Di Dunia Batas

Remith G
Chapter #4

Bab IV - Dendam



Pesawat mendarat pukul enam sore.

Sura ingat betul — karena Raka, anaknya yang baru tujuh tahun, merengek minta es krim begitu roda pesawat menyentuh landasan. Dan istrinya, Lena, tertawa pelan sambil menepuk bahu Sura. “Kalah lagi kamu sama Raka.”

Sura mendengus, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Dua minggu di luar negeri — urusan pelatihan yang memakan waktu lebih lama dari rencana. Tapi Lena dan Raka ikut, jadi tidak terasa seperti kerja. Lebih seperti liburan yang kebetulan ada agenda di sela-selanya.

Di pesawat, tidak ada sinyal. Tidak ada berita. Tidak ada yang memberitahu mereka bahwa dunia di bawah sana sudah mulai berubah.

Jalanan pulang terasa aneh.

Sura tidak langsung menyadarinya — ia sibuk mendengarkan Raka yang bercerita tentang es krim mana yang paling enak selama liburan. Tapi lama-lama, sesuatu mengganjal di belakang pikirannya.

Sepi.

Bukan sepi biasa. Jalan tol yang harusnya macet di jam pulang kerja — lengang. Tidak ada klakson, tidak ada lampu rem yang berpendar panjang. Hanya mereka, dan sesekali mobil lain yang melaju terlalu cepat ke arah yang berlawanan.

“Mas,” kata Lena pelan, tangannya menyentuh lengan Sura. “Kok sepi?”

Sura tidak menjawab. Matanya fokus ke depan, tangannya mengencangkan pegangan di setir.

“Ayah, itu apa?” Raka menunjuk ke arah langit dari jendela belakang.

Asap. Tipis, tapi nyata — mengepul dari arah perumahan mereka.

Sura menekan pedal gas.

Rumah mereka masih berdiri waktu mereka tiba.

Tapi di ujung jalan, tetangga mereka — pak Heru, yang setiap pagi selalu menyapu halaman — berdiri dengan cara yang tidak wajar. Kepalanya menoleh ke arah suara mobil Sura. Dan matanya—

“Masuk.” Sura memotong mesin, mendorong pintu. “Lena, bawa Raka masuk. Sekarang.”

“Mas—”

“Sekarang, Len.”

Lena menggandeng Raka, berlari ke pintu depan. Sura mengikuti, membalikkan kunci dua kali, menutup semua tirai.

Malam itu, mereka bertiga duduk di lantai ruang tengah, mendengarkan suara-suara di luar yang semakin tidak bisa ia jelaskan.

Hari pertama, Sura masih yakin ini akan berlalu.

Hari ketiga, persediaan mulai menipis. Ia keluar sekali — cepat, hati-hati — mengambil apa yang bisa ia ambil dari rumah tetangga yang sudah kosong.

Hari kelima, Lena mulai demam.

Sura tidak tahu kapan tepatnya — mungkin waktu ia keluar hari ketiga, mungkin dari celah jendela yang tidak sempurna tertutup. Yang ia tahu hanya satu: Lena yang malamnya masih menggosok rambut Raka, besok paginya sudah tidak mengenali namanya sendiri.

Dan Raka — anak tujuh tahun yang dua minggu lalu merengek minta es krim di bandara — hanya duduk di sudut kamar, memeluk lutut, menatap ibunya dengan mata yang terlalu tua untuk usianya.

Sura mengikat mereka berdua. Tangannya gemetar, tapi ia tidak berhenti.

Mereka masih di sini, pikirnya. Masih bisa sembuh. Pasti bisa.

Ia bicara pada mereka setiap hari. Bercerita tentang liburan yang baru saja mereka lewati, tentang es krim Raka, tentang tawa Lena di pesawat. Seolah suaranya bisa menarik mereka kembali dari tempat yang tidak ia mengerti.

Tapi hari ketujuh datang.

Dan Sura sadar — mereka tidak kembali. Mereka tidak akan kembali.

Yang tersisa hanya tubuh yang bergerak tanpa mengenalinya, dan suara-suara yang tidak lagi menyebut namanya.

Ia duduk di lantai garasi, punggung bersandar di ban mobil. Di tangannya, jerigen bensin yang ia temukan di gudang belakang.

Ia tidak menangis. Sudah tidak ada air mata yang tersisa.

Maaf, Len. Maaf, Nak.

Ayah tidak sanggup.

Ia berdiri. Membuka tutup jerigen.

Api pertama sudah mulai menyala di sisi kanan rumah waktu ia mendengar suara langkah di luar pagar.

Sura tidak peduli. Tangannya tetap bergerak, menuang bensin di sepanjang dinding garasi.

“Hei! Ada orang di sana?”

Suara laki-laki. Sura tidak menoleh.

Langkah itu semakin dekat, lalu berhenti di depan pagar. Sura mendengar napas tertahan — dua orang, bukan satu.

“Sura?”

Kali ini ia menoleh. Seorang laki-laki berdiri di luar pagar, perempuan hamil besar di sampingnya. Wajah yang ia kenal — tetangga dari blok sebelah.

Arka. Dan istrinya, Dara.

“Sura, ayo — kita harus pergi sekarang—”

“Pergi.” Suaranya keluar datar, tanpa emosi. “Tinggalkan aku.”

Arka tidak bergerak. Matanya menyapu garasi — jerigen di tangan Sura, api yang mulai menjalar di sisi rumah. Lalu ke dalam rumah, ke arah suara yang terdengar dari balik dinding.

Hening sejenak.

“Mana Lena?” tanya Arka pelan. “Mana Raka?”

Sura tidak menjawab.

Arka menatapnya lama. Dan di matanya, Sura melihat sesuatu yang tidak ia inginkan — bukan ketidaktahuan. Bukan kebingungan.

Pemahaman.

Arka mengerti.

Dan tetap membuka pagar, melangkah masuk, meraih lengan Sura.

“Lepas.” Sura mencoba meronta. “Lepas, Arka — biarkan aku—”

“Tidak.” Suara Arka tidak keras, tapi tidak ada celah di sana. “Kamu tidak pergi sendirian malam ini.”

“Mereka masih di dalam—”

“Sura.”

Satu kata. Tapi cara Arka mengucapkannya — pelan, berat, penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Sura bantah — membuat kakinya berhenti.

Dara menyentuh bahunya dari sisi lain, tangannya yang gemetar menggenggam lengannya erat.

Sura menatap rumahnya sekali lagi. Api mulai menjalar lebih jauh, menelan sisi kanan bangunan. Di dalam, suara-suara itu masih terdengar.

Lalu diam.

Jerigen terlepas dari tangannya.

Arka menariknya pergi. Sura tidak melawan lagi — bukan karena menyerah, tapi karena tidak ada lagi tenaga untuk apa pun.

Lihat selengkapnya