DI BAWAH SATU ATAP RUMAH KITA

Gie_aja
Chapter #5

SI BUNGSU YANG PERTAMA PERGI

Pagi sudah menjelang, dan matahari sudah muncul di permukaan langit. Tegar, Restu dan Imah sudah selesai mandi dan memakai baju yang rapi untuk menyambut kedatangan calon orangtua asuh mereka masing-masing. Di samping ketiga anak itu tergeletak tas-tas dan juga barang-barang kesayangan mereka untuk dibawa pergi.

Ibu terpaku diam sambil menatapi ketiga anaknya satu per satu, dan kembali beliau tak kuasa menahan air matanya, lalu menangis sambil melukin ketiga anaknya bersamaan.

“Sekali lagi ibu minta maaf sama kalian, Tegar, Restu sama Imah. Ibu bukannya nggak sayang sama kalian, tapi hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan masa depan kalian,” kata Ibu masih memeluki mereka, dan tak henti-hentinya airmatanya mengalir membasahi pipinya.

Tegar, Restu dan Imah hanya terpaku kaku dalam pelukan ibunya, lalu perlahan ibu melepaskan pelukannya dari mereka, dan tak bisa lepas menatapi mereka.

Dengan tatapan polos dan wajah yang tulus Imah mengusap airmata ibu dengan tangannya, “Ibu jangan nangis.”

Mendengar ucapan Imah membuat ibu semakin hancur hatinya, dan sekali lagi beliau memeluki ketiga anaknya sekaligus dengan pelukan yang sangat erat seakan tak mau berpisah dari mereka, namun perpisahan itu harus mereka lalui demi kebaikan dan masa depan ketiga anaknya nanti. Rumah mungil kami adalah satu-satunya saksi bisu yang menyaksikan moment kesedihan yang begitu mendalam antara ibu dan ketiga anaknya.

Tak lama setelah itu, terdengar dari arah luar bunyi mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah kami. Ibu melepaskan pelukannya dan merapikan dirinya, serta menghapus sendiri air matanya. Sedangkan Tegar, Restu dan Imah masih terpaku diam ditempatnya tak bergeming. Wajah mereka berubah tegang, dan sesekali Tegar melihati kedua adiknya, lalu tangan mungilnya memegang erat tangan Restu dan juga Imah.

Ibu beranjak menghampiri pintu utama rumah kami ketika mendengar pintu kayu rumah kami di ketuk beberapa kali. Wajah Restu dan Imah semakin nampak tegang, lalu Tegar sengaja semakin erat memegangi tangan kedua adiknya dengan maksud untuk menguatkan hati mereka.

“Kalian berdua nggak usah tegang gitu mukanya,” kata Tegar bicara dengan nada pelan pada kedua adiknya, “Santai aja sih.” lanjutnya lagi.

“Kakak juga mukanya tegang,” balas Imah dengan nada pelan juga.

“Masa sih? Nggak ah, kakak biasa aja,” jawab Tegar sambil berusaha meringankan wajahnya yang memang terasa tegang sambil tersenyum pada Imah, “Tuh kakak masih bisa senyum.”

“Senyum kakak tegang,” balas Imah lagi, sehingga membuat Restu berusaha menahan tawanya mendengar pembicaraan Tegar dan Imah, lalu melihat Tegar yang memang mukanya nampak tegang.

“Kalo mau ketawa yaaa ketawa aja. Nggak usah ditahan-tahan gitu,” kata Tegar pada Restu yang masih berusaha menahan tawanya.

“Siapa yang nahan ketawa. Aku nggak kok,” balas Restu berusaha menormalkan lagi mukanya di depan Tegar dan Imah.

Ketika melihat mukanya Restu, Tegar malah jadi mau ketawa, lalu ia pun ketawa tapi tidak keras suara tawanya, diikuti oleh Restu dan juga Imah, sehingga nampak wajah ketiga bocah itu tidak se-tegang tadi.

Perlahan namun pasti suara tawa mereka mulai memudar seiring ketika mereka melihat ibu membuka pintu untuk tamu yang datang pagi itu.

Lihat selengkapnya