Di Dunia Batas

Remith G
Chapter #3

Bab III - Laut


Mira tidak pernah berencana jadi pahlawan malam itu.

Ia hanya ingin pulang.

Shift-nya di apotek baru saja selesai — dua belas jam berdiri, kaki pegal, kepala penuh catatan stok obat yang tidak pernah cukup. Ia mengunci pintu apotek, melangkah ke luar, dan baru sadar ada yang aneh.

Sepi.

Bukan sepi biasa — bukan sepi malam minggu ketika orang-orang sudah masuk rumah. Ini sepi yang berbeda. Seperti seluruh perumahan menahan napas. Tidak ada suara TV dari rumah pak Hendra. Tidak ada bau masakan dari warung bu Tati yang biasanya mengepul sampai jam sepuluh. Bahkan anjing-anjing yang biasa ribut di ujung gang — diam.

Mira mempercepat langkah.

Di langit, awan bergerak terlalu cepat untuk cuaca malam ini. Ia tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu di udara — berat, seperti tekanan sebelum badai besar. Bulu kuduknya berdiri.

Karin. Damar.

Ia hampir berlari waktu membelok ke gang rumahnya.

Rumah mereka gelap. Tapi pintunya tidak terkunci — kunci Karin masih menggantung di lubangnya.

Mira berhenti di ambang pintu.

"Karin?"

Hening.

Lalu dari arah lorong — suara. Bukan suara yang ia kenal. Bukan suara kakaknya.

Ia mendorong pintu perlahan. Tangannya meraba saklar lampu.

Karin berdiri di ujung lorong, memunggungnya. Rambutnya awut-awutan, bahunya naik turun tidak teratur. Di lantai di sekitarnya, pecahan gelas berserakan.

"Karin—"

Kakaknya berbalik.

Dan Mira melihat matanya.

Ia mundur selangkah, punggungnya menghantam kusen pintu. Otaknya berputar cepat — apoteker, terlatih untuk tenang dalam situasi darurat. Tapi tidak ada pelatihan yang menyiapkannya untuk ini.

Damar.

Di mana Damar?

Matanya menyapu ruangan — sofa berantakan, meja terbalik, tapi tidak ada Damar. Lalu dari arah kamar mandi, samar-samar, ia dengar suara isak tangis kecil yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak bersuara.

Anak itu mematuhi perintah terakhir ibunya.

Karin bergerak. Mira tidak punya waktu berpikir — ia melompat ke samping, menghindari, tangannya meraih vas bunga di rak dekat pintu. Bukan untuk menyerang. Hanya untuk membeli waktu.

"Damar!" serunya, suaranya pecah. "Damar, ini Bi Mira! Jangan buka pintu dulu, tunggu ya — tunggu suara Bi Mira!"

Dari balik pintu kamar mandi, isak tangis itu berhenti sejenak.

"Bi... Bi Mira?"

"Iya, sayang. Bi Mira di sini."

Karin menerjang lagi. Mira mundur ke arah kamar mandi, memposisikan dirinya di antara kakaknya dan pintu itu.

"Damar, dengarkan Bi Mira. Bi Mira mau hitung sampai tiga. Waktu Bi Mira bilang tiga, kamu buka pintu, langsung pegang tangan Bi Mira, jangan lihat ke mana-mana. Ngerti?"

Hening sejenak.

"...ngerti."

Mira menarik napas.

"Satu."

Karin semakin dekat.

"Dua."

Ia menggenggam gagang pintu kamar mandi dari luar.

"Tiga."

Pintu terbuka. Tangan kecil Damar langsung mencengkeram tangannya — kuat, seperti anak yang sudah belajar bahwa malam ini ia tidak boleh melepaskan pegangan. Mira menariknya, memutarnya agar tidak melihat ke arah lorong, dan berlari menuju pintu depan.

Di belakang mereka, suara Karin mengisi seluruh ruangan.

Mira tidak menoleh.

Ia tidak menangis. Tidak ada waktu untuk itu.

Tangannya menggenggam tangan Damar, dan ia berlari menembus malam yang tiba-tiba terasa seperti akan menelan segalanya.

Mereka berlari menuju tempat yang paling Mira hafal. Apotek tempat kerjanya hanya berjarak 2 blok dari rumah. Tapi malam itu terasa seperti 2 kilometer.

Apotek itu tidak besar — tiga rak obat, satu kulkas kecil untuk vaksin, meja kasir yang catnya sudah mengelupas. Mira hafal setiap sudutnya dengan mata tertutup.

Malam pertama, ia tidak tidur sama sekali.

Ia duduk di balik meja kasir, Damar tertidur di pangkuannya dengan jaket Mira sebagai selimut. Di luar, suara-suara yang tidak ingin ia kenali terus berdatangan — langkah yang tidak teratur, suara kaca pecah dari kejauhan, sesekali teriakan yang terpotong tiba-tiba.

Mira menghitung persediaan untuk kesekian kalinya. Bukan karena belum hafal — tapi karena itu satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih punya kendali.

Air minum — dua puluh botol kecil. Biskuit dari laci meja — setengah kardus. Obat-obatan — lebih dari cukup, tapi tidak ada gunanya kalau tidak ada yang sakit.

Damar menggeliat di pangkuannya.

“Bi Mira…” suaranya mengantuk, matanya belum terbuka. “Mama kapan jemput?”

Mira menelan ludah. Tangannya terus membelai rambut Damar, pelan dan teratur — persis seperti yang dulu selalu dilakukan Karin padanya waktu kecil.

“Tidur dulu ya, sayang. Nanti kita ketemu mama.”

Bukan kebohongan. Bukan juga kebenaran.

Damar mengangguk kecil, lalu terlelap lagi.

Dan Mira menunduk, wajahnya tersembunyi di balik rambut — membiarkan bahunya bergetar pelan, diam-diam, di kegelapan apotek yang hanya diterangi satu lilin kecil.

Ia tidak menangis keras. Tidak ada waktu, tidak ada ruang untuk itu.

Hanya bahu yang bergetar. Hanya napas yang ditahan terlalu lama.

Hari-hari berikutnya membentuk ritme sendiri.

Pagi — Mira mengajarkan Damar aturan bertahan. Jangan berisik. Jangan dekat jendela. Kalau Bi Mira bilang sembunyi, langsung sembunyi, tidak ada tanya-tanya dulu.

Damar mendengarkan dengan serius — anak tujuh tahun yang terlalu cepat belajar bahwa dunia bisa berubah dalam satu malam.

Siang — Mira mengintip dari celah jendela yang ia tutup dengan kardus. Memetakan pergerakan di luar. Mencatat mana jalan yang aman, mana yang tidak.

Malam — ia berjaga. Selalu.

Lihat selengkapnya