DI BAWAH SATU ATAP RUMAH KITA

Gie_aja
Chapter #7

HATI YANG PATAH

Dalam hening Tegar duduk berdiam diri disamping ibu. Sekarang giliran Tegar yang akan dijemput oleh calon orangtua asuh. Tangan Tegar merogoh sesuatu dari dalam tas yang diletakkan disampingnya, Tegar mengambil dua buah boneka yang terbuat dari rumput yang ditekuk-tekuk, lalu di lem dan diikat karet, sehingga bentuknya menyerupai sepasang anak laki-laki dan perempuan. Ibu melihat kedua boneka itu yang dipegang Tegar.

“Apa itu?” tanya ibu.

“Dua boneka dari rumput ini hadiah kenang-kenangan dari Restu dan Imah,” jawab Tegar, “Yang perempuan Imah yang bikin. Yang laki-laki Restu yang bikin,” lanjutnya lagi sambil memperhatikan dua boneka rumput itu supaya jelas dilihat ibu, “Katanya Restu sama Imah sengaja bikin boneka rumput ini supaya aku nggak lupain mereka.”

Ibu tersenyum kecil, “Bagus boneka rumput buatan Restu sama Imah ya.”

Tegar mengangguk membenarkan ucapan ibunya, “Aku akan selalu menyimpan boneka ini selamanya.”

Ibu menatap sendu pada ketegaran hati Tegar.

“Aku nggak akan lupain kedua adikku. Aku udah janji sama bapak dan sama diriku sendiri, aku akan selalu jagain mereka,” kata Tegar, lalu perlahan mencium kedua boneka rumput itu dengan keteguhan hatinya.

Sejenak kemudian mereka kembali terdiam. Tegar memasukkan kembali dua boneka rumput itu ke dalam tas-nya.

Suasana hening dan sepi kembali menguasai sekitar mereka dan juga menguasai hati ibu dan anak itu.

Perlahan Tegar menoleh kearah ibunya yang masih duduk disampingnya.

“Ibu,” kata Tegar dengan lembut memanggil ibunya.

“Iya sayang,” jawab ibu dengan nada lembut juga sambil balas menoleh kearah Tegar.

“Sebentar lagi orangtua asuhku akan jemput aku. Setelah aku pergi, ibu akan sendirian,” kata Tegar dengan tatapan sendu melihati ibu.

Ibu tersenyum kecil, lalu menjawab pertanyaan Tegar, “Nggak apa-apa ibu sendirian, karena yang terpenting buat ibu adalah kamu dan kedua adikmu Restu sama Imah sudah berada sama orang yang tepat, yang akan merawat kalian, menyekolahkan kalian nanti sampai pinter dan membuat masa depan hidup kalian semakin cerah.”

“Tapi ibu akan kesepian nanti,” balas Tegar masih dengan nada lembut menyampaikan isi hatinya pada ibu.

“Ibu pasti akan kesepian ditinggal oleh kamu dan juga Restu sama Imah, tapi ibu masih sanggup menahan kesepian ini daripada melihat kalian susah kalo masih tinggal sama ibu,” balas Ibu masih dengan tatapan sendu-nya melihat Tegar.

“Kalo misalnya nanti penyakit jantung ibu kambuh lagi, gimana?” tanya Tegar yang nampaknya sangat mengkhawatirkan penyakit ibunya.

“Ibu akan baik-baik aja nak,” jawab Ibu sambil melayangkan senyuman lembut pada anak sulungnya, “Yang terpenting buat ibu sekarang adalah hidup kalian dan juga masa depan kalian,” lanjutnya lagi sambil menggenggam erat tangannya Tegar.

Tegar mengangguk kecil menanggapi ibunya.

Lihat selengkapnya