
Naya menatap kalimat itu lama, jantungnya berdetak pelan—antara haru, takut, dan sesuatu yang baru tumbuh di dalam dirinya: rasa ingin tahu yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
Ia menyentuh tulisan pudar itu. Tinta yang nyaris hilang masih terasa kasar di ujung jarinya. Entah kenapa, seolah ada sesuatu yang bergetar di udara—sebuah gema masa lalu yang menembus waktu.
…dan dunia pun perlahan berubah.
Agustus, 2005.
Suara sirene darurat menggema di udara. Lampu-lampu oranye berputar, memantul di wajah orang-orang yang berlari di antara bayangan dan asap.
“Tim Barat belum kembali!”
“Sinyal Pos 2 hilang!”
“Bawa persediaan ke ruang bawah tanah, cepat!”
Suara-suara panik bersahutan, semakin lama semakin kacau. Di ruang bawah tanah yang sama yang kelak ditemukan Naya, Dara menahan napas, dinding beton di sekelilingnya terasa pengap, bayangan orang berlalu-lalang memantul di cahaya senter yang redup. Ini ruang bawah tanah sekolah — tempat penyimpanan lama yang kini penuh sesak dengan orang-orang yang ketakutan.
Perutnya besar — waktunya hampir tiba, tapi ia menolak berbaring. Tangan gemetarnya menyalakan radio, mencari frekuensi yang masih hidup.
“Arka, kau dengar aku? Ini Dara. Tolong jawab, Arka...!!
Hening. Hanya suara gemerisik dan napasnya sendiri. Lalu, klik. Suara laki-laki muncul samar dari radio terputus-putus, “Dara... jangan tunggu aku... selamatkan mereka... jaga anak-anak mereka, jaga anak kita...”
Dara menjerit, "Arka!? Arka, jawab aku!!" Sinyal terputus. Radio mati. Tangannya jatuh, menggenggam udara kosong.
Pintu ruang bawah tanah terbuka, seorang rekan masuk setengah berlari. "Dara — fokus! Waktunya, kita harus ke klinik sekarang!" Tangannya menggenggam bahu Dara, memaksanya berdiri. "Bayimu yang penting sekarang. Arka mau itu."
Dara menatap peta besar yang menempel di dinding, penuh coretan merah dan abu-abu. Nama suaminya tertulis di sana: "Arka." Di bawahnya, catatan kecil: "Hilang kontak — hari ke-42."
Tangannya gemetar saat mengambil buku catatan di meja. Kertasnya lembap oleh embun malam, bercampur sedikit darah dari jarinya yang tergores. Tapi ia tetap menulis. Huruf-hurufnya goyah, namun tegas.
"Jika kelak kau menemukan tulisan ini, ketahuilah aku bukan berhenti berjuang, tapi akan memperjuangkan masa depan."
Ia menutup buku itu pelan. Membiarkan dirinya dituntun keluar — kakinya bergerak, tapi pikirannya tidak ikut. Ia masih di suara radio itu, di desis statis yang menelan nama suaminya. Suara hujan deras mengiringi langkahnya.
Di luar, dunia seperti memudar di matanya — asap, cahaya, dan suara jeritan bercampur jadi satu. Dan di antara lorong gelap menuju klinik, ingatannya hanyut ke malam ketika semuanya dimulai…
Dara berlari di antara reruntuhan rumahnya yang terbakar. Suara jeritan minta tolong dan rintih kesakitan bersahut-sahutan. Malam itu pertama kalinya ia melihat manusia melahap manusia lain tanpa belas kasih. Air matanya menetes; tangannya menekan perut yang semakin besar. Kakinya sudah tak ingat berapa lama berlari — yang ia tahu hanya satu: ia harus menemukan tempat yang aman. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk bayi yang belum sempat ia kenali namanya.
"Kita nggak punya waktu, Dara, ayo!" seru Arka, menariknya keluar dari jalan yang penuh api. Mereka berlari menembus hujan, napas Dara tersengal di antara deru angin dan teriakan yang semakin jauh. Kakinya berat, tapi tangannya tak pernah melepas genggaman Arka — satu-satunya hal yang terasa nyata malam itu.
Di persimpangan yang hangus, di antara orang-orang yang berlari ke arah yang sama, Dara mengenali beberapa wajah — tetangga dari blok sebelah, ibu yang sering ia temui di warung pagi, bapak-bapak yang biasa duduk di pos ronda. Wajah-wajah familiar yang kini menyimpan ketakutan yang sama persis dengan miliknya.
