tak percaya. Tanah lapangan yang dulu menjadi tempat mereka tertawa riang bermain lompat tali, kini terangkat naik akibat guncangan dahsyat. Sedangkan tanah di sekelilingnya amblas sedalam tiga meter. Sejauh mata memandang, yang tersisa hanyalah kehancuran: rumah-rumah roboh berantakan, pohon-pohon besar tumbang berserakan bagai batang korek api. Tempat penampungan air milik Pak Danu yang biasa menjadi sumber kehidupan warga lenyap tanpa bekas, hanya menyisakan lubang menganga yang tak terlihat dasarnya.
Di kejauhan, terlihat sisa-sisa gapura masuk kampung yang dicat merah putih. Catnya memang sudah pudar dimakan usia, namun Aya mengenalnya betul. Tempat itu dulu menjadi saksi bisu masa kecilnya—tempat ia menunggu teman berangkat sekolah, atau sekadar berteduh dari teriknya panas matahari dan derasnya guyuran hujan.
Tapi... mengapa gapura itu sekarang terlihat begitu jelas? Biasanya pandangan ke sana tertutup rindang pohon rambutan milik tetangga.
Dulu di sepanjang jalan itu berdiri tegak rumah Nina, rumah Niko, dan sebuah gardu pertemuan warga. Dulu udara di sini selalu riuh dipenuhi gelak tawa anak-anak yang berlarian ke sana-kemari.
Semuanya sudah hilang tak berbekas.