DI BAWAH RANJANG IBU

Eka Budi Widiesi
Chapter #2

Pulang

Desa itu seperti lorong gelap tanpa ujung. Langit, angin juga orang-orangnya serasa palsu. Semua hanya bergerak saat ada ‘tamu’. Tapi setelah lima tahun berlalu, kesan suram penuh kabutnya cukup banyak berubah. Bukan ke hal yang lebih baik tapi justru semakin tidak nyaman. Sejak terakhir kali Hanggani pulang menjenguk ibunya, untuk pertama kalinya ia tersesat. Jalan yang awalnya bisa dilalui dengan mudah kini sebagian sudah rusak dan dihalangi semak-semak. Entah karena jarang dipakai atau sudah ada jalan alternatif lain tapi yang jelas hutan jati di sekitaran sana menjadi kompas ke mana Hanggani harus melangkah.

Beberapa hari lalu seorang perangkat desa memberinya kabar kalau ibunya—Kasminah, sakit keras. Wanita lima puluhan tahun itu jatuh saat bekerja di ladang dan mengalami patah tulang belakang. Sebenarnya, selain Hanggani, ada Reindra anak pertama. Tapi mereka ada di kota yang berbeda dan jarang berkomunikasi. Bukan karena hubungan tidak baik tapi sejak kecil sikap mereka dingin satu sama lain.

“Aku dengar mobilmu dititipkan di balai desa,” kata Ratri, teman sebaya Hanggani yang masih bertahan di desa.

Wanita itu tadinya ada di pinggiran sawah tapi kemudian naik ke jalan utama saat melihat Hanggani berjalan dari kejauhan. Wajah si kembang desa itu telah berubah banyak. Penuh kerut dan bintik penuaan. Ia menggendong anaknya yang mengelapi ingus dengan leher kaus. Seorang bocah lelaki dengan usia kurang dari empat tahun. Mata berbinar tapi terlihat kurang pangan.

“Iya, jalan di sini tidak layak lagi.” Hanggani bergumam lalu melipat bibirnya karena tidak nyaman. “Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja,” sahut Ratri tersenyum lebar.

Apa yang terjadi hari ini mirip dejavu. Tidak hanya tentang langit yang selalu berwarna suram tapi bau jerami busuk juga tanah dengan kerikil tandus menuju rumahnya—membangkitkan sensasi gelisah.

Ratri yang terakhir kali menggendong anak kecil, mungkin telah hamil untuk ketiga kalinya. Di desa itu memang banyak wanita bernasib sama. Tumbuh remaja, mekar lalu layu sebelum menikmati masa keemasan. Ratri adalah salah satunya sedang Hanggani yang dianggap tidak menarik justru mendapatkan hidup lebih baik di kota. Lajang tapi modis dan cukup berada.

“Kamu sendirian? aku pikir kamu sudah menikah. Ibumu selalu bilang kalau….,”

Pertanyaan sampah itu lagi, batin Hanggani menghela napas bosan. Memang hidup akan berakhir tanpa pernikahan?

“Ratri, kudengar kamu ikut membantu ibuku. Terima kasih.” Ia memotongnya dengan dingin. Sementara di saat sama, tangannya mengambil beberapa lembar ratusan ribu dari dalam dompet. Sebuah ampuh menghentikan ocehan seseorang.”ambillah, mungkin tidak seberapa tapi ini tulus.”

Ratri tertegun sebentar.

“Hang, desa kita tidak lagi membeli dengan uang. Sejak tiga tahun lalu, kepala desa memutuskan untuk melakukan kemandirian pangan jadi di sini diberlakukan sistem barter.”

“Apa? Lalu bagaimana dengan listrik? Pendidikan? Kesehatan?”

“Semua diurus kepala desa. Tinggal lapor saja.”

Hanggani memasukkan kembali uangnya dengan ekspresi kecut. “Baiklah, kalau begitu aku akan pulang dulu.”

Entah bagaimana menjelaskannya, Hanggani merasa situasi itu sangat menganggunya. Kemandirian pangan? Omong kosong macam apa itu? jelas sekali desanya seperti diisolasi dari luar. Jalanan rusak, tiang listrik tidak ada dan lagi sejak tadi tidak ada orang. Sesepi apapun, di masa panen seperti sekarang, paling tidak ada lima atau enam orang di tiap petak persawahan.

Lihat selengkapnya