Tegar beranjak menghampiri makam ibunya, lalu sama seperti yang ia lakukan pada nisan kayu makam bapaknya, Tegar juga membasuh nisan kayu makam ibunya, lalu menuangkan sisa air dari botol ke area gundukan tanah yang menutupi jasad ibunya.
“Ibu,” gumam Tegar, “Anakmu masih disini,” lanjutnya dengan nada pelan saking menahan rasa sedih di hatinya.
Ingatan akan masa lalu kembali hadir dalam benaknya Tegar.
Waktu itu setelah kami memakamkan bapak, malamnya Tegar, ibu, Restu dan Imah hanya bisa terpaku diam penuh kesedihan menjalani waktu tanpa bapak. Harusnya jika bapak masih hidup, beliau akan berkumpul bersama kami, bercanda dia bersama kami di ruangan sempit rumah kami. Imah tak henti-hentinya menangis dalam pelukan ibu yang masih terisak tangisnya. Perlahan Restu pun tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya, dan mulai terisak menangis juga. Tegar berusaha untuk kuat di depan mereka. Masih dalam diamnya Tegar memperhatikan satu per satu dari mereka, keluarganya yang masih tersisa.
“Aku kangen bapak,” kata Imah yang masih dalam pelukan ibu.
“Iya sayang, ibu ngerti, kalian pasti kangen sama bapak. Ibu juga sama, tapi kalian harus ngerti juga, sekarang bapak udah nggak ada. Bapak udah nggak bisa lagi tinggal sama-sama kita,” kata ibu dengan nada kata terbata-bata, “Ibu mau kalian kuat menghadapi cobaan ini,”
Tegar, Restu dan Imah mengangguk kecil menanggapi ucapan ibu barusan, lalu Tegar pun tak kuasa menahan air matanya, ia pun menangis juga, “Ibu,” kata Tegar, lalu beranjak menghampiri ibunya dan memeluk ibu serta Imah. Restu pun ikut beranjak juga memeluk mereka.
Heningnya malam serta temaram-nya nyala lampu bohlam di rumah kami semakin membuat suasana sendu semakin terasa. Tembok rumah yang sudah usang dengan cat yang sudah banyak mengelupas adalah saksi bisu betapa merana-nya hidup kami sejak di tinggal bapak.
Seminggu kemudian di kamar sumpek yang Tegar, Restu dan Imah tempati sebagai kamar tidur, mereka melihat ibu menerima beberapa tamu yang tidak mereka kenal. Samar-samar kami mendengar pembicaraan ibu dan mereka. Saat itu Tegar hanya terpaku menahan sedih ketika ibu berencana akan memberikan anak-anaknya untuk di adopsi oleh mereka.
“Adopsi itu apa, kak?” tanya Imah pada Tegar.
Tegar tak ingin menjawab pertanyaan Imah, lalu setelah menghela nafas berusaha melepas rasa sedihnya, Tegar langsung memeluk Imah, dan juga Restu.
“Ibu mau ngasih kita ke mereka, iya kan, kak?” tanya Restu dengan nada pelan menahan pilu hatinya.
“Nggak. Kakak yakin ibu nggak akan tega melakukan itu ke kita.” jawab Tegar dengan nada yakin untuk menenangkan kedua adiknya.
Setelah para tamu itu pergi, Tegar menyuruh Restu dan Imah untuk diam di kamar, sedangkan Tegar akan bicara berdua saja dengan ibu. Restu dan Imah nurut pada Tegar, lalu menutup pintu kamar rapat-rapat setelah Tegar keluar dari area kamar itu.
Perlahan dengan kaki yang berjalan lemah, Tegar beranjak menghampiri ibu yang sedang duduk sendirian.
Ketika melihat kedatangan Tegar, ibu sempat tersenyum seakan menyembunyikan rasa sedih dihatinya.
Sejenak Tegar hanya terpaku diam menatap ibunya.
“Kenapa?” tanya ibu melihat Tegar, “Kenapa kamu lihatin ibu begitu?