DI BAWAH SATU ATAP RUMAH KITA

Gie_aja
Chapter #3

KAMI TAK INGIN PERGI

Di jalanan setapak yang nampak sepi dan hening, Tegar berjalan bersama dua adiknya. Kedua tangannya memegang erat tangan Restu dan Imah di sisi kiri dan kanannya. Mereka bertiga berjalan menyusuri jalanan itu jauh dan semakin jauh dari rumah.

“Kita mau pergi kemana, kak?” tanya Imah.

“Nggak tau. Kita jalan aja terus,” jawab Tegar.

“Kasihan ibu, kak … di tinggal sendirian di rumah,” kata Restu menanggapi Tegar, “Kita balik lagi aja, ya.”

“Kalo kita balik, ibu pasti bakalan ngasih kita buat di adopsi sama orang lain. Emangnya kalian mau di adopsi orang lain?” tanya Tegar pada kedua adiknya.

Serentak Restu dan Imah menggelengkan kepala bersamaan.

“Kalo gitu ya udah, kita lanjutin jalannya,” kata Tegar sambil kembali melanjutkan jalannya.

“Kalo ibu nyariin kita, gimana?” tanya Imah lagi.

Mendadak Tegar terpaku diam sesaat ketika mendengar pertanyaan Imah barusan, lalu Tegar menatapi kedua adiknya satu per satu.

“Ibu udah pasti akan nyariin kita. Nanti biar aku yang bilang ke ibu, kalo ibu mau kita balik lagi, ibu harus janji nggak akan ngasih kita untuk di adopsi orang lain,” jawab Tegar menanggapi pertanyaan Imah.

Tidak jauh didepannya ada beberapa warga desa yang berjalan menyusuri jalanan itu yang berlawanan dengan arah jalan ketiga anak itu. Tegar langsung menarik kedua tangan adiknya, lalu bersembunyi di balik semak-semak pinggiran jalan, sampai orang-orang itu melintasi jalan dan nggak sadar sudah melewati Tegar, Restu dan Imah.

“Kenapa kita harus sembunyi, kak?” tanya Imah lagi.

“Soalnya kalo sampe mereka tau kita jalan lewat sini, terus ketemu sama ibu, mereka pasti akan bilang sama ibu tentang kita,” jawab Tegar berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya pada Imah.

Samar-samar dari arah belakangan jalanan, Tegar, Restu dan Imah mendengar suara ibu yang terus-menerus memanggil nama mereka satu per satu.

“Tegar. Restu. Imah,” kata ibu memanggil ketiga anaknya sambil terus berjalan mencari keberadaan mereka.

“Itu ibu, kak. Ibu nyariin kita,” kata Imah sambil beranjak dari persembunyian, lalu Tegar kembali menarik tangannya Imah.

“Kita harus tetap sembunyi. Pokoknya kita jangan sampe ketahuan ibu,” kata Tegar berusaha tegas di depan kedua adiknya.

“Kasihan ibu, kak," kata Restu sambil menatap pilu pada Tegar, “Ibu pasti sedih lihat kita kabur dari rumah," lanjutnya lagi.

Lihat selengkapnya