Hujan halus masih turun waktu mereka sampai di reruntuhan dermaga. Bau laut bercampur darah. Di beberapa gudang tua, lampu minyak berkedip samar — menimbulkan bayangan panjang yang menelan langkah mereka.
Damar merosot di salah satu tumpukan peti, mengusap tangan yang berdarah sambil menahan napas. Panah itu menembus bahunya; luka masuknya sempit, tapi dalam. Setiap gerakan membuat napasnya meletup tajam di dada.
Naya duduk di dekatnya, badan kecilnya gemetar, tetapi matanya menahan agar tidak runtuh. Ia melindungi suara — menjaga nada — seolah ketenangan itu bisa menutupi rasa sakit yang menggerogoti sahabatnya.
Untuk beberapa saat keduanya hanya diam — hanya suara hujan dan napas Damar yang tertahan.
"Kamu ingat tempat pertama kali kamu patroli dulu?" bisik Naya akhirnya. "Di taman tempat anak-anak bermain di Rumah Kita."
Damar menutup mata, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Aku ingat… kamu bawa roti sampai tiga bungkus, cuma supaya bisa 'kebetulan' lewat depanku," katanya pelan, masih sempat menggoda di tengah rasa sakitnya.
Naya mendengus kecil, menatapnya sebal. "Aku cuma kasihan waktu itu. Kamu kurus banget."
"Kasihan, ya?" Damar terkekeh lemah. "Sekarang kamu malah nyuruh aku kuat."
Keduanya terdiam sebentar — lalu Naya tersenyum, kali ini tanpa pura-pura.
Di sekeliling, suara langkah dan bisik-bisik sesekali memecah sepi — jejak Ordo Cakrawala masih jauh, tapi cukup untuk membuat setiap daun dan papan terdengar seperti ancaman.
Damar menatap Naya lama. Darah di bahunya masih mengalir pelan, tapi genggaman tangannya pada tangan Naya erat. Naya menoleh ke Damar, napasnya masih tersengal, darah di bahu sahabatnya mengering sebagian, tapi matanya mulai kehilangan fokus. Dia menahan tangis, sambil memeluk peta di pangkuannya, mencoba menenangkan diri.
Damar membuka mata, menatap Naya dengan susah payah. Bibirnya bergerak pelan.
“Nay…”
“Ssst. Jangan banyak gerak.”
“Mbak Dara…” napasnya tersendat. “…jangan lupa kasih tau dia… aku ketemu lagi sama Tante Mira.”
Sudut bibirnya terangkat sedikit — senyum yang hampir tidak terlihat.
Lalu matanya menutup.
Naya mengangguk, menahan sesuatu yang hampir pecah di matanya.
Malam semakin pekat. Hujan sudah reda, meninggalkan aroma laut yang lembap. Damar mulai kehilangan fokus — matanya berat, napasnya tidak teratur.
Tidak bisa berlama-lama di sini, pikir Naya. Harus ada yang datang.
Tiba-tiba, suara langkah berat terdengar di antara reruntuhan dermaga.
Naya menegang, meraba pipa besi tua sebagai pegangan. Suara itu makin dekat—bukan langkah tergesa, tapi juga bukan langkah asing.
Lalu, sebuah suara parau memecah sunyi, bergetar antara lega dan tak percaya.
“Damar…? Ya Tuhan, Damar—lihatlah kau sekarang.”
Seberkas cahaya senter menembus gelap, menyingkap sosok pria tua namun tegap. Wajahnya lelah, diselimuti debu dan waktu, tapi matanya masih bersinar — ada sesuatu di sana yang membuat Naya tidak bisa mengalihkan pandangan. Sesuatu yang familiar, tapi tidak bisa ia beri nama.
Damar mendengar suara itu. Berusaha membuka matanya, “Mas… Arka,” Damar merintih pelan, napasnya tercekat antara sakit dan kelegaan. Sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Naya masih terpaku di tempatnya. Suara debur ombak dan napas berat Damar berpadu di telinganya, tapi semua terasa jauh. Arka melangkah mendekat, wajahnya diterpa cahaya senter yang goyah.

Ia berhenti di hadapan Naya, menatapnya lama, lalu menyentuh pipinya perlahan. Senyumnya lembut — ada kehangatan di sana yang tak bisa ditiru siapa pun, seolah menyalurkan seluruh rasa aman dan cinta yang menenangkan hati Naya.
"Reno! Lila! Bantu anak ini!" serunya.
Dua sosok lain muncul dari kabut — orang-orang tua yang wajahnya penuh luka dan debu, tapi gerakannya sigap. Mereka mengangkat Damar perlahan, membopongnya dengan sehelai terpal darurat.
Naya memperhatikan Arka yang mengatur segalanya dengan tenang — suaranya tidak panik, gerakannya terlatih. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering menghadapi malam-malam seperti ini.
"Di sebelah utara ada pos kecil," ujar Arka sambil memberi isyarat. "Kami masih menyimpannya… untuk yang tersesat."
Naya hanya bisa menatap, antara tak percaya dan tak sanggup menahan haru. Saat mereka berjalan menembus kabut, lampu minyak di tangan Arka menari kecil, menerangi jalan menuju pos darurat di balik reruntuhan.
Malam sudah turun ketika mereka tiba. Dinding pos itu retak di beberapa sudut, atapnya ditambal seadanya — tapi lampunya menyala, dan itu cukup. Damar segera dibawa ke ruang belakang — tubuhnya pucat, napasnya pendek. Seorang perawat lapangan memberi tanda pada Naya untuk menunggu di luar.
Di ruangan yang temaram itu, hanya Naya dan Arka yang tersisa. Suara detak jam rusak terdengar lebih nyaring daripada kata-kata yang belum berani diucapkan.
Naya menatapnya lama. Ada banyak yang ingin ia tanyakan — tapi yang keluar hanya,
"Kau... Arka?"