Kamar itu pernah mengeluarkan aroma anyir selama seminggu. Campuran bau busuk, darah dan serbuk kopi yang ditebarkan ibu. Waktu itu usiaku masih sembilan tahun dan lantai rumah kami hanya berupa tanah urug. Kaki selalu kotor lalu sering ada hewan melata karena dekat ladang jagung.
Ibu tidak pernah membuka kamarnya untuk siapapun. Ia selalu menggembok dari luar saat pergi dan cepat-cepat menutupnya dari dalam saat tidur malam. Baunya sempat menyengat lalu berakhir hilang di bulan kedua.
Ingatanku sebenarnya tidak banyak tapi semua kenangan hanya berisi hal buruk. Ibu yang tidak pernah tersenyum hangat padaku, kelaparan lalu cemooh dari orang-orang. Semua menumpuk di kepala dan menjadi sarang trauma saat dewasa. Kalau diingat-ingat, hal baik hanyalah ayah. Pelukan hangatnya juga bisikan-bisikan penuh kasih saat ia menidurkanku di bale-bale ruang tengah, sangat membekas. Aku masih ingat jenggotnya juga suara seraknya.
Namun kenanganku terputus di sana. Di hari ayah menghilang dan kamar ibu mulai berbau aneh, ingatanku langsung buram. Seperti ada tembok putih yang menghalangi pandanganku hingga sekarang.
Apa yang terjadi? Apa yang dilakukan ayah dan ibu waktu itu—aku tidak pernah mengingatnya lagi. Bahkan saat aku mulai tumbuh dewasa, tidak pernah sekalipun aku bertanya kenapa kamar ibu tidak pernah dibuka? Kenapa saat seluruh rumah mulai diberi ubin, ibu selalu menolak memperbaharui tempatnya beristirahat?
Semua baru terjawab tiga puluh tahun kemudian.