DI BAWAH SATU ATAP RUMAH KITA

Gie_aja
Chapter #4

DALAM TANGIS AKU BERHARAP

Hampir setengah jam ibu bicara dari hati ke hati dengan Tegar anak sulungnya. Sesekali mereka berdua terisak dalam tangis dan bicaranya, dan nampaknya Tegar mulai bisa menerima keputusan terpahit yang diambil oleh ibu untuk masa depan ketiga anaknya.

“Tapi ibu janji akan sering-sering nengokin aku, Restu sama Imah?” tanya Tegar sambil menatap sendu pada ibunya.

“Iya, sayang,” jawab ibu sambil tersenyum kecil, lalu mengecup kening Tegar.

“Aku juga boleh kan sering-sering ngunjungin Restu sama Imah di rumah orangtua asuh mereka?” tanya Tegar lagi.

“Iya sayang,” jawab ibu kembali singkat dengan nada suara bergetar saking menahan getir dihatinya.

Sesaat Tegar hanya terpaku diam duduk disamping ibunya, lalu kembali Tegar bertanya lagi pada ibunya, “Kapan mereka akan jemput aku, Restu sama Imah, bu?”

“Mungkin besok atau lusa. Nanti ibu akan pastikan lagi ke mereka," jawab Ibu masih dengan tatapan sedihnya melihati Tegar, “Sekali lagi ibu minta maaf ya, sayang. Bukannya ibu nggak sayang sama kamu, Restu dan Imah… Tapi ini jalan terbaik yang harus ibu tempuh supaya kalian bertiga bisa punya kesempatan memiliki masa depan yang cerah, meskipun tanpa ibu yang nemenin kalian.”

Tegar hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan ibunya, dan kembali untuk kesekian kalinya ibu tak bosan-bosan mencium keningnya Tegar.

***

Tegar membaringkan tubuhnya di tengah, di samping kiri dan kanannya Restu dan Imah. Dalam satu kasur, mereka tidur bertiga.

Sejenak Tegar terpaku diam menatapi wajah kedua adiknya yang nampaknya sudah tertidur lelap. Tegar merapikan rambutnya Imah yang menutupi sebagian wajahnya, lalu Tegar beralih menatap Restu sambil mengelus rambutnya Restu. Sebagai kakak, nampaknya Tegar sangat menyayangi kedua adiknya.

Perlahan Tegar mulai memejamkan kedua matanya. Ia mencoba untuk tertidur meskipun hati kecilnya bergejolak, karena besok atau lusa mereka akan menjemput Tegar, Restu dan Imah berpisah dari ibu dan rumah ini, rumah peninggalan satu-satunya dari almarhum bapak untuk mereka.

“Kak,” sapa Imah menatap Tegar.

“Lho kamu belum tidur?” tanya Tegar.

“Belum,” jawab Imah.

“Aku juga belum tidur, kak,” kata Restu menatap Tegar juga.

“Kakak pikir kalian udah pada tidur,” balas Tegar sambil melayangkan senyuman kecil untuk kedua adiknya.

“Kakak tadi bicara apa aja sama ibu?” tanya Restu.

“Nggak bicara apa-apa. Cuma ngobrol biasa aja,” jawab Tegar berusaha tetap tenang, tapi Restu dan Imah tahu jika Tegar sedang menutupi sesuatu.

Lihat selengkapnya