Cahaya mentari hangat menerobos masuk dari sela-sela roller blind, menelusup jauh hingga ke permukaan meja yang berisi tiga porsi nasi goreng hangat yang asapnya mengepul. Ibu masih punya waktu semenit lagi melengkapinya dengan teh hangat.
Begitulah cara Ibu memulai hari. Aku Asha, anak perempuan satu-satunya, dan kakak laki-lakiku Nabil Hakaru. Menurut mendiang ayah hakaru artinya peneli. Nama pemberian ayah, karena Kak Nabil lahir di Jepang waktu ayah menyelesaikan program studi doktoralnya di Todai, University of Tokyo.
"Keburu dingin nasi gorengnya Sha..!," suara teriakan ibu melintasi void menembus dinding sampai ke kamarku di lantai atas.
"Iya Bu, bentar, tanggung nih." Aku masukkan tugas biologiku ke totebag, lalu bergegas turun setengah meluncur dengan suara berdebam saat menjejak ujung tangga.
Sambil melintas aku refleks menggedor pintu kamar Kak Nabil tepat di ujung tangga. "Bangun Kak! dipanggil Ibu, cepat!!" Aku tak menunggu reaksinya, langsung berlari turun ke tangga.
"Hati-hati sayang...." Suara ibu terdengar lebih kuatir dengan kelakuanku daripada ketakutan jika aku terpeleset seperti pagi kemarin.
"Masak apa bu?"
"Orak-arik telur kesukaanmu, makan gih cepet, nanti ditinggal bus sekolah."
"Tenang bu, hari ini aku pakai sepeda, sekalian pemanasan karena jam pertama langsung pelajaran olahraga. Nih udah aku pakai seragamnya," ujarku langsung menjelaskan tanpa diminta.
"Tapi Bu aku nggak sempat sarapan, bawa bekal aja ya, aku janji ketemu Yaya ketua OSIS sebelum jam pertama, takut dibilang ngaret lagi nanti," ujarku sambil tanganku refleks menyendok nasi di meja, langsung menyuap dengan cepat.
"Makan jangan sambil berdiri, pamali, nanti kesedak!"