DI BAWAH SATU ATAP RUMAH KITA

Gie_aja
Chapter #1

RASA HATIKU TERINGAT BAPAK

Dihadapan makam kedua orangtuanya yang letaknya berdampingan, Tegar terpaku diam. Sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa perih dalam hatinya menatap kedua makam didepannya. Perlahan tetes demi tetes air mata pun mulai jatuh dari dua kelopak matanya Tegar.

“Bapak. Ibu,” gumam Tegar dengan bibir yang gemetar, “Aku kangen sama bapak, sama ibu,” lanjutnya kemudian.

Di usianya yang sekarang menginjak 27 tahun, Tegar masih juga belum bisa merasakan arti hidupnya yang semakin hari semakin dirasanya hampa. Jika saja waktu itu bapak tidak mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan kematian, tentu ibu tidak akan pernah memberikan Restu dan Imah untuk di adopsi oleh keluarga kaya. Kesulitan ekonomi dan sakit jantungnya ibu yang menyebabkan ibu harus ikhlas melepas anak-anaknya supaya mereka mempunyai masa depan yang lebih baik dan kehidupan yang nyaman.

Tegar melangkahkan kakinya menghampiri makam bapak, tertulis nama Rizal Suseno di kayu nisan itu. Tegar membasuh nisan kayu itu dengan sebotol air, lalu sisanya ia tuang digundukan tanah yang menutupi jasad bapaknya.

Saat itu Tegar teringat kenangannya bersama sang bapak.

Di sebuah area pembangunan ruko di tengah kota, Tegar yang waktu itu masih berumur 10 tahun nampak giat membantu kerjaan bapak sebagai kuli bangunan. Nafasnya Tegar ngos-ngosan setelah ngaduk campuran semen dan pasir. Tangan bapak menepuk hangat pundaknya Tegar.

“Capek?” tanya bapak.

Tegar tersenyum sambil mengangguk kecil.

“Minum,” kata bapak sambil menyodorkan sebotol minuman dingin pada Tegar.

Tegar langsung meneguk botol minuman plastik tersebut.

“Kamu istirahat dulu,” kata bapak, lalu mengambil pacul yang sedari tadi Tegar pegang ditangannya.

Tegar nurut pada bapak, lalu ia pun duduk beristirahat di bawah sebuah pohon cukup rindang yang tumbuh di area pembangunan itu.

Tegar melihati bapak yang masih semangat kerja meskipun sekujur badannya keringatan karena berada di bawah teriknya matahari siang itu.

Sore harinya mereka pulang kerja, Tegar berjalan selalu di samping bapak. Beberapa kuli berjalan bersama mereka dengan membawa sisa kerak dari peluh hasil kerja mereka seharian. Sesekali untuk menghilangkan kebosanan mereka saling bercanda sambil tetap melangkahkan kakinya pulang. Tegar dan bapak pun ikut tertawa juga menanggapi candaan mereka.

Sambil berdiri di pinggiran jalan nunggu angkot, bapak melihati Tegar, lalu tersenyum.

“Kamu harus kuat ya, nak.” kata bapak sambil menepuk halus pundaknya Tegar.

“Aku kuat kok, pak. Pokoknya nggak sia-sia bapak namai aku Tegar, soalnya aku akan selalu jadi anak kuat,” balas Tegar sambil membusungkan dadanya dengan bicara lantang, lalu Tegar pun batuk keselek ludahnya sendiri.

Bapak tertawa menanggapi aksinya Tegar barusan.

Lihat selengkapnya