Di antara mereka, Dara melihat Mira — rambutnya basah kuyup, menggandeng seorang anak kecil yang bukan anaknya. Dan beberapa langkah di belakang, Sura — sendiri, tanpa istri dan anaknya yang biasa selalu di sisinya. Matanya lurus ke depan, tapi kosong, seperti seseorang yang baru saja meninggalkan sesuatu yang tidak bisa ia bawa pergi.
Mereka tiba di bangunan sekolah dasar — jendelanya pecah, papan nama separuh terbakar. Di dalam gelap, samar terdengar suara erangan.
"Kita sembunyi di sini. Aku akan periksa bagian dalam," kata Arka sambil menatap Dara.
Dara menggeleng, menggenggam tangannya erat. Ia tidak mau sendiri. Tidak lagi.
Mereka masuk bersama — bersama rombongan yang terus berdatangan, satu demi satu, seperti sungai yang mencari muaranya. Meja-meja diseret untuk menahan pintu, jendela ditutup dengan papan triplek. Anak-anak menangis tanpa suara, seolah sudah belajar bahwa malam ini, suara bisa membunuh.
Beberapa hari berlalu dalam ketakutan. Hingga akhirnya seseorang berkata pelan, "Kita nggak punya persediaan. Kita nggak bisa terus sembunyi."
Hening yang menjawab. Orang-orang saling pandang — mata lelah, perut lapar, harapan yang mulai menipis seperti lilin di ujung sumbu.
Dara menatap perutnya yang kian membesar. Napasnya berat. "Kalau dunia luar sudah hancur," katanya perlahan, "kita mulai aja dari sini. Kita bikin aturan sendiri — biar anak-anak ini bisa tetap hidup."
Tidak semua langsung setuju. Ada yang bilang mustahil. Ada yang diam saja karena sudah terlalu lelah untuk berharap. Tapi tidak ada yang pergi.
Sunyi sejenak. Hanya hujan dan petir yang menjawab.
Di papan tulis berdebu, Arka menulis sesuatu dengan kapur putih: "RUMAH KITA."
Awalnya hanya nama tempat bertahan. Tapi lama-kelamaan, jadi alasan mereka untuk tetap hidup.
Minggu-minggu pertama adalah yang paling berat. Mereka makan seadanya — sisa kaleng dari dapur sekolah, hasil panen kecil dari halaman yang belum pernah dijadikan kebun. Anak-anak belajar di ruang kelas yang sama tempat mereka bersembunyi dari suara di luar pagar. Orang-orang berjaga bergantian, mata merah karena kurang tidur, tapi tidak ada yang mau mengaku takut.
Perlahan, mereka mulai terbiasa. Bukan karena dunia menjadi lebih baik — tapi karena mereka memilih untuk tidak menyerah. Dan satu per satu, orang-orang lain mulai berdatangan — penyintas dari blok sebelah, dari kota yang lebih jauh, bahkan dari tempat yang tidak pernah mereka dengar namanya.
Setiap wajah baru membawa luka masing-masing, tapi juga membawa tangan yang bisa bekerja dan mulut yang perlu diberi makan. Rumah Kita bukan lagi sekadar sekolah dasar dengan jendela pecah — ia jadi sesuatu yang lebih besar dari yang pernah Dara bayangkan malam itu.
Dara menutup mata sejenak. Dalam pikirannya: "Mereka bilang aku keras kepala. Mungkin iya. Tapi keras kepala itu yang bikin kami tetap manusia."
Radio di sudut ruangan tiba-tiba berdesis pelan, terputus-putus, suara asing, "Halo...? Ada yang dengar...? Kami... dari Zona Lautan... butuh... bantuan..."
Naya duduk bersila di lantai, jurnal terbuka di pangkuannya.
Tulisan tangan itu... ia kenal.
Suara radio itu bergema, membuyarkan lamunan Naya dan membawanya kembali ke masa kini — tapi tangannya masih menggenggam jurnal itu erat, seolah takut kehilangan ibunya untuk kedua kalinya.
Naya bergumam, "Mereka bilang... Ibu adalah legenda. Padahal ia hanya seorang perempuan yang terluka, kehilangan, dan berusaha bangkit... demi masa depannya."
Hening sejenak. Naya menatap buku catatan di tangannya.
"Rumah Kita... bukan hanya tempat. Tapi janji."