Halo, Pembaca!
Selamat datang di "Di Dunia Batas". Ini adalah cerita tentang rahasia yang terkunci, pagar yang memisahkan kita dari kebenaran, dan keberanian seorang gadis bernama Naya untuk mencari jawaban di tengah dunia yang sudah berubah.
Terima kasih sudah mampir. Semoga atmosfer di "Rumah Kita" bisa membuat kalian betah. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Love atau Komentar jika kalian menyukai perjalanannya.
Selamat membaca!
— RemithG

Kabut turun rendah di antara pepohonan. Sawah-sawah kecil mulai ditumbuhi padi muda, seperti tanda bahwa dunia ini pelan-pelan hidup lagi. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tertawa bercampur dengan bunyi peluit pelatih baris. Naya berjalan di jalan tanah, memegang buku catatan lusuhnya, dan langkahnya berhenti di pagar kayu tinggi dengan tulisan “BATAS ZONA AMAN”.
Matanya menatap jauh ke arah hutan, tempat reruntuhan kota berdiri seperti bayangan masa lalu.
Di belakangnya, gedung-gedung tua sekolah tempat mereka tinggal berdiri rapuh, dindingnya ditambal dengan papan dan seng dari puing lain. Lorong yang dulu dipenuhi suara lonceng kini jadi jalan utama komunitas; ruang kelas berubah jadi tempat tinggal, dan aula besar diubah jadi ruang rapat dan gudang bahan pangan.
Anak-anak berlari di halaman bekas lapangan upacara, di antara tiang bendera yang catnya terkelupas. Mereka berteriak riang, seolah tak tahu tempat itu dulu penuh ketakutan. Hanya orang-orang tua yang masih ingat saat sekolah ini dijadikan tempat perlindungan pertama — sebelum tembok pagar dibangun, sebelum kabut membawa ketenangan yang aneh ini.
Bagi Naya, dunia sebelum ini hanyalah cerita samar dari para penjaga malam: tentang kota yang terbakar, tentang suara lolongan di jalan kosong, dan tentang bagaimana manusia akhirnya menutup diri di balik pagar besi. Ia lahir setelah semua itu berakhir, di masa ketika kematian hanya tinggal kisah, tapi rasa waspada tak pernah benar-benar pergi.
Di tengah lamunannya, ia mendengar suara langkah perlahan mendekat. Naya berbalik, dan melihat senyum yang begitu dikenalnya — senyum wanita yang dihormati semua orang di komunitas ini, salah satu pendiri utama.
Ibunya, Dara.
Wajahnya teduh, langkahnya mantap. Rambutnya mulai beruban, tapi matanya masih memancarkan kehangatan yang sama seperti dulu, ketika Naya masih kecil dan takut pada suara kabut malam.