Menjelang siang, Tegar dan Restu duduk berdua di kursi teras. Dua bocah kecil itu sedang menunggu siapa orangtua asuh yang akan datang berikutnya. Sesekali Restu melihat kearah Tegar yang masih duduk disampingnya, lalu ia mulai bicara meluapkan isi hatinya yang galau, “Aku takut ka.”
Tegar balas melihat Restu, “Takut kenapa?”
“Aku takut kita nggak akan pernah ketemu lagi,” jawab Restu yang nampak risau dari ekspresi wajahnya.
“Nggak usah takut kita nggak akan ketemu lagi, soalnya ibu udah janji sama aku, setiap bulan kita akan ketemuan. Kita cuma pisah rumah,” balas Tegar berusaha menenangkan Restu sambil menepuk lembut pundak Restu.
“Gimana kalo ibu ternyata bohong?” balas tanya Restu.
“Ibu nggak mungkin bohong,” tegas Tegar yang serentak cepat menjawab pertanyaan Restu barusan.
Restu pun terpaku diam, lalu menundukkan kepalanya, seakan tak berani bicara lebih lanjut pada Tegar.
Sejenak Tegar terpaku menatap Restu, “Aku janji sama kamu. Kalo setiap bulan kita nggak dipertemukan oleh orangtua asuh kita. Aku yang akan cari kamu dan Imah.”
Restu balas menatap Tegar, “Kakak janji?”
“Iya. Janji.” jawab Tegar dengan yakinnya.
Restu mengangguk kecil menanggapi janji Tegar sambil tersenyum kecil menandakan risau hatinya sudah sedikit hilang.
Ibu beranjak keluar dari area dalam rumah, lalu melihat sekitarnya, “Masih belum ada yang datang?”
“Belum bu,” jawab Tegar, “Kira-kira siapa duluan yang datang? Orangtua asuh aku, atau orangtua asuh Restu?”
“Ibu nggak tau. Mereka belum menelfon ibu,” jawab ibu.
Ibu beranjak menghampiri Tegar dan Restu, lalu bersimpuh di depan mereka.
“Siapapun nanti yang datang jemput kalian. Ibu pengen kalian hormati mereka, karena mereka akan jadi orangtua kalian pengganti ibu,” kata ibu dengan nada lembut bicara pada Tegar dan juga Restu.
Serentak bersamaan Tegar dan Restu mengangguk kecil, “Iya bu,” ujar mereka bersamaan lagi.
Ibu melayangkan senyum kecilnya pada Tegar dan Restu, lalu tangannya yang lembut mengusap rambut mereka.
Serentak Tegar dan Restu pun langsung beranjak dari duduknya, lalu memeluk ibu mereka.
Seketika ibu tak kuasa menahan airmatanya dalam pelukan kedua anaknya, dan begitu juga dengan Tegar serta Restu.
“Maafin ibu nak,” kata ibu sambil terisak tangisnya.