Di Bawah Langit yang Retak

Adzikra Cakrawala
Chapter #5

BAB 5

Ibu Nena histeris.

Bibi Rina, adiknya, memeluknya dengan gemetar, mencoba membisikkan kalimat-kalimat yang menenangkan, tapi Ibu Nena seolah tuli. Dia tidak mendengarkan apa pun. Di sekeliling, orang-orang menatapnya iba, namun tak sanggup menghibur karena mereka pun merasakan duka yang sama.

“Kenapa! Kenapa aku melupakannya! Kenapa?” jeritannya tak berhenti. “Kenapa!”

Bibi, yang selalu dekat dengan Ibu Nena, menahan tangisnya, tidak tega melihat teman dekatnya begitu terpukul. Dia menghampiri, dan memeluknya dengan sebelah tangannya yang sehat. “Mi, ini aku.”

Ibu Nena bernama Mina. Pelukan itu tidak diindahkannya, malah dia meronta hebat, seolah ingin lari menjauh jika tidak ditahan oleh beberapa pria dewasa yang berada di dekatnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Bibi bertanya dengan rendah kepada Bibi Rina, yang hanya menggelengkan kepala.

Pada saat itu, seolah-olah diguyur kesadaran penuh, Ibu Nena terkesiap dan seketika berbalik menatap mereka berdua. Matanya membelalak, nyaris sebesar bola pingpong. Kengerian di wajahnya tak terlukiskan. Kemudian tiba-tiba saja dia menyeringai di antara air mata yang berderai.

“Kau bertanya apa yang kulupakan?” Dia tertawa sekaligus menangis. “Ya, benar! Aku melupakannya! Ini semua salahku! Salahku! Kenapa aku meninggalkannya? Dia pasti kesepian sekarang... seharusnya aku tidak pergi. Seharusnya aku tetap di sisinya... kenapa aku pergi? Kenapa aku melupakannya?” dia menjerit lagi. Tangannya meninju kepalanya sendiri, sesekali mencakar wajah dan menarik rambutnya. Kakinya yang telanjang mengentak-entak tanah, menambah luka yang telah ada. “Aku pasti sudah gila! Kenapa aku bisa melupakannya?”

Tidak ada yang berani menyahut karena mereka pun tidak mengerti apa yang dia ceracaukan. Suaminya sedang di luar kota, bekerja sebagai kuli bangunan bersama beberapa orang dari kampung sebelah. Anaknya yang besar bersekolah berasrama di kabupaten, dan anak perempuannya telah dievakuasi bersama ibunya di pusat desa. Apa yang sebenarnya telah dia lupakan?

“Kenapa kalian tidak memberitahuku?” jeritannya berganti menjadi rintihan pilu. Dia menuntut jawaban dengan menarik kerah Pak Nana, tetangganya, yang membantu menahan amukannya. “Kalian melihatnya juga, kan? Kenapa hanya menolongku? Kenapa kalian tidak menyelamatkannya?”

Pak Nana menerawang. Apakah ada yang dia lewatkan?

Kembali pada saat itu, dia sedang menyiangi kebun cabai dan tomat, sedangkan istrinya sedang menyapu halaman. Lalu, guncangan itu datang. Dia melempar cangkulnya, menyambar tangan istrinya yang hendak menengok masakan di dapur, lalu bersama-sama bergegas ke tanah lapang. Ibu Nena sedang mengangkat jemuran di seberang, dan mereka berteriak memberitahunya. Seketika wanita itu berlari menghampiri mereka, gemetar dan ketakutan. Bersama-sama mereka berteriak memanggil para tetangga, memperingatkan anak-anak yang bermain kejar-kejaran di jalan, dan berseru pada setiap orang yang terlihat di kejauhan.

Lihat selengkapnya